Lima Mitos Dan Misteri Candi Borobudur, Termasuk Soal Menyentuh Isi Stupa

FOTO: cnnindonesia.com/indolinear.com
Rabu, 8 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Nama Candi Borobudur sedang ramai dibicarakan dalam beberapa hari ke belakang.

Gara-garanya adalah rencana kenaikan harga tiket menaiki stupa Candi Borobudur yang mencapai Rp750 ribu untuk wisatawan lokal. Harga itu dipatok khusus untuk wisatawan yang ingin menaiki stupa demi menjaga kekokohan bangunan.

Meski belum final, namun rencana kenaikan harga ini memicu pro dan kontra. Banyak masyarakat yang menganggap harga tersebut terlalu mahal bagi wisatawan lokal.

Terlepas dari pro dan kontra yang bergulir, kemegahan Candi Borobudur memang tak bisa dipungkiri lagi. Upaya untuk melestarikannya juga menjadi tak kalah penting.

Candi Borobudur termasuk ke dalam salah satu situs warisan dunia UNESCO. Status cagar budaya ini diberikan ke candi Buddha ini pada 1991 silam.

Candi ini dibangun pada masa pemerintahan wangsa Syailendra sekitar tahun 800-an Masehi. Candi ini menjadi salah satu kuil Buddha terbesar di dunia.

Selayaknya bangunan kuno lainnya, Candi Borobudur juga menyimpan sejumlah mitos dan misteri yang dipercaya masyarakat. Berikut di antaranya, dilansir dari Cnnindonesia.com (07/06/2022).

  1. Kunto Bimo

Sebuah arca Buddha di area Candi Borobudur disebut Kunto Bimo. Mitos menyebutkan, siapa pun yang bisa menyentuh arca di dalam stupa berongga ini akan memperoleh keberuntungan.

Kunto Bimo sendiri berasal dari kata ‘kunto’ yang dalam bahasa Jawa berarti ‘ngento-ento’ atau permintaan. Sementara ‘Bimo’ adalah Bima yakni salah satu tokoh Pandawa yang memiliki sifat pantang menyerah.

Jika digabungkan, Kunto Bimo mengandung arti permintaan dengan pantang menyerah dan berharap mendapat hasil.

Hanya saja, mitos ini muncul diduga berkat akal-akalan oknum petugas candi pada 1950-an. Arkeolog mendiang R. Soekmono yang sempat memimpin proyek pemugaran candi pada 1971-1983 menyebut mitos tidak berkaitan dan tidak diajarkan dalam agama Buddha.

Pun kegiatan menyentuh bagian dalam stupa bisa membawa dampak buruk terhadap kelestarian bangunan candi.

  1. Singa Urung

Saat Anda akan memasuki kompleks candi, Anda akan menemukan dua arca berbentuk singa di kanan dan kiri tangga candi. Dua arca singa ini disebut Singa Urung.

Terdapat mitos bahwa apabila sepasang kekasih melewati antara dua arca tersebut, hubungan mereka akan kandas, gagal atau ‘urung’ dalam bahasa Jawa.

  1. Relief tersembunyi

Berkunjung ke Candi Borobudur berarti mengunjungi situs bersejarah dengan hamparan relief di sepanjang dinding candi.

Menghimpun informasi dari berbagai sumber, ada dua relief tersembunyi dan jarang diketahui orang. Relief berada di bagian bawah dan di pondasi yang tersembunyi.

Relief disebut Kamadhatu yang terdiri dari 160 relief dari Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab akibat.

  1. Arsitek misterius

Keberadaan Borobudur sendiri dianggap sebagai sebuah keajaiban. Pasalnya, di zaman itu belum ada teknologi mutakhir untuk melahirkan sebuah bangunan megah seperti ini. Batu-batu didesain sedemikian rupa sehingga tetap tegap berdiri meski tanpa pelekat seperti semen atau tulangan besi.

Siapa arsitek atau kontraktor di balik bangunan ini? Rupanya ini masih jadi misteri. Namun, masyarakat percaya bahwa Gunadarma adalah sosok jenius dibalik kemegahan Borobudur.

Masyarakat juga meyakini Gunadarma telah menjelma sebagai pegunungan Menoreh yang berada tak jauh dari candi.

  1. Jam raksasa

Bangunan candi juga diyakini sebagai sebuah jam raksasa yang mengandalkan cahaya matahari. Stupa puncak atau stupa terbesar digunakan sebagai titik penanda jam.

Saat terkena sinar matahari, puncak stupa akan menimbulkan bayangan dan jatuh di salah satu stupa di tingkat bawahnya.

Tak hanya itu, ternyata sang arsitek mampu memperhitungkan arah mata angin dengan tepat dan diaplikasikan pada pembangunan candi. Candi Borobudur pun jadi penunjuk arah yang sangat tepat. (Uli)

loading...