Makin Sering Berinteraksi, Atlet Bakal Sering Terkena Kewajiban Tes Covid-19

FOTO: kompas.com/indolinear.com
Minggu, 2 Mei 2021
loading...

Indolinear.com, Tokyo – Penyelenggara Olimpiade Tokyo punya ukuran tersendiri dalam memantau pergerakan para atlet di perhelatan Olimpiade Tokyo.

“Ada level kontak yang akan kami ukurkan,” kata CEO Tokyo 2020, Seiko Hashimoto, dilansir dari Kompas.com (01/05/2021).

Ukuran itu berarti semakin atlet sering berinteraksi, atlet bakal sering terkena kewajiban tes Covid-19.

“Kami berupaya memperkecil kasus positif Covid-19 yang tidak terdeteksi yang menyebabkan virus bertransmisi,” imbuh Seiko Hashimoto.

Kurang dari 100 hari jelang pembukaan Olimpiade Tokyo pada 23 Juli 2021, Jepang masih mencatatkan angka kematian tinggi pandemi Covid-19.

“Angka kematian mencapai 10.000 orang,” kata pernyataan terkini Kementerian Kesehatan Jepang, Rabu (14/4/2021). Angka kematian itu, bila dibandingkan dengan berbagai negara di dunia mungkin lebih kecil. Namun, angka itu menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Asia.

Pada saat sama, angka pandemi Covid-19 mencatatkan pertumbuhan hingga 1.000 kasus di Osaka. “Ini peningkatan jumlah yang tinggi kali pertama di Osaka,” kata pernyataan pemerintah Kota Osaka.

Pada pertengahan Februari 2021, Jepang melakukan vaksinasi untuk para tenaga medis.

Namun begitu, program vaksinasi melambat lantaran pasokan dari Pfizer yang terkendala distribusinya.

Sementara, vaksinasi untuk kelompok lanjut usia, di atas 60 tahun, berlangsung mulai 12 April 2021.

Jika para atlet jadi mendapat vaksinasi, mereka mesti menanti urutan setelah vaksinasi para lansia.

Terbaru, PM Yoshihide Suga pada Minggu (25/4/2021), mendeklarasikan kembali kondisi negara darurat Covid-19 hingga 11 Mei 2021 untuk Tokyo.

Kebijakan sama berlaku juga untuk tiga prefektur di barat Jepang yakni Osaka, Kyoto, dan Hyogo. (Uli)