Mastur, Senjakala Tukang Cukur Pitingan Di Pasar Tradisional Cilacap

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Jumat, 14 Februari 2020

Indolinear.com, Jakarta – Namanya Mastur. Ia selama puluhan tahun mencari nafkah sebagai juru cukur rambut. Tempat kerjanya, bukan di salon. Tetapi di tengah pasar tradisional di antara pedagang sayur mayur.

Mastur selalu mengenakan peci hitam yang seakan menegaskan bahwa waktu ia dilahirkan tidak punya jarak kelewat panjang dengan masa ketika peci ditandakan Soekarno sebagai simbol nasionalisme bagi laki-laki Indonesia. Usia Mastur 75 tahun. Ia telah menjalani hidup sebagai juru cukur rambut selama 47 tahun, lebih dari separuh umurnya.

Seminggu sekali, saban hari Kamis, mastur membuka lapak cukur rambutnya bergantian dari satu pasar ke pasar lain di Kabupaten Cilacap. Mengayuh sepeda, alat-alat cukur miliknya yakni gunting, tondhes, sisir serta semprotan untuk membasahi rambut tersimpan di tas yang ia jepit di papan boncengan.

Di hari Kamis Kliwon, Mastur akan membuka lapak di Pasar Kesugihan, berganti ke Kamis Manis ia berpindah ke Pasar Lebeng, sedang saat Kamis Pahing ia ke Pasar Maos. Upah yang dia dapat dari jasa cukur rambut, terkadang Rp5.000, seringkali Rp7.000, paling banyak Rp10.000.

“Kula mboten ngarani. Seumpamane ditangleti pinten, tetap mboten purun ngeregani,” kata Mastur dalam bahasa Jawa yang berarti ia tidak pernah meminta tarif, berapapun uang yang diberikan pelanggan ia terima, dilansir dari Merdeka.com  (12/02/2020).

Mastur bercerita, ada masanya jasa cukur rambutnya pernah ramai. Ia mengenang, dua puluh tahun lampau, sebelum ia pergi membuka lapak ke pasar, beberapa pelanggan sudah mengantre di depan kediamannya di Tipar Wetan, Kecamatan Kesugihan. Keramaian itu tinggal jadi kenangan manis, digantikan oleh waktu yang lebih banyak duduk termangu, tak juga datang pelanggan yang ditunggu.

“Kula nyukur ping kali tok. Wau 7000-an” kata Mastur yang berarti ia hanya mencukur dua kali dan mendapat upah Rp14.000 saat ditemui merdeka.com di lapaknya di Pasar Kesugihan.

Tergerus Zaman                                                 

Zaman yang serba modern, diakui Mastur membuat jasanya tak lagi diminati. Para pengguna jasanya, rata-rata lansia yang telah menjadi pelanggan sejak awal tahun 1970-an. Sedang anak-anak muda, ia tahu lebih memilih ke salon. Salon ia anggap lebih bersih dan nyaman bagi anak-anak muda.

Umar Kayam, Budayawan dan Sastrawan, pernah menyebut tukang cukur seperti Mastur sebagai cukur pitingan. Ia menulis di kumpulan kolom yang lantas dibukukan berjudul Satrio Piningit ing Kampung Pingit bahwa sang tukang cukur dan yang dicukur memiliki status sosial seragam sama-sama melarat. Tukang cukur pitingan nyaris tidak bermodal apa-apa dalam menjalankan usahanya.

Meski acapkali sepi, Mastur meyakini menjadi juru cukur rambut adalah jalan hidupnya. Ia pernah mencoba jadi petani juga pengangkut pasir di Sungai Serayu, tapi ia kembali lagi jadi tukang cukur.

Bagi Mastur, setiap orang memiliki takdir masing-masing, keluarganya misalnya dimulai dari ayahnya mencari nafkah sebagai juru cukur rambut dan anaknya kini juga menjalani profesi yang sama. Bermodal gunting, tondhes, sisir serta semprotan untuk membasahi rambut, begitulah keluarga Mastur bertahan menjalani hidup.

“Kados niku,” kata Mastur singkat menutup kisah hidupnya sebagai tukang cukur. (Uli)

INDOLINEAR.TV