Lima Fakta Gavric Momcilo, Bocah 8 Tahun Yang Jadi Tentara

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 22 Agustus 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Gavric Momcilo adalah tentara termuda dalam sejarah. Di usia delapan tahun ia sudah angkat bedil dan resmi jadi serdadu Serbia.

Momcilo lahir pada 1 Mei 1906, di sebuah desa di Loznica, Serbia barat. Ia anak kedelapan dari 11 bersaudara. Pada 1914, tentara Austria-Hungaria dari Divisi Garda Depan Penjaga Kroasia ke-42 menyerang kampung halamannya, membumihanguskan tempat itu, nyawa sejumlah warga melayang.

Perang Dunia I jadi ajang adu kuat dua kekuatan global, yakni Entente Powers (Inggris, Prancis, Serbia, dan Kekaisaran Rusia, Italia, Yunani, Portugis, Rumania, dan Amerika Serikat) dan Central Powers (Jerman, Austria-Hungaria, Turki Ottoman dan Bulgaria).

Kala itu, ribuan bocah ikut bertempur di garis depan. Berdasarkan data aparat Inggris saja, seperti dikutip dari Liputan6.com (20/08/2021), ada sekitar 250 ribu serdadu di bawah usia 18 tahun yang bertempur di pihak mereka selama perang global pertama. Itu belum angka final.

Berikut 5 fakta terkait Gavric Momcilo, tentara termuda dalam sejarah:

  1. Tragedi Berdarah dan Dendam Kesumat

Penyerbuan tentara Austria ke kampung halaman Gavric Momcilo juga merenggut orang-orang terdekatnya.

Ayah, ibu, nenek, tiga saudara perempuan, dan empat saudara laki-lakinya tewas mengenaskan. Tempat tinggal mereka tinggal arang. Gavric Momcilo lolos dari maut karena pada saat kejadian ia sedang bersama pamannya di lokasi berbeda.

Mengetahui kondisi tragis keluarganya, Gavric ke Pegunungan Gucevo. Dalam kondisi syok dan panik, ia mencari pertolongan. Lalu, ia bertemu dengan Divisi Artileri ke-6 Militer Serbia, yang kebetulan ada di sana.

Mendengar apa yang terjadi, sang komandan, Mayor Stevan Tucovic menerima Gavric, dan memerintahkan salah satu serdadu di unitnya, Milos Misovic, menjadi wali bagi bocah malang itu.

Kepada pasukan Serbia, Gavric mengungkapkan lokasi musuh. Malam itu juga, serangan balasan dilancarkan. Bocah itu bahkan ikut andil dalam serangan bombardir ke pihak lawan. Dalam sehari dapat jatah menembakkan tiga meriam ke arah musuh.

  1. Diangkat Jadi Kopral di usia 8 Tahun

Tak lama setelah berpartisipasi dalam Pertempuran Cer di mana Serbia mengalahkan pihak Austria-Hungaria, Gavric Momcilo resmi diangkat jadi kopral. Dia dapat seragam khusus untuk tubuhnya yang mungil.

Namun, nasib baik tak selalu di pihaknya. Pada 1915, Serbia kalah perang. Negara itu pun jatuh ke pihak lawan. Sejumlah tentara terpaksa melarikan diri, ke Yunani, lewat jalur tikus yang sempit, di tengah udara dingin yang beku.

Gavric ikut melarikan diri. Atas keberanian dan daya tahan yang ia tunjukkan saat pelarian, membuatnya diganjar medali kehormatan.

Mereka tiba di Kota Thessaloniki, Yunani. Di sana lah, Gavric akhirnya menyelesaikan pendidikan dasarnya yang sempat terputus karena perang. Setelah militer Serbia dipulihkan, ia kembali bergabung dan ikut terjun berperang dalam Pertempuran Kaymakchalan pada 1916.

  1. Naik Pangkat Jadi Sersan

Suatu ketika Gavric Momcilo bertemu dengan komandan militer Serbia Zivojin Misic.

Sang panglima takjub melihat bocah itu ada di antara tentara yang bertempur di garis depan. Ia pun menaikkan pangkat Gavric menjadi sersan.

Perang Dunia I diwarnai jatuh bangun dan insiden yang bikin cedera. Namun, Gavric Momcilo tak menyerah. Pada akhir Perang Dunia I, ia pun akhirnya menyaksikan kelahiran Yugoslavia.

Setelah pembebasan Beograd, Mayor Tucovic memastikan, Gavric akan menerima bantuan dari misi Inggris yang membantu anak-anak yatim perang di Serbia.

Dia dikirim ke Inggris, dan menyelesaikan pendidikannya di Henry Wreight School di Faversham, Kent.

Lulus pada 1921, Gavric kembali ke Serbia, menyusul perintah yang dikeluarkan Perdana Menteri Serbia Nikola Pasic.

Di Trbusnica, Gavric akhirnya bersatu kembali dengan tiga saudara laki-lakinya yang selamat dari pembantaian pada tahun 1914

  1. Jasanya Tak Diakui, Malah Dibui

Pasca-perang, Gavric Momcilo tak lagi menyandang bedil dan menggunakan seragam militer.

Di Beograd, ia belajar desain grafis dan mengambil SIM mobil. Ia juga mengakhiri masa lajang dengan menyunting gadis pujaannya, Kosara. Mereka diketahui bekerja di pabrik kertas Vapa.

Saat wajib militer diberlakukan pada 1929, Gavric kemudian melapor ke barak tentara di Slavonska Pozega.

Ia mengaku pernah bergabung dalam dinas militer, terjun ke garis depan, terluka dalam pertempuran, serta menerima medali penghargaan.

Meski bukti dokumentasi dibeber, keterangannya tak digubris. Gavric justru dijebloskan dalam penjara, atas tuduhan menghindar dari wajib militer.

Gavric Momcilo juga dibui dua kali di tengah Perang Dunia II. Pertama, tentara Nazi mengirimnya ke kamp konsentrasi di Belgrade. Jelang perang berakhir, Gavric kembali ditahan atas tuduhan bekerja sama dengan Nazi. Untungnya, ia lolos dari hukuman mati.

  1. Tak Diaku di Negeri Sendiri, Dapat Pujian dari Orang Asing

Awalnya, kisah heroik Momcilo Gavric di tanah airnya. tak diakui. Penghargaan pertama justru datang dari luar negeri.Pada 1985, Presiden Prancis Mitterrand memberikan penghargaan kepadanya.

“Sayangnya Anda bukan tentara Prancis, jika iya, sebuah monumen akan dibangun untukmu di Champs-Élysées,” seorang jenderal konon berkata pada Momcilo Gavric, seperti dikutip dari Serbia.com.

Momcilo Gavric meninggal di Beograd tahun 1993, pada usia 87 tahun.

Akhirnya, monumen yang mengenang perjalanan hidupnya yang luar biasa didirikan di Pulau Korfu dan di Museum Jadar di Loznica.

Pada tahun 2014, sebuah jalan di Loznica menyandang namanya. Pada 2 April 2015, pemerintah Serbia memutuskan untuk membangun monumen di Beograd yang didedikasikan untuk Gavric Momcilo.

Gavric Momcilo akhirnya mendapat pengakuan yang pantas. (Uli)