Kisah Umar Guru Ngaji, Dulu Jualan Es Kini Jadi Sultan

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Jumat, 1 Juli 2022

Indolinear.com, Jambi – Pria bernama Laspandi Umar dijuluki Sultan Jambi karena penghasilannya mencapai Rp100 miliar perbulan. Ayah empat anak ini mengaku, sebelum sukses, dahulu hidup susah dengan banyak perjuangan.

“ Saya latar belakang dari pesantren, setelah tamat di pesantren, saya mengajar anak-anak di pondok pesantren juga. Itu di tahun 2002. Lalu di tahun 2005 ketemu jodoh, istri saya sekarang ini,” ujar Laspandi dikutip dari Dream.co.id (29/06/2022).

Setelah berkeluarga, penghasilannya dari mengajar sebesar Rp350 ribu perbulan tidaklah cukup. Kemudian ia mulai mencari sumber pendapatan tambahan dengan mengajar di tempat lain. Saat itu ia juga sambil berjualan es pada murid-muridnya.

Lasmadi memutuskan menjadi guru privat mengaji bagi anak-anak TNI di dekat rumahnya. “ Ngajar privat tiga kali seminggu. Kalau di total-total, penghasilannya jadi Rp1 juta lah perbulan,” terang pria berusia 38 tahun ini.

Berangkat dari hal tersebut, ia semakin giat untuk mencari sumber pendapatan tambahan. Sampai satu hari, ia memberanikan diri untuk meminjam modal usaha pada mertua. “ Akhirnya dipinjami mertua Rp18 juta, waktu itu buat bisnis kredit lemari,” katanya.

Sempat tak berjalan lancar

Namun bisnis tersebut tak berjalan lancar hingga akhirnya tak berlanjut. Kemudian Laspandi Umar mencoba peruntungan dengan berdagang buah. Dari usaha tersebut ia mendapatkan Rp40 juta dan menjadi cikal bakal bisnis getah karetnya.

Pada awalnya ia menjual getah karet hanya di lingkup dalam kota. Laspandi mengakui bahwa dirinya belum begitu paham soal bisnis, hingga perputarannya hanya sebatas jual beli saja.

Laspandi juga pernah terlilit utang sebesar Rp2,3 miliar, sebab harga getah karet memang sedang anjlok pada saat itu. Karena situasi ini, ia harus menjual aset yang dimilikinya, sampai emas milik istri dan anaknya juga ikut dijual.

Soal utang, baginya merupakan hal yang wajar bagi para pengusaha. Namun ia mengingatkan, bahwa wajib hukumnya untuk membayar dan utang tidak boleh dibawa mati.

” Dalam hukum Islam, memberi utang itu sunah, tapi membayar utangnya wajib,” pesannya.

Sambil berusaha menyicil utangnya, Laspandi mulai bangkit kembali untuk membeli getah karet. Namun, transaksi yang ia lakukan saat itu harus sembunyi-sembunyi agar tak diketahui oleh penagih utang.

Tak pantang menyerah

Hal ini dilakukan karena sebagian uang yang ia miliki harus digunakan untuk memutar bisnis, sehingga tak bisa ia serahkan seluruhnya untuk tutupi utang.

Pada saaat itu ia hanya mampu membeli getah karet sebanyak 700 kilogram. Getah tersebut lalu ia jual dan menghasilkan untung sebesar Rp300 ribu.

Namun, orang di sekitarnya menilai bahwa jualan ratusan kilo yang ia lakukan itu terkesan boros, karena harus mengeluarkan bahan bakar lebih banyak untuk bolak-balik.

Tetapi, dari kegiatan bolak-balik getah karet inilah yang mempertemukannya dengan Bos Karet. Ia kemudian diajak untuk bekerja sama mengumpulkan karet untuk dijual.

Kegigihan berbuah manis

Awalnya, Laspandi kesulitan untuk mendapat getah karet tersebut karena namanya masih dikenal dengan utang yang belum lunas.

Lalu ia dibantu oleh seorang temannya, hingga bisnis yang ia jalani bisa sukses seperti sekarang. Utang yang ia tanggung pun dapat dilunasi dalam jangka waktu empat bulan.

Kegigihan perjuangan Laspandi berbuah manis, kini dengan bisnis getah karet miliknya, ia mampu memperoleh omset hingga Rp100 miliar per bulan. (Uli)