Lima Mitos Alat Kontrasepsi yang Banyak Beredar, Bagaimana Faktanya?

FOTO: idntimes.com/indolinear.com
Jumat, 13 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Alat kontrasepsi berfungsi untuk menunda atau bahkan mencegah kehamilan. Di samping itu, beberapa jenis alat kontrasepsi seperti kondom bahkan dapat mencegah penularan penyakit menular seksual.

Sayangnya, masih banyak informasi yang keliru seputar alat kontrasepsi. Apalagi topik mengenai ini masuk cukup tabu untuk diperbincangkan. Agar tidak terjebak dalam misinformasi, mari kupas berbagai mitos seputar alat kontrasepsi berikut ini yang dilansir dari Idntimes.com (12/05/2022).

  1. Mitos 1: IUD menyebabkan rasa tidak nyaman saat berhubungan seks

Mitos ini dibantah oleh seorang dokter ahli kesuburan dan reproduksi di New York, Amerika Serikat, Jaime Knopman, MD, seperti dilansir Women’s Health Magazine. Ia menyebutkan bahwa kehadiran intrauterine device (IUD) atau alat kontrasepsi dalam rahim bahkan tidak akan terasa sama sekali.

Karenanya, bisa disimpulkan bahwa pemakaian IUD tak menimbulkan rasa sakit pada pasangan yang berpotensi mengurangi kenyamanan saat berhubungan intim. Alat kontrasepsi ini juga tidak memengaruhi gairah seks pada perempuan yang menggunakannya.

  1. Mitos 2: Konsumsi kontrasepsi oral menyebabkan kegemukan

Ini merupakan mitos mengenai kontrasepsi oral yang banyak berkembang di tengah masyarakat. Banyak perempuan menyalahkan pil KB, salah satu jenis kontrasepsi oral, sebagai dalang utama di balik kenaikan berat badan mereka yang signifikan.

Sebuah studi yang dimuat dalam Journal of Women’s Health pada 2014 menyangkal mitos ini. Studi tersebut menyebut bahwa tidak ada satu pun partisipan yang mengalami kenaikan berat badan usai mengonsumsi kontrasepsi oral. Penemuan yang sama juga dilaporkan oleh studi literatur dalam publikasi Cochrane Library tahun 2015.

  1. Mitos 3: Alat kontrasepsi berisiko mengganggu kesuburan

Ketika memakai alat kontrasepsi seperti IUD untuk pertama kalinya, tubuh perempuan perlu beradaptasi selama beberapa bulan. Salah satu manifestasinya bisa terlihat dari siklus menstruasi menjadi tidak lancar.

Namun, ini tak sama sekali berpengaruh terhadap kesuburan para pengguna. Ini dikonfirmasi oleh sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Contraception pada tahun 2011. Studi tersebut memaparkan bahwa orang yang pernah menggunakan alat kontrasepsi memiliki peluang kehamilan yang sama dengan mereka yang belum pernah menggunakannya.

  1. Mitos 4: Kontrasepsi oral memicu kanker

Kontrasepsi oral kerap menjadi sasaran empuk mitos di tengah masyarakat. Selain dituduh sebagai penyebab kenaikan berat badan, kontrasepsi oral seperti pil KB juga dikhawatirkan memicu kanker serviks dan kanker payudara.

Dinas Komunikasi dan Informatika atau Diskominfo membuat pernyataan resmi melalui laman resminya bahwa ini merupakan disinformasi atau informasi yang salah. Dilansir Medical News Today, risiko kanker yang ditimbulkan kontrasepsi oral masih sangat rendah.

  1. Mitos 5: Konsumsi morning after pill seperti melakukan aborsi

Kontrasepsi darurat atau yang juga dikenal dengan sebutan morning after pill sering dianggap sebagai praktik aborsi. Padahal, pil KB darurat bertujuan untuk menunda atau mencegah ovulasi, peristiwa pelepasan sel telur dari ovarium ke tuba falopi. Ini kemudian meminimalkan peluang pembuahan di dalam rahim.

Pil KB darurat jelas tak sama dengan obat aborsi sebab kerjanya bukan mengakhiri kehamilan yang telah terjadi. Namun, ini tergolong obat keras yang hanya bisa dikonsumsi menggunakan resep dokter.

Minimnya pengetahuan mengenai alat kontrasepsi menjadi pemicu berkembang pesatnya mitos di masyarakat. Karenanya sikap skeptis dan berpikir kritis diperlukan untuk mengetahui kebenaran di balik misinformasi yang banyak beredar. (Uli)