Martin Luther King Pimpin Demo Tolak Perang Vietnam

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 11 Juni 2019

Indolinear.com, Chicago – Martin Luther King dikenal sebagai tokoh Amerika Serikat yang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM). Ia telah berhasil memperjuangkan perlawanan terhadap diskriminasi terhadap warga berkulit hitam di AS, lewat pidato terkenalnya bertajuk “I Have a Dream”.

Selain itu, tepat pada 51 tahun silam, 25 Maret 1967, King kembali beraksi. Kali ini, untuk memperjuangkan prinsip perdamaian dan kemanusiaan. Ia dan massanya melakukan aksi demonstrasi untuk menolak Perang Vietnam — perang yang terjadi antara Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). AS turun tangan membantu Vietnam Selatan.

King dan sekitar 5.000 orang demonstran turun ke jalan raya Chicago. Mereka mengecam pengiriman 3.500 tentara AS ke medan tempur Perang Vietnam.

Dalam orasinya, King menyatakan bahwa langkah Pemerintah AS di bawah komando Presiden Lyndon B Johnson untuk ikut Perang Vietnam merupakan suatu bentuk penghinaan terhadap warganya. Bagi King, perang ini malah menambah korban jiwa, menghamburkan uang dan mengalihkan prioritas program pemerintah untuk domestik dalam membantu warga kulit hitam di Negeri Paman Sam.

“Kemiskinan, masalah urbanisasi di perkotaan cenderung terabaikan ketika senjata perang menjadi obsesi negara. Padahal Perang Vietnam tak terkait keamanan negara kita, komitmen menjadi tidak jelas. Ini merupakan rezim yang terlalu reaktif, tidak jelas, dengan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah hancur,” ujar King, dilansir dari Liputan6.com (09/06/2019).

“Amerika adalah bangsa yang besar. Namun jujur, saya rasakan, negara kita arogan. Kita merasa uang kita bisa melakukan apa saja. Kita arogan, merasa bahwa uang kami punya misi ilahi untuk mengawasi seluruh dunia,” imbuh dia.

Ini merupakan yang kali pertama bagi King untuk berdemonstrasi melawan perang. Tapi ini merupakan kesekian kalinya King menyerukan tolak perang. Pada 5 Juli 1965, ketika mengisi kuliah umum di Virginia, King mengatakan dengan tegas bahwa “Perang Vietnam harus dihentikan”. King dan rekan mencoba menghubungi presiden untuk menyampaikan aspirasi bahwa kebijakan luar negeri tersebut berbahaya.

Kemudian pada 25 Februari 1967 dalam konferensi anti-perang di California, King bersama para senator yang oposisi terhadap perang, mengatakan bahwa terlibat perang merupakan tindakan tak bermoral.

Perang Vietnam atau Perang Indocina Kedua merupakan perang yang terjadi antara 1957 dan 1975 di Vietnam. Perang ini merupakan bagian dari Perang Dingin antara dua kubu ideologi besar, yakni Komunis yang dipimpin Uni Soviet dan SEATO yang dipimpin Amerika Serikat.

Jumlah korban yang meninggal diperkirakan lebih dari 280.000 jiwa di pihak Vietnam Selatan dan lebih dari 1.000.000 jiwa di pihak Vietnam Utara. Selain itu, perang ini telah mengakibatkan eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain, terutama ke Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Barat lainnya, sehingga di negara-negara tersebut bisa ditemukan komunitas Vietnam yang cukup besar.

Setelah berakhirnya perang ini, kedua Vietnam tersebut pun bersatu pada tahun 1976 dan Vietnam menjadi negara komunis. (Uli)