Liliyana, Pahlawan Bulu Tangkis Yang Enggak Pernah Takut Kalah

FOTO: kompas.com/indolinear.com
Kamis, 1 Agustus 2019
loading...

Indolinear.com, Jakarta – “Kekalahan itu tidak memalukan, yang memalukan itu menyerah.” – Liliyana Natsir

Mungkin, hampir seluruh orang di negeri ini tak asing dengan nama tersebut. Bahkan, dunia bisa jadi juga telah mengenalnya. Ya, Liliyana Natsir adalah salah satu atlet bulu tangkis kebanggaan Tanah Air.

Kiprahnya dalam olahraga bulu tangkis dimulai sejak 1994. Saat itu ia masih berusia sembilan tahun dan bergabung dengan Persatuan Bulu Tangkis (PB) Pisok Manado.

Liliyana Natsir, bersama pasangannya Tontowi Ahmad, berhasil menyabet gelar juara lewat berbagai kompetisi baik nasional maupun internasional seperti Hat trick All England 2013- 2014, Juara Kejuaraan Dunia 2013 dan 2017, hingga medali emas Olimpiade Rio 2016.

Setelah 24 tahun berkarir dalam olahraga bulu tangkis, wanita yang akrab disapa Butet ini memutuskan ‘gantung raket’ alias pensiun pada Minggu, 27 Januari 2019 lalu.

Kendati demikian, gelombang semangat Liliyana masih tetap terasa. Ini dibuktikan saat dirinya menghadiri talk show pada Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2019 yang digelar di Bandung, Minggu, (28/7/2019).

Kehadirannya saat itu menyita perhatian ratusan peserta, orang tua, bahkan para pelatih. Mereka semua tampak antusias menyaksikan sang legenda bertutur tentang perjuangan hidupnya sebagai atlet bulu tangkis.

Tak lupa, atlet peraih medali emas Olimpiade pada 2016 Rio De Janeiro itu juga memberikan motivasi bagi seluruh peserta, baik yang belum berhasil lolos dari tahap screening, maupun yang berhasil melaju ke tahap turnamen.

“Bagi yang belum beruntung, namanya olahraga itu ada menang dan belum berhasil. Pada saat belum diterima bukan berarti gagal total. Kalian punya kesempatan untuk mencoba lagi tahun depan. Harus terus semangat untuk bisa mencoba lagi tahun depan. Jangan cepat kecewa,” tutur Butet, Dilansir dari Kompas.com (30/07/2019).

Demi melahirkan pebulu tangkis seperti Liliyana Natsir, PB Djarum yang merupakan organisasi di bawah Djarum Foundation rutin menggelar audisi beasiswa tiap tahunnya dan tahun ini ada lagi.

Khusus untuk tahun ini, bertepatan dengan ulang tahun PB Djarum ke 50, Djarum Foundation menyelenggarakan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu tangkis di lima kota yakni Bandung, Purwokerto, Surabaya, Solo Raya dan Kudus.

Proses seleksi difokuskan pada dua kelompok usia yakni U-11 (di bawah usia 11 tahun) dan U-13 (di bawah usia 13 tahun) baik putra dan putri. Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menuturkan rangkaian Audisi Umum yang diadakan setiap tahun ini merupakan upaya regenerasi atlet bulu tangkis Indonesia.

Langkah tersebut harus senantiasa dilakukan demi menghasilkan juara dunia masa depan serta meningkatkan prestasi Indonesia di panggung bulu tangkis dunia.

“Kami berharap, tahun ini bisa menemukan lebih banyak bakat super istimewa yang memiliki semangat serta daya juang tinggi untuk menjadi juara dunia dan kelak mengharumkan nama bangsa,” tutur Yoppy dalam keterangan resminya.

Kendati rutin dilaksanakan tiap tahun, namun untuk kali ini audisi akan sedikit berbeda. Jika pada 2018 terdapat tiga kategori, yakni U11, U13, dan U15, maka tahun 2019 hanya ada dua, yaitu U11 dan U13.

Manajer Tim PB Djarum, Fung Permadi menjelaskan, format tersebut dimaksudkan agar para pelatih di PB Djarum bisa sedini mungkin mengasah bakat yang dimiliki para atlet muda.

Hal tersebut juga untuk menjawab langkah dari Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang membuka kesempatan kepada atlet berusia lebih muda untuk bergabung dalam Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

“Ini penting karena persaingan di Pelatnas sangat ketat dan kami ingin ketika atlet-atlet PB Djarum masuk mereka sudah memiliki daya saing tinggi dan bermental,” jelas Fung Permadi.

Guna menjaring bibit-bibit bermental juara, saat pelaksanaan audisi maupun karantina, PB Djarum akan menerjunkan Tim Pencari Bakat yang dikomando oleh peraih dua gelar Juara Dunia The Badminton World Federation (BWF), Christian Hadinata.

Tim tersebut nantinya diberi tugas untuk memantau para atlet muda dengan bakat istimewa, mulai dari segi teknik, skill, hingga postur tubuh.

“Untuk fisik, tahun ini kami akan mencari pemain yang gesit, itu poin utama. Tapi, bila ada pemain yang memiliki bakat istimewa lainnya, kami juga membuka pintu untuk bergabung dan berlatih sebagai atlet PB Djarum,” terang Fung.

Adapun Tim Pencari Bakat terdiri dari para legenda bulu tangkis dan pelatih PB Djarum yakni Sigit Budiarto, Antonius Budi Ariantho, Lius Pongoh, Yuni Kartika, Maria Kristin, Luluk Hadiyanto, Hariyanto Arbi, Eddy Hartono, Engga Setiawan, Sulaiman, Ferry, dan Roy Djojo Effendy.

Komposisi nama-nama besar tersebut diyakini akan memberikan sinergi dalam menjaring bibit-bibit pebulu tangkis yang lebih berkualitas. Setelah lolos Audisi Umum dan bergabung dengan PB Djarum, para atlet muda akan masuk ke asrama PB Djarum di Kudus.

Di sana, mereka akan dilatih secara profesional oleh para pelatih mulai dari Engga Setiawan, Ellen Angelina hingga Hastomo Arbi.

“Di tahun pertama, selain berlatih mereka juga akan diberi kesempatan mengikuti lima hingga enam turnamen. Dari situ, kami melakukan evaluasi,” ujar Fung.

Nah, bagi yang berminat mengikuti Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu tangkis 2019 ini, bisa mendaftarkan diri secara online melalui laman www.pbdjarum.org, atau datang langsung, sehari sebelum pelaksanaan ke Gelanggang Olahraga (GOR) di setiap kota audisi. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: