Kue Keranjang Tradisi Setiap Imlek

Jumat, 12 Februari 2016
loading...

Indolinear.com – Tahun baru Imlek 2567, yang ber-shio kera emas dirayakan warga Cina seluruh dunia dengan penganan paling khas: kue keranjang, dan salah satu yang paling terkenal adalah Kue Keranjang Nyonya Lauw.

Sebagaimana ketupat identik dengan lebaran, Imlek, tahun baru Cina, identik dengan kue keranjang.

Suratman adalah salah satu keturunan ketiga Ny. Lauw Nyim Keng alias Bu Siti, pendiri industri dodol tradisional yang memproduksi salah satu merk kue keranjang paling terkenal

Ia membantu kakaknya Lauw Kim Tay, yang bersama isterinya, Iin Lauw Kim kini mengelola perusahaan yang didirikan tahun 1962.

Suratman menjelaskan, selain kue keranjang biasa berukuran setengah kilogram, mereka juga memproduksi kue keranjang susun -yang dirangkai bertingkat-tingkat.

“Kue susun ini lebih untuk persembahyangan untuk arwah leluhur, baik di rumah atau juga di kelenteng, atau di vihara,” papar Suratman.

“Kalau yang standar, untuk dimakan biasa, ukurannya setengah kilo. Kalau yang susunan, ukurannya beda-beda. Nanti kalau sudah jadi, apa susun lima, susun tujuh, atau susun sembilan, baru ditimbang untuk dihitung harganya,” jelas Suratman pula, sambil menuntaskan kue-kue keranjang susun di salah satu ruang di lantai dua pabrik mereka.

Suratman sehari-harinya membantu kakaknya, Lauw Kim Tay, yang bersama isterinya, Iin Liauw Kim kini mengelola perusahaan yang didirikan ketika nenek mereka masih miskin itu.

Iin menjelaskan, kue keranjang Ny. Lauw sebagian besar dikemas dengan daun pisang, adapun yang dikemas dengan plastik, sangat sedikit.

“Yang dengan daun pisang itu, lebih wangi dan alami. Ya lebih asli,” katanya.

Masalahnya, pembuatan kue keranjang dengan daun pisang lebih rumit. “Lebih ribet, daunnya bisa robek atau gosong,” katanya.

Disebutkan, karena itu harga jual kue keranjang dengan kemasan tradisional, dengan daun, “sedikit lebih mahal, Rp38.000 per kilo. Kalau yang deibungkus plasti, Rp35.000 per kilogram.”

Iin menyebut, itu harga jual dari pihaknya langsung kepada pelanggan yang jumlahnya lebih dari 500 orang -kebanyakan perorangan, atau pengecer kecil.

“Saya tidak tahu berapa mereka menjualnya lagi, kata Iin.

Selain itu, ada pembeli eceran biasa, yang memesan beberapa kilogram saja.

Äda juga pelanggan, pemilik perusahaan. “Misalnya ada yang memesan 1,5 ton, untuk dibagikan ke karyawannya, ke saudara-saudaranya, ke orang yang tidak mampu, dan untuk sembahyangan,” Iin menutur.

Pabrik Ny. Lauw berada di sebuah pelosok Tangerang, di sebuah jalan kecil yang agak tersembunyi. Berada lebih dekat ke jalan utama, tempat produksi berbagai dodol lain, merangkap tempat transaksi dengan konsumen dan pengepakan. Iin menjelaskan, menjelang imlek, produksi dikonsentrasikan pada kue keranjang kendati produk lain tidak sama sekali dihentikan.

Pabrik utama berada lebih jauh ke dalam, berupa bangunan seluas 600 meter persegi, tempat kue keranjang diproduksi Sejumlah perempuan menyaring tepung ketan yang sudah mereka buat sendiri sebelumnya. Ada buruh lelaki yang memasak sirup gula aren dengan daun pandan di atas kuali-kuali besar.

Di bagian lain ada buruh yang menggunakan mesin sederhana untuk membuat adonan tepung beras dengan sirup gula aren.

Di sudut lain, tiga oven raksasa yang mengepulkan asap.

Di situ dikukus ribuan kue keranjang, yang masing-masing oven berkapasitas setengah kuintal kue keranjang.

Oven pengukus raksasa itu menggunakan api dari kayu bakar, agar panasnya rata. Khususnya kayu pohon rambutan atau kayu pohon asam, kata Lauw Kim Wie alias Kusnadi, anak Iin dan Lauw Kim Tay.

Di bagian lain pekerja memapar daun-daun pisang di atas perapian, untuk membuatnya lembut sehingga gampang digunakan untuk membungkus kue keranjang.

Daun-daun yang sudah lembut, ditangani oleh belasan buruh perempuan untuk membuat keranjang-keranjang kecil yang nantinya diisi adonan kue. Salah satu pekerjanya adalah Wina.

Ia berkisah, sudah bekerja lebih dari 35 Imlek. “Sejak masih baru dibanun pabriknya, sama Nona Lauw. Waktu itu saya masih belum menikah. Dan sekarang sudah punya dua cucu. Dan anak saya yang paling besar, umur 35 tahun,” katanya. ARtinya, sudah hampir 40 tahun ia bekerja musiman di pabrik ini.

Wina adalah satu dari puluhan buruh musiman, yang bekerja setiap menjelang Imlek.

Perusahaan Ny. Lauw ini di hari-hari biasa hanya mempekerjakan beberapa orang saja. Namun sebulan menjelang Imlek, pekerja mencapai hampir seratus orang -khusus untuk memproduksi kue keranjang.

Iin Liaw Kim menyebut produksi kue keranjang memang praktis hanya berlangsung setiap Imlek, plus sedikit saat lebaran dan Cap Go Meh. Sejak 20 harian jelang Imlek, mereka memproduksi 1,5 kuintal kue keranjang per hari.”Kalau hari-hari biasa, pendapatannya cukuplah untuk sehari-hari,” tutur Iin.

“Tapi kalau Imlek, selama sebulan itu, keuntungannya bisa sampai Rp200 juta.”

Jadi, katanya, pendapatan sebulan di musim imlek, hanya dari produksi kue keranjang, lebih besar dibanding pendapatan seluruh 11 bulan lain. (uli)

 

Sumber: Bbc.com

 

loading...