Kreatif Dan Inovatif, Kunci Generasi Muda Dalam Menghadapi Era Digitalisasi

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 28 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia telah banyak mengubah gaya hidup masyarakat, terutama dalam hal interaksi.

Jika sebelumnya interaksi dilakukan secara langsung, kini lebih banyak menggunakan teknologi digital.

Hal itu menjadi pembuka dalam materi yang dipaparkan Dave Akbarshah F. Laksono, Anggota Komisi I DPR RI, dalam webinar nasional bertajuk “Ngobrol Bareng Legislator: Kreatif dan Inovatif dengan Teknologi” yang digelar atas kerjasama Kominfo dengan Komisi I DPR RI, dilansir dari Tribunnews.com (27/05/2022).

Menurut Dave digitalisasi telah melanda dunia, termasuk Indonesia.

Bahkan Indonesia merupakan negara dengan peringkat pengguna internet terbanyak di ASEAN.

Karenanya, Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar.

“Kita punya potensi yang besar, maka harus punya persiapan dalam menghadapi era digitalisasi ini,” kata Dave.

Dia merinci, potensi era digital diantaranya adalah mengembangkan networking atau jaringan di dunia bisnis.

Selain itu juga berkembang ke sektor kesehatan dimana dokter sudah bisa membuka konsultasi dengan pasien secara online.

Begitu pula dengan bidang pendidikan melalui pembelajaran daring.

Ada pun dampak ekonomi digital, misalnya pada sektor transportasi yakni pertumbuhan lebih dari 7 persen yang didorong oleh perkembangan e-commers dan transportasi demand.

Sedangkan pada sektor teknologi dan informasi, teknologi digital melahirkan banyak pekerjaan baru.

Di Komisi I DPR RI sendiri, ungkap Dave, pihaknya menyiapkan sejumlah regulasi terkait digitalisasi.

Diantaranya RUU Siber, RUU PDP, UU Cipta Kerja terkait digital, UU ITE, dan UU Keterbukaan Informasi Publik.

Dalam kesempatan yang sama, Alia Noorayu Laksono, Staf Khusus Milenial Kemenpora RI mengatakan menjadi generasi di era digitalisasi, kita harus memiliki sikap adaptif, kreatif, solutif, inovatif, dan berkarakter.

Menurut Alia, generasi muda Indonesia wajib memiliki kemampuan creative thinking dan problem solving agar dapat bertahan dari setiap perubahan.

“Karena saat ini kita dituntut berfikir cepat dan bertindak sangat cepat dalam mengambil setiap langkah perubahan,” tegasnya.

Semuel Abrijani Pengerapan, Dirjen APTIKA Kominfo mengatakan, masyarakat harus bisa memanfaatkan teknologi digital dengan bijak, produktif, dan menggunakannya secara tepat.

Dia menyebut, berdasarkan data terbaru tahun 2022, pengguna internet di Indonesia mencapai 204,7 juta. Angka ini meningkat sebesar 2,1 juta pengguna dari tahun sebelumnya.

Namun sayangnya, dari skala 5, tingkat literasi digital di Indonesia berada di tingkat 3,49 yang masih dikategorikan belum baik.

Karena itu, Kominfo bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Indonesia bergerak untuk memberikan pelatihan digital yang menjadi tingkat dasar bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kominfo sesuai dengan arahan Pak Presiden Jokowi menjadi garda terdepan dalam percepatan era transformasi digital. Ini merupakan tugas kita bersama agar kita bisa menjadi pengguna internet yang bijak dan sehat,” pungkasnya. (Uli)