Martin Luther King Jr Pimpin Aksi Damai Anti-Perang Vietnam

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 27 Maret 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT REPRODUKSI. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Jakarta – 25 Maret 1967, Pendeta Martin Luther King, Jr memimpin aksi damai dengan tuntutan ‘anti-perang’ di jalanan Chicago, Amerika Serikat.

Aksi ini ditujukan kepada pemerintah Amerika Serikat yang saat itu dinilai terlibat dalam perang Vietnam.

Martin Luther King Jr membawa sekitar 5000 orang ke jalan dan melakukan pawai demonstrasi secara damai.

Dalam pidatonya kepada peserta aksi, King menyatakan bahwa Perang Vietnam adalah “penistaan terhadap semua yang diperjuangkan Amerika”, dilansir dari Tribunnews.com (25/03/2020).

Argumen dan Kritik

Selain keberatan moralnya terhadap perang, King Jr berpendapat bahwa perang seharusnya diganti dengan memberikan uang dan perhatian ke program domestik untuk membantu kaum miskin kulit hitam.

King Jr juga sangat dikritik oleh para pemimpin hak-hak sipil terkemuka lainnya karena berusaha menghubungkan hak-hak sipil dan gerakan anti-perang.

Pada dasarnya, King Jr sudah sejak lama menentang keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam

Namun pada awal pidatonya, ia menghindari topik-topik tersebut untuk menjauhkan dirinya dari sentimen sesama pejuang hak sipil yang pro terhadap kebijakan perang Presiden AS, Johnson.

Pendirian yang kuat membawa King Jr terus berlanjut pada sikap anti-perang.

Atas desakan sejumlah organisasi se-ide, King Jr secara terbuka setuju menentang kebijakan perang Amerika dan berada pada garis oposisi di antara masyarakat.

Kontroversi Pidato Terkenal AntiPerang

Pidato terkenal Martin Luther King Jr tentang anti-perang vietnam yang terkenal berjudul “Beyond Vietnam: A Time to Break Silence”

Pidato ini disampaikan King Jr tanggal 4 April 1967, tepat satu tahun sebelum dia dibunuh.

Dalam pokok pidatonya, King Jr menentang segala kebijakan yang berkaitan dengan Perang Vietnam.

Alasan lain yang dikemukakan King adalah bawah Perang Vietnam menguras habis uang rakyat yang menurutnya bisa digunakan untuk kesejahteraan sosial di masyarakat.

Adapun Kongres AS banyak menggelontorkan anggaran untuk militer dan sedikit untuk program-program anti-kemiskinan yang muncul pada saat bersamaan.

Kongres Amerika Serikat semakin banyak membelanjakan untuk militer dan semakin sedikit untuk program-program anti-kemiskinan pada saat yang bersamaan. Dia menyimpulkan aspek ini dengan mengatakan, “Sebuah negara yang terus-menerus menghabiskan lebih banyak uang untuk pertahanan militer daripada program peningkatan sosial mendekati kematian spiritual.”

Media The New York Times saat itu menyebut pidato ini ” justru mengaitkan masalah sulit dan rumit yang justru tidak akan menemukan solusi, tetapi kebingungan yang lebih dalam”.

Namun demikian, sejarawan Vincent Harding yang mengutip rekan King Jr, James Bevel, mengutarakan bahwa pidato anti-perang tersebut-lah justru pidato paling penting yang pernah diutarakan oleh King Jr dalam menentang kebijakan pemerintah AS.

Di tengah banyaknya anggaran yang masuk di bidang pertahanan daripada sosial King Jr berpendapat:

“Sebuah negara yang terus-menerus menghabiskan lebih banyak uang untuk pertahanan militer daripada program peningkatan sosial, mendekati kematian spiritual.” (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: