Lukis Wajah Di Bali Yang Digemari Wisatawan Australia Sampai Eropa

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Senin, 20 Mei 2019

Indolinear.com, Bali – Erwin Bastomi mengayunkan tangan kanannya dengan menatap sebuah foto yang diletakan di tangan kirinya. Kemudian memulai melukis.

Pelukis bergenre realis ini penuh kehati-hatian saat melukis wajah seorang turis di halaman depan Art Shopnya bernama Argent Galery. Berlokasi di Jalan Danau Toba, nomor 14, Sanur, Denpasar Selatan.

“Itu lukisan pesanan tamu saya dari Australia,” ucapnya, dilansir dari Merdeka.com (18/05/2019).

Erwin pria asal Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini, sudah menggemari dunia lukis semenjak dirinya duduk di bangku SMP. Dari tangannya sudah tak terhitung berapa lukisan yang sudah dibuat dan kemudian diekspor ke luar negeri, mulai dari Australia sampai ke Negara Eropa seperti Belanda dan Jerman.

“Kalau yang diekspor ke Australia dan Eropa biasanya lukisan style Bali atau panorama pantai. Dalam seminggu bisa kita kerjakan lima lukisan dalam sebulan bisa puluhan selesai. Rata-rata omzet ekspor bisa Rp 30 sampai Rp 40 juta,” ujarnya.

Erwin juga menjelaskan, untuk saat ini lukisan yang digemari atau lagi tren oleh tamu mancanegara adalah lukisan foto wajahnya sendiri atau foto keluarga. Walau, untuk kondisi saat ini, ia mengaku orderan lukisannya wajahnya masih tergolong sepi.

“Iya rata-rata dua hari sekali, iya ada saja tamu yang pesan. Kalau untuk lukisan foto saya bisa kerjakan dalam waktu dua hari,” jelasnya.

Untuk kisaran harga lukisan foto, Erwin menyampaikan untuk ukuran standar 60×80 untuk tamu mancanegara dalam per wajah ia patok seharga Rp 1 juta, untuk tamu lokal hanya Rp 500 ribu, itupun bisa dinego.

“Kalau yang lebih besar bisa Rp 1 juta lebih, tapi saat ini memang lagi sepi. Kalau misalkan sepi kita bikin stok-stok aja. Karena lukisan tidak basi. Misalkan tidak laku iya suatu saat akan laku,” jelasnya.

Erwin juga mengucapkan, bahwa penjualan lukisannya saat ini sudah agak lesu. Berbeda dengan 3 atau 4 tahun yang lalu sangat ramai.

“Sudah sejak tahun yang lalu sudah sepi. Kalau 3 atau 4 tahun yang lalu lumayan, dulu dari tamu-tamu Belanda dalam setiap 6 bulan, kita bisa mengirim 60 lukisan,” ceritanya. (Uli)