Ledakan Bom Di Kedubes China untuk Serbia Picu Kemarahan Warga Tiongkok

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 7 Juni 2020
loading...

Indolinear.com, Beijing – Kota-kota besar di China tanggal 9 Mei 1999, 21 tahun silam, dilanda aksi demonstrasi besar-besaran. Hal itu sebabkan unjuk rasa warga yang tak terima akibat insiden bom di Kedutaan Besar Tiongkok yang berada di Beograd, Serbia.

Dikutip dari Liputan6.com (05/06/2020) dalam isiden bom tersebut mengakibatkan empat orang warga China kehilangan nyawa.

Ratusan siswa meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika dan anti-NATO berbaris di Shanghai, Chengdu, Guanghzou.

Di Beijing, sekitar 100.000 orang menyerbu distrik kedutaan, berkumpul di jalan-jalan yang berserakan batu dan pecahan botol dari protes sebelumnya.

Bus-bus penuh sesak dengan para siswa yang keluar dari kampus-kampus di seluruh kota. Para wartawan mengatakan pihak berwenang tampaknya sengaja mendorong tindakan tersebut.

Tempat tinggal Konsul Jenderal AS di barat daya kota Chengdu diserbu dan sebagian dibakar.

NATO mengatakan, para pilotnya mengenai kedutaan pada dini hari 8 Mei dengan bom yang dipandu secara presisi – mereka telah salah mengira kedutaan tersebut sebagai target militer yang sah.

Pers China menerbitkan foto-foto aksi unjuk rasa itu di halaman depan media tempat mereka bekerja.

Dewan Keamanan PBB dan duta besar Tiongkok menuduh NATO melakukan kejahatan perang.

Presiden Rusia, Boris Yeltsin, mengutuk pemboman itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan menyerukan untuk segera mengakhiri serangan udara di Serbia.

Televisi pemerintah Serbia melaporkan bahwa Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic telah menyampaikan simpati terdalamnya kepada China atas kematian tersebut.

Presiden Clinton telah memberikan penyesalan mendalam kepada orang-orang China, tetapi mengatakan pemboman itu adalah kecelakaan, bukan tindakan biadab.

Upaya Damai

Ketika negara-negara NATO berusaha menahan kerusakan akibat pemboman kedutaan, utusan khusus Rusia, Viktor Chernomyrdin, mengatakan bahwa konflik itu sendiri harus diselesaikan dengan cara politik secepat mungkin.

Dia berbicara setelah pembicaraan di Bonn dengan Kanselir Jerman, Gerhard Schröder, tentang garis besar rencana perdamaian negara-negara G8 untuk Kosovo.

Baik kanselir dan Chernomyrdin mengadakan pembicaraan terpisah dengan pemimpin Albania Kosovo, Ibrahim Rugova. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: