Maudy Ayunda, Jubir Presidensi G20: Lulusan Stanford, Pernah Masuk Forbes

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 8 April 2022

Indolinear.com, Jakarta – Maudy Ayunda ditunjuk menjadi juru bicara pemerintah untuk Presidensi G20 Indonesia.

Terpilihnya Maudy Ayunda ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate dalam konferensi pers.

Plate berharap, Maudy Ayunda sebagai publik figur kalangan milenial, mampu menjangkau masyarakat luas, terumtama millenial dan generasi z.

“Guna mendukung penyelenggaraan komunikasi publik presidensi G20, saya ingin memperkenalkan Maudy Ayunda sebagai jubir pemerintah untuk Presidensi G20 Indonesia,” ucap Johny dikutip dari Tribunnews.com (06/04/2022).

Adapun tugas menanti Maudy Ayunda sebagai jubir yakni menyampaikan informasi terkait pelaksanaan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi G20 Indonesia.

Seperti diketahui, KTT G20 akan dihadiri sejumlah pemimpin anggota G20, baik para kepala negara dan kepala pemerintahan.

“Yang kedua menyiapkan perkembangan pertemuan-pertemuan working group, engagement group dan side event pada presidensi G20 Indonesia secara rutin.”

“Sehingga masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia dapat mengikuti perkembangan dan substansi agenda Presidensi G20 Indonesia,” tutur Plate.

Lantas siapa sosok Maudy Ayunda?

Wanita bernama asli Ayunda Faza Maudya itu lahir di Jakarta, 19 Desember 1994.

Selain menjadi aktris, Maudy juga dikenal sebagai penyanyi dan menulis lagi.

Meskipun hidup di dunia entertainment, Maudy tak meninggalkan kewajiban pendidikannya.

Hal itu terbukti ketika ia menempuh jenjang perkuliahannya di dua perguruan tinggi luar negeri ternama.

Maudy merupakan lulusan mahasiswi program sarjana Philosophy, Politics and Economics University of Oxford dan lulusan Master of Business Administration dan Master of Arts in Education dari Stanford University.

Maudy mengaku sebagai pribadi yang suka belajar.

Hal tersebut terungkap di salah satu video wawancaranya dengan Najwa Shihab.

Mulai Karir Aktris di Tahun 2000-an

Maudy mengawali karirnya sebagai aktris di film berjudul Untuk Rena di tahun 2005 dan berperan sebagai Rena.

Awal karir itu berhasil membuat namanya makin dikenal hingga meraih penghargaan sebagai Pemeran Utama Wanita Terpilih di Festival Film Jakarta 2006.

Hingga saat ini, ia telah main 13 film. Film-film yang ia bintangi pun berhasil menjadi film yang populer, seperti Perahu Kertas (2012), Refrain (2013), Habibie & Ainun 3 (2019), dan lainnya.

Sukses di dunia seni peran, Maudy melebarkan sayapnya ke dunia tarik suara. Ia telah merilis tiga album solo, dua album soundtrack, dan 13 singel.

Selain aktif berakting dan bernyanyi, ia juga menjadi bintang iklan untuk sejumlah produk. Seperti Laurier (2012), Good Day (2015), Lux (2017), dan masih banyak lagi.

Masuk Daftar 30 Forbes Under 30 Asia 2021

Maudy Ayundah menjadi satu diantara anak muda Indonesia yang masuk jajaran Forbes 30 Under 30 Asia 2021.

Seperti diketahui, Forbes 30 Under 30 Asia adalah deretan nama anak muda di bawah usia 30 tahun yang dinilai berpengaruh dan dipilih Forbes melalui proses kurasi yang ketat.

Maudy masuk dalam kategori Entertainment and Sports.

Dalam paparannya, Forbes menjabarkan rentetan prestasi Maudy Ayunda, mulai dari karier hingga pendidikannya.

Forbes menyoroti Maudy yang berhasil meraih penghargaan Female Singer of the Year dan terpilih mengisi soundtrack bahasa Indonesia untuk film Moana.

Selain itu, dijabarkan pendidikan Maudy yang merupakan lulusan jurusan Filosofi, Politik dan Ekonomi Universitas Oxford juga lulus dari jurusan Bisnis dan Pendidikan di Stanford.

Peduli dengan Pendidikan Indonesia

Maudy ternyata memilik kepedulian sendiri terhadap pendidikan di Indonesia.

Hal itu terungkap saat ia berbincang dengan YouTuber Jerome Polin bulan Desember 2021.

Dalam obrolannya, Maudy Ayunda memberikan komentar terkait penerapan pendidikan di Indonesia selama ini.

Menurutnya, di Indonesia masih terdapat kekurangan soal budaya belajar.

“Yang paling pertama lah aku perhatikan di pendidikan Indonesia dibandingkan tempat lain yang pernah aku exposure, kurangnya kayak budaya cinta belajar,” ucap Maudy.

Bagi Maudy, memiliki budaya cinta belajar merupakan hal yang sangat penting.

Baginya belajar merupakan hal yang menyenangkan.

“Budaya yang bener-bener melihat, belajar adalah hal yang penting banget dan menyenangkan sebenernya,” ujar Maudy.

Maudy menuturkan, ia pernah membaca buku tentang pendidikan di Finlandia.

Menurut penelitian di negara Finlandia, terdapat dua buku yang dibaca oleh masing-masing pelajar setiap harinya.

Dari buku yang ia baca tersebut, Maudy bisa mengambil kesimpulan.

Warga Finlandia telah memiliki keinginan untuk mencari tahu soal ilmu tanpa harus disuruh.

Dikatakannya, sikap warga Finlandia tersebut berdasarkan dari budaya dan turun temurun.

“Jadi di sana tanpa disuruh ada rasa ingin tahu, ada keinginan untuk bertanya, ada keinginan untuk mencari tahu informasi,” ujar Maudy.

Lanjut, Maudy menuturkan, apabila masyarakat Indonesia memiliki keinginan untuk belajar maka kurang lebih akan seperti dirinya dan Jerome Polin.

Namun, ia tak ingin disebut sebagai orang yang jenius, lantaran sejak kecil ia hanya mengaku suka belajar.

“Menurut aku kalau itu gimana caranya bisa bangun, anak-anak bisa punya keinginan interinsik dan mereka bisa enjoy belajar itu kayak kita sih sebenernya,”

“Dan aku nggak ngerasa aku jenius dan aku pinter, cuman aku suka belajar aja,” ucap Maudy. (Uli)