Mardani Mengajak Parlemen Dunia Peduli Masalah Penjajahan Di Palestina

FOTO: dpr.go.id/indolinear.com
Rabu, 27 November 2019

Indolinear.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Wakil Presiden Kiyai Ma’ruf Amin dan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi dengan tegas menolak pernyataan dukungan Amerika Serikat (AS) terhadap Israel yang ingin membangun pemukiman Yahudi di Tepi Barat wilayah Palestina yang diduduki Israel kini. Pernyataan tegas itu kemudian menuai apresiasi dari Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Mardani.

“Saya mengapresiasi Kyai Ma’ruf dan Ibu Menlu yang menolak pernyataan AS karena mendukung Yahudi Israel yang terus membangun pemukiman ilegal di wilayah Palestina. Kecaman ini datang tidak dari Indonesia saja tapi Uni Eropa juga,” ujar Mardani, dilansir dari Dpr.go.id (26/11/2019).

Tak hanya itu, politisi F-PKS ini juga sekaligus mengecam sikap AS yang semakin memperkeruh konflik di wilayah Timur Tengah antara Palestina-Israel. “Semenjak tahun 2016, Presiden Trump semakin nampak tidak pernah menginginkan penyelesaian konflik Palestina-Israel padahal sudah ada resolusi PBB tentang two state solution yang telah disepakati,” imbuh Mardani.

Lebih lanjut Mardani mengungkapkan, sikap Presiden Trump itu diperlihatkan jelas ketika tahun 2018 lalu AS dengan sengaja membuka secara resmi Kedutaan Besar (Kedubes) negara AS untuk Israel di Yerusalem (14/5/2018) dan kini malah mendukung Israel terus membangun pemukimannya di wilayah Tepi Barat Palestina.

“AS selalu konsisten untuk tidak konsisten dalam kebijakan luar negerinya, terutama yang terkait masalah konflik timur tengah seperti antara Palestina-Israel padahal jelas melanggar hukum internasional,” papar legislator daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta I itu.

Melihat kondisi tersebut, Mardani mengajak untuk seluruh Senator dan Parlemen di dunia untuk mengecam sikap AS yang terus meretakkan solusi damai Palestina-Israel yang terus digagas selama ini. “Saya mengajak seluruh Parlemen di dunia untuk peduli masalah penjajahan di tanah Palestina oleh Israel yang di dukung oleh AS. Pemerintah AS tidak konsisten dan membuat ‘fractured’ solusi damai antar keduanya,” pungkasnya.

Sebelumnya, diketahui hampir 600 ribu warga Israel tinggal di permukiman Tepi Barat-yang dibangun Israel setelah mengambil alih wilayah itu dalam Perang Enam Hari pada 1967. Kawasan itu juga merupakan rumah bagi hampir 3 juta warga Palestina yang hidup di bawah kendali pasukan keamanan Israel, menurut Biro Pusat Statistik Otoritas Palestina. Hampir 2 juta lebih warga Palestina tinggal di Gaza-jalur sepanjang 25 mil yang dikelola oleh kelompok militan Hamas dan dikenai blokade Israel-Mesir selama 12 tahun. (Uli)

INDOLINEAR.TV