Kisah Wanita Merawat Kaum Difabel Dan Yatim Piatu

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Senin, 23 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Namanya Maria Yeti Asri Saputri. Wanita kelahiran Solo, 12 Oktober 1980 ini memiliki obsesi besar untuk kesejahteraan kaum berkebutuhan khusus atau difabel. Tak hanya bagi kaum difabel, wanita dua anak ini juga menjadi pahlawan bagi anak yatim piatu yang terlantar.

Pada awalnya, tak pernah terpikirkan oleh Maria Yeti untuk melayani para penyandang disabilitas maupun anak yatim piatu. Semua berawal dari sebuah mimpi yang dialaminya di tahun 2012. Dari mimpi itu ia yakin mengabdikan hidupnya, melayani kaum disabilitas maupun anak yatim piatu.

“Saya dan keluarga itu semua normal dan sehat, tidak ada yang difabel. Tahun 2012 itu saya mimpi menjadi seorang sopir bus. Penumpang saya semua difabel, saya bawa busnya parkir di taman yang indah. Terus saya turunkan mereka. Terus saya main sama mereka, saya merasa bahagia. Ketika saya menjauh, seolah-olah saya itu dikejar-kejar orang difabel. Dari situ saya bertekad bahwa ini adalah tugas pelayanan saya,” ujar Yeti, saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Jalan Madubronto Sondakan, Laweyan, Solo, dilansir dari Merdeka.com (21/05/2022).

Maria Yeti mengaku bermimpi yang sana hingga tiga kali. Itulah yang membuatnya kemudian mencari makna mimpi tersebut dengan berpuasa dan berdoa memohon petunjuk kepada Tuhan.

“Di dalam bus itu kan isinya semua orang difabel. Berarti saya harus membawa mereka ke suatu tempat. Saya berjalan dengan apa yang bisa saya kerjakan. Saya bukan orang kaya yang bisa memberikan sembako atau bersedekah,” kata Maria.

Buka Kelas Modeling hingga kafe

Maria Yeti bersyukur dianugerahi talenta yang lebih dibandingkan masyarakat pada umumnya. Talenta tersebut yang kemudian dimaksimalkan hingga menghasilkan pundi-pundi untuk membiayai sejumlah kegiatan bersama puluhan difabel di Solo Raya.

Tahun 2012 Yeti sempat bermain di beberapa judul film. Di antaranya, ‘Tukang Bubur Naik Haji’, sinema Pintu Taubat Indosiar, sejumlah acara di TVRI, bintang beberapa iklan televisi dan lainnya. Dari situlah Yeti menyedekahkan penghasilannya untuk kegiatan sosial bersama kaum difabel maupun anak yatim.

“Dengan bakat dan talenta yang Tuhan berikan ke saya itu memberanikan untuk membuka sanggar. Saya membuka kelas untuk anak difabel dan untuk anak yang normal,” ujar dia.

Sanggar yang dibuka Yeti menampung para difabel untuk belajar di kelas modeling, menggambar, melukis, teater, akting, menari maupun menyanyi. Sedangkan di bidang olahraga, sanggar tersebut memberi kesempatan untuk belajar berenang, bola volly, tenis meja dan lainnya.

Sanggar tersebut juga telah melahirkan talenta- talenta dengan prestasi masing-masing. “Beberapa anak di sini ada yang sampai menang di kejuaraan nasional maupun internasional. Ada yang sampai ke Amerika, ada yang sampai Taiwan untuk yang modeling ya. Yang kelas akting itu sudah ada yang si beberapa film juga. Itu padahal mereka anak-anak difabel,” bebernya.

Membuat Kafe dengan Karyawan Difabel

Pertemuan dengan para penyandang disabilitas, dikatakan Yeti, bisa dari beberapa tempat. Namun mereka lebih banyak direkrut dari jalanan, kemudian dikumpulkan dan dibina di sanggar difabel. Selain membuka kelas seni dan olahraga, dia juga tertarik untuk membuka kafe.

Namun konsep yang dihadirkan berbeda sengan kafe atau tempat nongkrong pada umumnya. Kafe dengan seluruh pegawainya dari difabel ini menawarkan konsep makan dan minum sepuasnya, bayar seikhlasnya. Konsep ini justru diminati masyarakat. Tak hanya difabel, mereka yang datang justru dari kalangan normal.

Pembukaan kafe tersebut, lanjut Maria Yeti, berawal dari sulitnya murid mencari pekerjaan. Padahal mereka yang dibina di sejak tahun 2012 di Hartono, Solo Baru, sudah beranjak dewasa. Mereka tidak mau lagi menggantungkan nasibnya kepada orang tua.

“Saya punya ide buka kafe, sesuai dengan kemampuan tenan-teman saja. Di sini karyawannya ada yang bisu tuli, ada yang kaki satu, ada yang tuna grahita. Akhirnya saya beli produk franchise Kopi Nusanara. Dari situlah teman-teman juga ditraining biar bisa bikin kopi,” ujar dia.

Meskipun dikelola oleh difabel, dirinya menginginkan agar kafe tersebut masuk level yang representatif. Akhirnya, ia pun meminta desainer interior untuk terlibat langsung.

Selain untuk kafe, Difa Cafe yang diinisiasinya tersebut juga dimanfaatkan untuk tempat bersosialisasi. Tidak hanya bagi kaum disabilitas namun juga untuk masyarakat lainnya.

“Ini kafe bayarnya seikhlasnya di kotak amal yang di depan itu. Kita nggak punya kasir,” kata dia.

Dengan konsep tersebut, diakuinya tak sedikit memang yang membayar pesanan menu dengan uang seadanya. Namun sebaliknya, tak sedikit warga yang datang dengan membayar lebih berkali lipat dari harga sesungguhnya.

