Kutukan Eks Pelatih Bikin Klub Eropa Ini Mandul 100 Tahun?

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Kamis, 22 Agustus 2019

Indolinear.com, Lisbon – SL Benfica atau Benfica adalah klub sepak bola ternama asal Portugal yang mencatatkan segudang prestasi.

Didirikan pada 28 Februari 1904, klub yang bermarkas di Stadion da Luz, Lisbon tersebut pernah memenangkan Piala Eropa (European Cup embrio Champions League) pada 1961 dan 1962. Namun, sejak itu, peruntungan Benfica mandek.

Meski pernah mencapai final Piala Eropa delapan kali — 1963, 1965, 1968, 1983, 1988, dan 1990 — serta final Europa League 2013 Benfica tidak pernah naik podium juara pertama. Konon, nasib buruk yang membayangi klub itu gara-gara sebuah kutukan.

Konon, seperti dikutip dari Liputan6.com (20/08/2019), kutukan diucapkan pelatih Benfica, Béla Guttmann.

Kala itu, ia berada di atas angin, klub asuhannya secara ajaib memenangkan Piala Eropa untuk kali keduanya secara berturut-turut, mengalahkan Real Madrid dengan skor 5–3.

Yakin dengan prestasinya, Guttmann pun meminta meminta kenaikan gaji sebesar 65 persen. Namun, permintaannya ditolak mentah-mentah oleh pihak Dewan Direksi Benfica.

Marah, kecewa, emosi, ia pun melontarkan kutukan. “Tidak bakal dalam 100 tahun dari sekarang, Benfica akan menjadi juara Eropa!”

Béla Guttmann sendiri adalah sosok yang berwarna. Ia lahir pada 1899 di Budapest, Hungaria. Ia sempat jadi penari sebelum akhirnya merumput di lapangan hijau.

Guttmann sempat bermain di sejumlah klub sepak bola, di Hungaria, Austria, hingga Amerika Serikat.

Berdarah Yahudi, Guttmann berhasil lolos dari pembantaian Holocaust, sementara banyak keluarga dan teman-temannya tak seberuntung dia.

Kemudian, ia menjadi pelatih sepak bola di Eropa dan Brasil. Selain piawai meramu strategi tim, Guttmann juga kerap memicu kontroversi. Misalnya pada 1953 ia hengkang dari AC Milan, setelah terlibat perselisihan dengan dewan klub.

“Saya telah dipecat meskipun saya bukan kriminal atau homoseksual. Selamat tinggal,” kata dia dalam konferensi pers.

Sosok Guttmann kemudian moncer setelah berhasil membawa FC Porto menjadi juara Liga Portugal. Mendapat tawaran yang lebih menggiurkan, ia kemudian melompat ke kubu lawan dan membantu membawa Benfica menjadi juara Piala Eropa pada 1961.

Di musim keduanya bersama Benfica, ia secara kontroversial memecat 20 pemain paling senior di klub. Sebagai gantinya ia memasukkan Eusebio, pemain muda berbakat kelahiran Mozambik.

Sebagai bagian dari generasi baru manajer sepakbola, Guttmann mendorong gaya bermain menyerang dan mengalir bebas dalam timnya.

“Aku tak peduli jika lawan membuat skor, sebab aku yakin kami akan mencetak lebih banyak gol,” kata dia. Setelah keluar dari Benfica, Guttmann berpindah-pindah klub di Uruguay.

Kutukan Terus Membayangi Benfica

Entah kebetulan atau bukan, sepeninggal Guttman, Benfica merana. Salah satu bintang yang dicetaknya, Eusebio yakin benar atas kekuatan kutukan sang pelatih.

Pada 1990, sebelum berlaga melawan AC Milan di final Piala Eropa di Wina, Eusebio berkunjung ke makam Guttmann di kota itu. Ia meletakkan karangan bunga di atas pusara, memohon agar sang pelatih menarik kutukannya.

Namun, upaya itu gagal.

Bahkan pada 2013, ketika Benfica berlaga di final Europa League, pelatih Jorge Jesus dan para pemainnya tak menganggap remeh kutukan itu.

“Kebanyakan pemain tak tahu soal data statistik itu. Hal tersebut hanya dongeng belaka,” kata Jesus.

Belakangan mereka kalah menyakitkan dalam adu pinalti, dengan skor 4-2 untuk Sevilla.

Mungkin di dunia sepakbola saat ini, di mana setiap sisi psikologis adalah kunci, kutukan Béla Guttmann dianggap “hantu” yang membayangi.

Jika kutukan Guttmann benar, maka Benfica baru akan memegang tropi juara pada 2062. Masih lama…. (Uli)