Lukas Kustaryo, Pejuang Kemerdekaan Di Karawang Yang Kepalanya Dihargai 10 Gulden

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Senin, 26 Oktober 2020

Indolinear.com, Jakarta – Lukas Kustaryo, seorang pejuang kemerdekaan yang kerap membuat tentara Belanda ‘kerepotan’.Komandan bertubuh kecil nan cerdik itu kerap beraksi di sekitar wilayah Karawang hingga Bekasi.

Dikenal ‘licin’ seperti belut, KaptenLukas Kustaryo terus berusaha memukul mundur para tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Dengan gaya gerilya yang khas, Belanda pun kerap kesal akibat kesulitan untuk menawan Lukas.

Di masa lalu,Lukas Kustaryo kerap bergerilya di sekitar Desa Rawagede, Rengasdengklok hingga Karawang dan Bekasi. Hal itu dilakukan untuk melucuti senjata dan membunuh pasukan “wong Londo”.

Di zaman penjajahan Jepang, Kapten Lukas bergabung dengan pasukan Peta. Pasca kemerdekaan Ia kembali bergabung dengan Brigade III/Kian Santang Purwakarta pimpinan Letkol Sidik Brotoatmodjo. Selanjutnya Ia menjadi Komandan Kompi Batalion I Sudarsono/Kompi Siliwangi atau yang dikenal sebagai Kompi Siliwangi Karawang-Bekasi.

Lukas Kustaryo lahir di Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada tahun 1920. Ia menghabiskan sisa kehidupannya di Cipanas, Jawa Barat, 8 Juni 1997 hingga umur 76 tahun, dilansir dari Merdeka.com (24/10/2020).

Bergerilya Menggunakan Seragam Tentara Belanda

Salah satu yang membuat tentara Hindia Belanda kewalahan adalah aksi gerilyanya yang selalu dilakukan malam hari dengan menyamar menggunakan seragam dari pasukan KNIL. Ia kemudian menghancurkan pos-pos inti dari para serdadu Belanda.

Kapten Lukas pun kembali membuat tentara Belanda naik pitam ketika dirinya kerap menyabotase kereta api. Kereta tersebut diketahui mengangkut logistik hingga persenjataan untuk para tentara penjajah.

Hingga saat itu sempat terjadi blockade di sekitar Ibu Kota Jakarta yang membuat para pejuang kemerdekaan mencari tempat persembunyian yang aman di kawasan Karawang. Termasuk Lukas yang bersembunyi di Rawagede.

“Lukas pernah membajak kereta api yang berisi senjata dan amunisi bagi pasukan Belanda dari Karawang menuju Jakarta. Peristiwa itulah yang membuat pasukan Belanda menjadi kesal bukan kepalang kepada Lukas.” kata Saih, seorang saksi kemerdekaan dari Rawagede.

Kepalanya Dihargai 10 Ribu Gulden

Akibat aksi tak terdeteksinya itu, Lukas pun diburu oleh para tentara Belanda. Ia dianggap mengancam keberadaan para pasukan. Bahkan saking berbahayanya, pasukan KNIL dan tentara Belanda lainnya menggunakan tank serta menghargai kepala sang kapten sebesar 10 ribu gulden.

“Kapten Lukas Kustaryo kepalanya dihargai 10 ribu gulden oleh Belanda. Kustaryo dan pasukannya yang dicari-cari Belanda itu menjadikan Desa Rawagede (sekarang Desa Balongsari Kecamatan Rawamerta) sebagai basis gerilya.” tulis di akun Historia.

Penyerangan 9 Desember 1947

Pada 9 Desember 1947 pasukan Belanda yang terdiri dari sekitar 300-an serdadu militer KNIL memblokade jalan desa. Mereka pun siap memburu Lukas.

Saat itu tentara datang dengan menembaki warga desa yang hendak beraktivitas pagi sekitar pukul 04.00 WIB dan 06.00 WIB pagi. Mereka menggeledah seluruh rumah serta menembakinya untuk menemukan ‘si Begundal Karawang’ Lukas Kustaryo hingga larut malam.

Namun apa yang dicarinya tidak membuahkan hasil. Penyisiran pun terus berlangsung hingga malam hari. Pasukan Belanda menembaki siapa pun yang berani melawan hingga menelan korban jiwa sebanyak 431 orang, termasuk orang-orang yang tidak dikenal identitasnya.

Lolos dari Maut

Sehari sebelum kejadian tersebut, Lukas pun memilih bersembunyi di desa Pasirawi yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari Rawagede. Ia menghindari pasukan Belanda yang murka hingga akhirnya kapten Lukas pun lolos.

Namun pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor Alphons J.H. Wijnen tetap tidak menemukan Lukas. Ia melampiaskan kekesalannya dengan menembaki para warga terutama remaja laki-laki yang tutup mulut akan keberadaan Lukas bersama pasukannya yang tergabung ke dalam Markas Gabungan Pejuang (MGP). (Uli)