Masalah Dengan Rem Sedang Menghantui Semua Pembalap Yamaha

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 30 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Sebuah keputusan besar dan berisiko tinggi harus diambil Maverick Vinales kala melakoni MotoGP Styria akhir pekan kemarin (23/8). Pembalap Monster Energy Yamaha itu terpaksa lompat dari tunggangannya yang tengah melaju di kecepatan di atas 200 kilometer per jam. Penyebab ia lompat karena sistem pengereman motor tak berfungsi.

Beruntung sang joki tak alami cedera, meski kecewa pascainsiden yang membuat red flag seri kelima itu. Tak sekadar gagal melanjutkan balapan, Vinales juga merugi karena turun peringkat.

Walau baru terjadi di lap ke-17, nyatanya masalah rem itu sudah dialami Vinales pada awal balapan. “Saya mulai kehilangan tekanan rem depan. saya terus mencoba dan sekali melebar. Saya berkata, ini akan sulit. Seharusnya saya berhenti. Tapi saya ingin finis, setidaknya mengambil satu poin. Saya membuat tiga lap yang sangat pelan dan lagi-lagi tanpa rem. Hingga Quartararo, Rossi dan Petrucci menyusul saya,” kata Vinales mengutip dari Liputan6.com (28/08/2020).

Lepas itu, Vinales mengklaim masih dapat melakukan perbaikan. Bahkan dikatakannya lebih baik dari Quartararo maupun Rossi. Dan, tiba-tiba di tikungan pertama (T1) sirkuit itulah permasalahan puncak Vinales terjadi.

“Di T1 remnya meledak. Saya rasa ada bagian yang rem yang hilang saat saya menekan rem. Motor tidak dapat berhenti dan jelas tidak mungkin. Saya mengerti betul bahwa remnya rusak. Jadi saya putuskan untuk melompat,” terangnya lagi.

Vinales pun akhirnya menjatuhkan diri saat kecepatan motor berada di kecepatan 230 kpj. Tepat di depan Alex Marquez (Repsol Honda).

Penunggang Honda RC213V itu pun mengakui bahwa ada peranti berwarna hitam yang jatuh dari motor Vinales – indikasi yang memperkuat faktor kegagalan sistem pengereman Yamaha M1.

“Itu adalah sesuatu yang belum pernah saya alami sepanjang berkarir di MotoGP. Terkadang (pengereman) memang sedikit menurun. Tapi, saya masih bisa memainkan tuasnya. Hari inipun saya melakukan beberapa penyesuaian dari tikungan ke tikungan,” jelas Vinales usai balapan.

Catatan menariknya, Vinales menjadi satu-satunya pembalap MotoGP yang menggunakan rem Brembo standar. Sementara lainnya, termasuk Rossi, Quartararo dan Franco Morbidelli sudah memakai spek terbaru.

Hanya saja ketiganya masih beranggapan rem anyar itu bermasalah – terjadi peningkatan suhu hingga membuat rem tidak berfungsi secara maksimal. Ini pula yang akhirnya membuat Vinales memilih perangkat paling basic.

“Vinales tidak melakukannya (menggunakan rem baru), karena dia tidak pernah mengalami peningkatan suhu tinggi seperti yang diderita pembalap lain, akhir pekan lalu. Ketika dia mencobanya, dia tidak mendapatkan pengereman seperti keinginannya. Karena dua alasan ini kami memutuskan untuk menggunakan sistem konvensional. Ada kemungkinan dia tidak dapat mendinginkan sistem pengereman karena berada di belakang pembalap lain. Baru setelah lap kelima dia merasakan sesuatu, namun coba mengaturnya. Tapi, apa yang terjadi pada Vinales bukanlah sesuatu yang diharapkan. Untungnya dia baik-baik saja, karena itu yang paling penting,” ungkap direktur tim Monster Yamaha, Massimo Meregalli.

Pendapat Rossi

Menurut Rossi, hal itu tidak hanya terjadi pada Yamaha. Walau menurutnya ada faktor paling logis, kenapa hal ini begitu mendera mereka.

“Trek ini sangat parah soal pengereman. Semua pembalap kesulitan. Jika Anda lihat, semua orang memiliki saluran udara besar di pengeremannya. Tapi sepertinya lebih menderita. Kami coba meningkatkannya di trek lurus karena motor kami pelan. Jadi kami coba mengerem sangat keras dan menekannya lebih banyak. Ini alasan mengapa Yamaha paling menderita dengan masalah ini,” tutur Rossi.

Kendati begitu, Rossi sendiri tak mengalami masalah berarti sepanjang balapan kemarin. “Memang tidak fantastis, tapi remnya kali ini baik dan tidak ada masalah khusus,” sahut Rossi.

Pandangan itu nyatanya tak sama dengan Quartararo maupun Morbidelli. Diungkap Quartararo, setiap saat rem motornya terasa kian lembut (kurang pakem), sampai ada satu saat di mana tidak ada pengereman. “Sangat berbahaya dan bikin tidak percaya diri,” kata Quartararo.

“Di trek ini kami melakukan hard braking lebih banyak (dari sirkuit lain). Pada tikungan pertama, ketiga dan empat, kamu mengerem keras dan lama, membuat rem kepanasan. Parahnya lagi kalau berada di belakang pembalap lain, membuatnya semakin stress. Kami mendapat masukan dari Brembo untuk memakai sistem itu setelah melihat permasalahan pada Quartararo. Tahun lalu kami tidak mengalami banyak masalah tentang ini. Tapi MotoGP selalu maju setiap tahun dan semakin cepat. Mungkin tahun ini kami memberi tekanan lebih banyak pada rem dibanding sebelumnya karena motor lebih cepat,” kata Morbidelli.

Klasemen Sementara

Di balapan itu, Morbidelli sendiri masih dapat menyelesaikan balapan di urutan ke-15. Sementara Quartararo hanya finis ke 13 atau berada tiga peringkat di bawah Rossi yang menuntaskan MotoGP Styria di urutan sembilan.

Meski begitu, posisi Rossi di klasemen terdegradasi dua peringkat. Dari sebelumnya kelima menjadi ketujuh. Sebaliknya, walau finis di belakang Rossi, Quartararo tetap bertengger di puncak klasemen sementara MotoGP 2020 dengan torehan 70 poin.

Kerugian paling besar justru dialami Vinales. Kejatuhannya kali itu membuat pembalap Spanyol terlempar dari tiga besar. Posisi pengguna nomor 12 turun dari posisi tiga ke lima.

Dengan perbekalan angkanya sekarang, kesempatan Vinales berburu gelar juara dunia menjadi lebih berat. Ditambah lagi jika ada kerusakan pada mesin M1 yang terbakar tersebut.

Jika itu terjadi, maka Vinales akan kehilangan dua dari lima mesinnya untuk tahun ini – salah satunya sudah dibawa ke Jepang saat laga di Jerez (Spanyol).

“Saya harap tidak merusak mesin ini. Jika itu terjadi, saya pikir ini akan jadi masalah. Brno adalah kesalahan. Begitu juga dengan Austria. Kami harus mengembangkan lebih banyak pada motor. Sekarang kompetitor jauh lebih cepat. Kami tidak tahu tentang Misano. Jadi, kami akan berusaha untuk tetap tenang karena tahu segala sesuatunya dapat berubah dengan cepat. makanya kami tidak boleh kehilangan fokus,” pungkas Vinales. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: