Konvensi Chuenpi, Tiongkok Menyerahkan Hong Kong ke Inggris

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 23 Januari 2020
loading...

Indolinear.com, Hong Kong – Pemerintah Dinasti Qing Tiongkok menyerahkan Hong Kong ke Inggris pada 20 Januari 1841.

Hong Kong diserahkan pada Inggris sebagai konsekuensi dari Konvensi Chuenpi dibuat pada masa  Perang Opium Pertama (1839-1842).

Penyerahan Hong Kong ke Inggris dipertegas dalam Perjanjian Nanking pada 29 Agustus 1842.

Hong Kong kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan Timur- Barat dan gerbang perdagangan di Tiongkok bagian selatan.

Pada Konvensi Peking Kedua 1898, ada perluasan koloni Inggris di Hong Kong dan ada penyewaan selama  99 tahun.

Hong Kong akhirnya diserahkan kembali ke Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Juli 1997.

Kedatangan Inggris dan Terjadinya Perang Opim Pertama.

Inggris mulai berusaha menjalin kontak dengan Tiongkok pada paruh kedua abad ke-16.

Inggris tertarik memperdagangkan/menukar wool dengan rempah-rempah, sutra, dan porcelain.

Pada 1637, seorang kapten Inggris bernama John Weddel berhasil berlabuh di Macau yang saat itu perdagangannya dikuasai Portugis, dilansir dari Tribunnews.com (21/01/2020).

Sayangnya, John gagal membuka perdagangan dengan orang-orang Tiongkok, bahkan justru terjadi konflik bersenjata antara Tiongkok dan Inggris.

Pada 1670-1683, Inggris sempat berhasil mendirikan markas dagang di Taiwan ketika wilayah itu dikuasai Dinasti Ming.

Maskpai dagang Inggris East India Company (EIC) akhirnya berhasil mendirikan gudang dagang di Guangzhou pada 1684.

EIC kemudian menyalip Portugis, Prancis, dan yang lainnya sebagai pedagang utama di Guangzhou

Tiongkok meminta teh dibayar hanya menggunakan perak.

Inggris bisa membayarnya dengan perak yang didapatkannya dari hasil berdagang opium.

Sementara itu, Tiongkok mulai melarang impor opium pada 1796 untuk melindungi produksi opium dalam negeri.

Karena suplai perak dari Amerika berkurang, maka opium menjadi alat pembayaran alternatif di selatan.

Selain itu, para pedagang Inggris sudah mengekspor opium secara ilegal ke Tiongkok sejak abad ke-18.

Perdagangan opium menjadi semakin meluas mulai tahun 1820.

Hal ini juga menyebabkan meluasnya masalah ekonomi dan sosial.

Pada musim panas 1839, pemerintah Tiongkok menyita dan menghancurkan 20.000 peti opium yang berada di gudang Inggris di Kanton.

Ketegangan antara Inggris dan Tiongkok meningkat pada Juli ketika beberapa pelaut Inggris yang mabuk membunuh seorang Tiongkok.

Namun, pemerintah Inggris menolak warga negaranya diadili menggunakan sistem hukum Tiongkok.

Perang akhirnya terjadi ketika kapal-kapal perang Inggris menghancurkan blokade orang-orang Tiongkok di Sungai Mutiara (Zhu Jiang) yang bermuara di Hong Kong.

Pemerintah Inggris pada awal 1840 memutuskan mengirim pasukan ekspedisi ke Hongkong dan sampai di sana pada Juni.

Armada kapal Inggris kemudian mengambil alih Kanton dan berlayar ke Yangtze.

Orang-orang Inggris yang menggunakan senapan musket modern dan meriam berhasil mengalahkan pasukan Tiongkok dengan mudah.

Hong Kong diserahkan ke Inggris

Pada 20 Februari 1840, Sekretaris Luar Negeri Lord Palmerson menginginkan pada dua wakil berkuasa penuh, yakni Kapten Charles Elliot dan George Elliot, agar mendapatkan paling tidak satu pulau untuk markas dagang di pantai Tiongkok.

Karena George sakit dan kembali ke Inggris, maka Chalers menjadi satu-satunya wakil berkuasa penuh.

Charles kemudian bernegosiasi dengan komisaris Qishan.

Di meminta sebuah tempat di mana Inggris bisa menegakkan benderanya dan mengurus dirinya sendiri, layaknya orang Eropa di Macau.

Karena tidak ada persetujuan yang terjadi, maka Inggris memaksa Tiongkok dengan cara merampas benteng di pintu masuk Selat Humen pada 7 Januari 1841.

Qishan kemudian mewujudkan keinginan Charles dan perundingan diadakan di Chuenpi.

Dia menawarkan Hong Kong atau Kowloon, tapi tidak untuk keduanya sekaligus.

Charles memilih Hong Kong dan pada 20 Januari, dia mengeluarkan edaran mengenai hasil perundingannya dengan Qishan.

Hasil perundingan itu dikenal sebagai Konvensi Cheunpi dan salah satu pasalnya berisi penyerahan Hong Kong pada Inggris.

Penyerahan itu ditegaskan kembali pada Perjanjian Nanking 1842. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: