Marthin Luther King Pimpin Demo Menentang Perang Vietnam

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Senin, 26 April 2021
loading...

Indolinear.com, Chicago – Pada 25 Maret 1967, Martin Luther King, Jr. memimpin aksi demonstrasi anti-perang di Chicago, Amerika Serikat (AS). Demo tersebut diikuti oleh 5.000 demonstran.

Dikutip dari Liputan6.com (24/04/2021), King menyampaikan sebuah pidato kepada para demonstran bahwa Perang Vietnam adalah “penghujatan terhadap semua yang diperjuangkan Amerika.”

King mulai menyatakan bahwa ia menentang keterlibatan Amerika di Vietnam pada musim panas tahun 1965. Ia juga berpendapat bahwa perang mengalihkan uang dan perhatian dari program domestik untuk membantu orang miskin — terutama yang berkulit hitam.

Karena opininya, ia dikritik oleh beberapa pemimpin hak-hak sipil terkemuka karena berusaha menghubungkan hak-hak sipil dengan gerakan anti-perang.

King meninggal setahun kemudian pada 4 April 1968 tepat setelah jam 6 sore di usia 39 tahun. Ia dibunuh dengan cara ditembak mati saat berdiri di balkon kamar hotelnya yang terletak di lantai dua Motel Lorraine, Memphis, Tennessee.

Pada saat itu, ia sedang berada di Memphis untuk mendukung pemogokan pekerja sanitasi dan sedang dalam perjalanan untuk makan malam saat peluru menghantam rahangnya dan memutuskan sumsum tulang belakangnya. King dinyatakan meninggal setelah tiba di rumah sakit Memphis.

Konspirasi Tentang Pembunuhan King

Telah dinyatakan bahwa pembunuh King adalah James Earl Ray. Banyak konspirasi yang mengatakan bahwa bukan Ray yang membunuh King. Ray sendiri juga mengatakan bahwa ia tidak bersalah atas pembunuhan King dalam pengadilan.

Ray mengatakan bahwa ia adalah bagian dari konspirasi yang lebih besar dan juga mengklaim bahwa pada tahun 1967, seorang pria misterius bernama “Raoul” mendekatinya dan merekrutnya ke dalam perusahaan gunrunning. Pada 4 April 1968, ia sadar bahwa ia akan menjadi orang yang akan dituduh dalam pembunuhan King dan kabur ke Kanada. Mosi Ray serta permintaannya selama 29 tahun berikutnya untuk diadili lagi ditolak.

Selama tahun 1990-an, istri dan anak-anak King berbicara di depan umum untuk mendukung pernyataan Ray bahwa ia tidak bersalah dan berspekulasi tentang konspirasi pembunuhan yang melibatkan pemerintah dan militer AS. Dalam pikiran para konspirasis, otoritas AS terlibat secara tidak langsung.

Direktur FBI J. Edgar Hoover terobsesi dengan King. Menurut Hoover, King adalah seseorang yang berada di bawah pengaruh komunis.

Selama enam tahun terakhir hidupnya, King mengalami penyadapan dan pelecehan terus menerus oleh FBI. Sebelum kematiannya, ia juga diawasi oleh intelijen militer AS yang diminta untuk mengawasi King setelah ia secara terbuka mengecam Perang Vietnam.

King juga manyerukan feformasi ekonomi radikal pada tahun 1968, termasuk jaminan pendapatan tahunan untuk semua.

Selama bertahun-tahun, pembunuhan King telah diperika ulang oleh Komite Pemilihan Pemerintah untuk Pembunuhan, Tennessee, kantor jaksa wilayah, dan tiga kali oleh Departemen Kehakiman AS.

Semua investigasi tetap berakhir dengan Ray yang membunuh King.

Komite DPR AS mengakui bahwa ada kemungkinan konspirasi tingkat rendah yang melebihkan satu atau lebih kaki tangan Ray. Namun, tidak menemukan bukti secara pasti yang membuktikan teori tersebut.

Motif ray membunuh King adalah kebencian. Menurut keluarga dan teman-temannya, ia adalah seorang rasis yang secara blak-blakan memberi tahu bahwa ia akan membunuh King. (Uli)