Kisah Yanti Lidiati Yang Gigih Nerangkul Anak Istimewa

FOTO: detik.com/indolinear.com
Rabu, 4 Agustus 2021
loading...

Indolinear.com, Bandung – Sebuah ambulans baru saja tiba ke rumah nomor 177 di Jalan Oma Anggawisastra, Desa Lampegan, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Mobil itu bukan mengantar orang sakit, melainkan mengantarkan belasan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ke rumah milik Yanti Lidiati (54).

Yanti lebih senang menggunakan istilah anak istimewa kepada mereka. Sudah lebih dua bulan, sepetak kebun di samping rumahnya disulap jadi arena bermain anak-anak istimewa pada setiap Minggu pagi. Terdengar suara ramai, Yanti pun keluar rumah dan menyambut mereka. Ia memeluknya satu persatu.

Belasan anak ditemani orang tuanya hadir ke taman yang banyak ditumbuhi pohon asam itu. Sebuah papan tulis dan karpet hijau sudah disiapkan oleh Yanti dan juga para relawan. Pada awalnya, kegiatan itu merupakan sebuah program CSR dari salah satu perusahaan di kawasan Kamojang yang hanya berlangsung delapan kali pertemuan.

Namun, dengan modal nekat, akhirnya Yanti memutuskan untuk melanjutkan program tersebut secara swadaya. Langkah ini disambut baik oleh anak-anak, orang tua, pihak desa dan perusahaan BUMN.

Anak-anak yang ikut kelompok bermain tersebut berasal dari beberapa desa di sekitar rumah Yanti. Anak-anak tersebut merupakan penyandang autis dan down syndrome.

Ia menamakan kelompok itu dengan nama Kelompok Bermain Berdaya. Berdaya merupakan akronim dari kata yang berasal dari ‘Berbeda tetap Berkarya’. Baginya, anak yang berbeda atau istimewa bukan pantangan bagi seseorang untuk bisa mendapatkan hak dan kesempatan untuk bersosial dan menggali potensinya.

Dilansir dari Detik.com (02/08/2021) kegiatan di Kelompok Bermain Berdaya yang dipimpin langsung oleh Yanti. Sebelum mulai belajar, mereka berdoa bersama dan dilanjutkan dengan senam ringan. Belajar di sini tidak seperti di sekolah, semua kegiatan hanya bermain dan menari.

“Ini adalah tempat bermain untuk anak, mereka boleh berkumpul, dan mereka bisa bersosialisasi dengan anak lainnya. Mereka memiliki komunitas yang bisa menghargai mereka,” kata Yanti.

Selagi sesi senam, mata Yanti tertuju kepada anak-anak tersebut. Wajahnya semringah saat melihat salah satu anak menari dengan begitu semangatnya. “Lihat! itu Ina, luar biasa sekali. Dia itu independen, enggak pernah bisa sosialisasi,” sambil menunjuk ke arah gadis berambut sebahu itu,” ucap Yanti.

“Tapi lihat sekarang, dia berani menari di depan yang lain,” dia menambahkan.

Ekspektasinya tidaklah tinggi. Ia hanya berharap mereka dapat dihargai di lingkungannya. Yanti merasa iba ketika banyak anak istimewa di lingkungannya dijauhi, bahkan dianggap rendah oleh orang lain.

“Harapan saya hanya satu, kita bisa menghargai anak-anak istimewa, kalau bukan kita lalu siapa. Lalu, jangan perlakukan anak-anak istimewa itu tidak bisa apa-apa, tolong hargai. Allah itu melahirkan seseorang dengan kelebihan dan kekurangannya,” tuturnya.

Yanti bukanlah akademisi ataupun seseorang dengan keilmuan matang menyoal pendidikan khusus. Ia hanya seorang wanita karier di Jakarta yang harus pulang ke Ibun untuk merawat ibunya yang sedang sakit. Namun, ia adalah seorang pengajar yang istimewa.

Di awal kepulangannya itu, ia harus mengurusi yayasan yang dikelola ibunya, PKBM An-Nur, yang jauh dari pusat keramaian kota. Padahal, dirinya bisa dikatakan hidup berkecukupan saat tinggal di Jakarta.

Ia menuturkan, seiring berjalannya waktu, hatinya mulai terbuka dengan kondisi yang ada di sekitarnya. Awalnya, ia membentuk sebuah kelompok masyarakat yang dinamakan Wanita Mandiri. Berisikan ibu-ibu rumah tangga yang dilatih dan dikelola untuk bisa mandiri serta tidak mengandalkan kepada suami.

Salah satunya adalah Beti Rohaeti (35). Dia seorang pembuat telor asin. Saat mengenal Yanti, dirinya diarahkan untuk membuat kue tradisional, dan makanan berat lainnya hingga memiliki banyak pelanggan.

“Ini bu Beti, waktu itu saya minta dibuatkan kue tapi tradisional biar beda. Dan ternyata luar biasa, makanannya enak banget,” ujar Yanti.

Bukan hanya itu, kini ia bersama ibu lainnya membuka sebuah toko pakaian yang fokus pada baju berbahan sarung. Pengalamannya di Jakarta yang sering memakai pakaian modis, ia tularkan kepada ibu-ibu yang bisa menjahit. Ia bertugas mendesain dan promosi, ibu-ibu yang menjahit.

Usahanya berbuah manis. Baju berbahan sarung itu banyak dilirik orang, dari festival ke festival hingga akhirnya sampai ke luar negeri. Tetapi, bukan hanya keterampilan yang ia berikan, ia pun mengarahkan kepada setiap ibu di Wanita Mandiri untuk ikut Ujian Sekolah Kesetaraan seperti Paket C.

“Bukan apa-apa, terkadang kita untuk mendorong anak mau belajar, harus dimulai dari ibunya,” ucapnya.

Yanti bukanlah wanita biasa. Ia wanita sekaligus ibu yang istimewa dari Desa Lampegan. Berkat dedikasinya tersebut, di hari Aksara Internasional yang jatuh pada 8 September 2020, Yanti mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atas dedikasinya dalam percepatan penuntasan buta aksara di Indonesia.

“Dulu tolak ukur saya seberapa banyak bisa cari uang. Tapi sekarang seberapa banyak kita bisa buat orang tersenyum menjadi tolak ukur saya. Ada kepuasan batin yang terpenuhi. Di sini yang saya cari adalah kebahagiaan,” kata Yanti.

Hal itu disaksikan pula oleh Community Development Officer Pertamina Geothermal Energy Area Kamojang Iqbal Pradipta. Iqbal menuturkan, pihaknya bersyukur program yang digagas oleh Pertamina dapat dilanjutkan secara mandiri oleh warga sekitar.

Program Sehati yang kini menjadi Kelompok Bermain Berdaya itu berawal keprihatinan atas kondisi anak-anak istimewa yang sering kali dikucilkan oleh masyarakat. Bahkan, kata Iqbal, ketika memiliki anak istimewa terkadang orang tua menjadi malu.

“Kita selalu berharap mereka tidak dianggap sebelah mata. Padahal mereka sebenarnya bisa bersosialisasi. Mereka punya bakat yang bisa kita gali,” ujar Iqbal.

Apa yang dilakukan Yanti pun disambut baik oleh warga setempat, salah satunya seorang perawat dari puskesmas di Desa Sudi, Yayat Suryatna. Adanya Kelompok Bermain Berdaya diharapkan mampu mengubah citra anak istimewa yang selalu dianggap sebelah mata.

“Sekarang orang tua gak usah malu. Kita juga akan bantu dari kesehatannya, kita akan kontrol,” ujar Yayat. (Uli)