M Sardjito Sebagai Pahlawan Nasional: Ubah Kandang Kuda Menjadi adi Rumah Sakit

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 16 November 2019

Indolinear.com, Jakarta – Almarhum Prof. Dr. M. Sardjito mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah Indonesia.

Pemberian gelar diberikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada perwakilan keluarga di Istana Negara.

Dyani Poedjioetomo yang merupakan cucu Sardjito mengaku bersyukur perjuangan kakeknya diapresiasi dengan diberi gelar Pahlawan Nasional.

Menurutnya, kakeknya merupakan sosok yang menjadi panutan keluarga dan telah berjuang untuk kepentingan masyarakat di bidang kesehatan.

“Beliau memiliki moto dengan memberi, kami menjadi kaya. Maksudnya kita jangan segan-segan memberi, karena itu akan membuat kita lebih kaya lagi,” ucap Dyani saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir dari Tribunnews.com (14/11/2019).

Sardjito yang lahir di Magetan, Jawa Timur pada 13 Agustus 1889 dan wafat di Yogyakarta 6 Mei 1970.

Sesama hidupnya, Ia memiliki sederet riwayat perjuangan di bidang kesehatan dan dunia pendidikan kedokteran.

Ketika masa revolusi Indonesia dan terbatasanya tenaga medis untuk menunjung perjuangan. Ia bersama Ki Hajar Dewantara dan Prof. Notonagoro mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran.

Pada tahun 1943, Sardjito menjadi Ketua Izi Hakokai (Himpunan Pengabdi Masyarakat) Semarang dan pada 1945, ditunjuk menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung.

Saat menjabat Ketua PMI Bandung, Sardjito mengambil alih Institut Pasteur Bandung atas perintah Menteri Kesehatan saat itu yang dijabat Dr. Boentaran.

Ia pun langsung memindahkannya ke Klaten, Jawa Tengah, karena mendapatkan serangan dari tentara Inggris.

Saat itu, Sardjito mendirikan rumah sakit sederhana di rumahnya Desa Sedang Jimbung, Klaten serta menyediakan vaksin dan obat untuk mendukung kekuatan angkatan perang maupun rakyat pada 1946.

Seiring waktu berjalan serta kondisi saat itu, Sardjito kemudian memindahkan fakultas maupun rumah sakit dari Klaten dan Solo ke Yogyakarta.

Karena keterbatasan fasilitas, Sardjito menggunakan kandang kuda Keraton Yogyakarta untuk diubah menjadi rumah sakit.

Sementara, kamar-kamar abdi dalem Keraton, dimanfaatkan menjadi laboratorium dan pendopo Kadipaten Mangkubumen menjadi ruang kuliah.

Sardjito yang merupakan anak dari pasangan Sajit dan Karminah, juga terlibat dalam pendirian serta pengembangan beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

Di antaranya, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Universitas Jenderal Sudirman, dan Universitas Islam Indonesia.

Ia pun, merupakan rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Desember 1949-1961.

Tanda Kehormatan yang dimiliki Sardjito, yaitu :

  1. Bidang Gerilya pada 1958
  2. Bintang Mahaputera Utama pada 1961
  3. Bintang Mahaputera Adipradana pada 1970
  4. Satyalancana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan pada 1961
  5. Satyalancan Karya Satya pada 1961 (Uli)

INDOLINEAR.TV