Dengan cara seperti itu, ia berharap semua kalangan bisa berkumpul dan berteman dengan kaum difabel di kafe yang berdiri 3 Juli 2018 itu. Konsep seperti itu, dikatakan Maria Yeti, tidak akan pernah membuatnya rugi.

“Yang datang ke sini bayar seikhlasnya dan langsung dimasukkan ke kotak amal. Nanti secara berkala akan kami buka. Uangnya akan kami belikan sesuatu untuk membantu teman-teman difabel di lokasi lain. Konsen kami berbagai untuk sesama,” jelas dia.

“Saya ingin mengajak masyarakat agar lebih peduli pada orang lain dan menciptakan lapangan kerja bagi para kawan-kawan difabel,” imbuh dia.

Saat ini, menurut dia, ada 5 karyawan dari kalangan difabel yang bekerja mengelola kafe. Selain itu, ada sejumlah remaja yang secara sukarela ikut mengurusi kafe ini. Namun untuk bulan puasa, kafe yang buka dari pagi hingga petang ini tutup. Para karyawan memanfaatkan libur tersebut untuk pulang kampung.

Meski bayar seikhlasnya, namun para pekerja Difa Kafe tetap mendapatkan gaji cukup agar bisa mandiri dan terlepas dari orang tua. Meski tak sebesar UMR namun para karyawan tidak ada yang melakukan protes. Karena mereka mendapatkan tempat tinggal, makan minum serta fasilitas lainnya secara gratis. Sehingga penghasilan mereka tetap utuh untuk ditabung.

“Di sini memang niatnya mereka mau kerja. Jadi berapapun gajinya ya ditabung. Nanti pulang kampung bisa diperlihatkan, ini lho hasil kerja saya. Meski tidak banyak, bisa membuat teman-teman difabel ini mempunyai rasa percaya diri, dihargai, dihormati di masyarakat,” ucap dia.

Maria Yeti mengaku, para difabel kebanyakan diambil dari jalanan saat di berkeliling di Jumat berkat. Setelah umur 18 tahun, mereka baru diperbolehkan bekerja di kafe. Untuk usia dibawah 18 tahun diarahkan untuk mengikuti kelas di sanggar.

Hingga saat ini, sanggar miliknya telah menampung 86 disabilitas dari berbagai jenis kekurangan, baik fisik maupun mental. Dari sisi usia, minimal 3,5 tahun hingga 50 tahun. Dari jumlah tersebut ada sekitar 13 orang yang menginap.

“Ada beberapa teman yang dulunya kerja disini, kemudian sudah nikah dapat sesama difabel, ada sekitar 7 orang. Ada yang sudah jadi atlet ada yang buka kafe juga,” jelasnya lagi.

Fashion Show Difabel

Kisah unik juga dialami oleh para difabel. Mereka berkesempatan naik panggung untuk memamerkan kelihaiannya berkelok-kelok di panggung. Saat itu, dirinya sedang membuka butik dan mengikuti wedding expo di salah satu hotel ternama di Solo Baru. Para difabel yang pernah mengambil kelas modelling pun mendapatkan kesempatan untuk mengikuti fashion show.

“Saat itu Gishela yang nyanyi, teman-teman sini yang fashion show. Suasananya sangat luar biasa, ada yang pincang, ada yang bisu tuli. tapi dengan pedenya fashion show dengan Gishela,” tuturnya.

Selain Gishella, para difabel asuhannya juga terlibat dalam kegiatan dengan sejumlah public figure lainnya. Di antaranya maestro campur sari Didi Kempot hingga artis yang juga politisi Nasdem Bertrand Antolin.

Biaya Sendiri

Dalam mengelola sanggar difabel miliknya Maria Yeti tidak mau main-main. Ia pun mendatangkan instruktur yang bukan kaleng-kaleng. Tentu saja dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Semuanya itu, lanjut dia, ia tanggung sendiri.

“Dari awal saya bilang, sanggar ini murni bergerak di bidang sosial kemanusiaan dan belum ada bantuan dari pemerintah maupun pihak ketiga. Dengan pekerjaan saya di butik dan intertaint bisa untuk menggaji mereka. Jadi semua murni dari saya,” katanya.

Lebih lanjut Maria Yeti mengemukakan, peran pemerintah khususnya Pemkot Solo sangat baik dalam mengatasi permasalahan disabilitas. Gerak cepat dilakukan oleh Dinas Sosial, baik dalam wujud bantuan sosial maupun yang lainnya.

“Ketika kita ada keluhan, misalkan ada yang usil mengganggu, kita lapor ke Dinas Sosial, mereka segera mencarikan solusi,” ujar dia.

Butuh Lapangan Kerja

Kondisi difabel saat ini, dikatakan Maria Yeti, mereka membutuhkan lapangan pekerjaan. Kafe yang ada saat ini memang terdampak dengan adanya pandemi Covid-19. Jika dulu sangat ramai pengunjung, saat ini hanya sedikit warga yang mampir untuk minum maupun makan.

“Kondisi saat ini, jujur mereka membutuhkan lapangan kerja. Dengan pembatasan-pembatasan seperti itu kan otomatis kita nggak bisa. Nggak bisa buka seperti biasa,” jelas dia.

Selain peduli difabel, sosok Maria Yeti juga menghidupi 5 orang anak Dua anak laki-laki dan perempuan hasil pernikahannya dan 3 anak lainnya hasil mengadopsi. Yakni 1 anak dalam kondisi lumpuh celebral palsy, 1 anak bisu tuli serta 1 anak yatim piatu. (Uli)

loading...