Kisah Tragis Ratu Thailand dan 3 Raja Eropa

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 18 Agustus 2019

Indolinear.com, Jakarta – Sunandha Kumariratana adalah permaisuri atau ratu di Kerajaan Siam, cikal bakal Thailand. Ia menjadi menjadi yang pertama, dari tiga istri Raja Chulalongkorn (Rama V) — yang dikenal sebagai pemimpin reformis, termasuk menghapuskan perbudakan di wilayah kekuasaannya.

Suatu hari di tahun 1880, sang ratu yang baru berusia 19 tahun sedang dalam perjalanan menuju istana musim panas Bang Pa-In yang letaknya di luar kota Bangkok.

Ia yang dalam kondisi hamil pergi bersama putrinya, Karnabhorn Bejraratana, yang belum genap berusia dua tahun, sejumlah pengawal, dan iring-iringan dayang.

Untuk mencapai Bang Pa-In, rombongan tersebut harus menyeberangi Sungai Chao Phraya, yang terbesar di Thailand. Permaisuri dan sang putri dikawal ke kapal khusus, yang akan ditarik perahu lain yang ukurannya lebih besar.

Malang tak bisa ditolak, kapal kerajaan terbalik usai diterjang arus kuat. Baik sang permaisuri maupun putrinya tercebur ke air. Keduanya harus berjuang sekuat tenaga agar kepala tetap berada di atas permukaan air.

Dalam kondisi panik itu, tak ada satu pun dari rombongan kerajaan yang memberikan pertolongan. Para abdi dan pengawal hanya berdiri terpaku, saat menyaksikan permaisuri beserta anaknya tenggelam.

Mereka bukannya tak mau dan tak mampu memberi pertolongan. Para pengawal dan siapapun yang ada di lokasi kejadian terhalang aturan yang berlaku turun temurun di Siam. Bahwa orang biasa dilarang keras menyentuh anggota keluarga kerajaan. Jika melanggar, itu berarti mati.

Menurut Misfit History, seperti dikutip dari Liputan6.com (16/08/2019), selain terhalang aturan hukum, niat para pengawal dan dayang untuk memberi pertolongan terhalang mitos. Konon, siapapun yang membantu orang yang tenggelam di sungai akan menghadapi nasib buruk. Ikut campur berarti menentang roh yang hidup di air.

“Para staf hanya bisa mengulurkan tongkat dan melempar buah kelapa sebagai pelampung. Namun ratu yang tak bisa berenang tak kuasa meraihnya,” demikian dikutip dari situs Ayutthaya Biking Adventure.

Tiga nyawa melayang sekaligus, Ratu Sunandha Kumariratana, putrinya, dan anak yang sedang dikandungnya.

Saat mengetahui insiden tersebut, Raja Chulalongkorn marah besar. Ia pun memerintahkan perwira, yang tak memberikan perintah untuk menolong istri dan anaknya, dipenjara.

Kematian sang permaisuri menjadi duka mendalam bagi raja. Sebab, Sunandha Kumariratana adalah istri yang paling ia sayang.

Upacara pemakaman besar-besaran, dan paling mahal dalam sejarah kerajaan, digelar. Raja juga menitahkan agar istana musim panas, yang akan dikunjungi mendiang ratu pada hari kematiannya, dirampungkan pembangunannya.

Di halaman belakang istana itu, ia mendirikan monumen peringatan untuk Ratu Thailand Sunandha Kumariratana dan anak-anaknya — sekaligus menjadi pengingat pada kondisi luar biasa lagi aneh, yang mengakhiri hidup mereka terlalu cepat.

Kematian Aneh 3 Raja Eropa

Tak hanya Ratu Sunandha Kumariratana yang meninggal dengan alasan aneh. Henry I, Raja Inggris sejak tahun 1100 hingga 1135.

Ia memimpin Britania Raya di tengah situasi pelik, membela perbatasannya dari berbagai musuh. Dengan menikahi seorang putri Skotlandia, Matilda, ia berupaya berdamai dengan Skotlandia.

Henry I meninggal karena sebab yang aneh, gara-gara makan belut lamprey. Sang raja mengabaikan peringatan para dokternya, yang memintanya menjauhi makanan yang mencurigakan. Ia pun jatuh sakit, dan tak lama kemudian, wafat pada usia 67 tahun.

Raja Eropa, Alexander dari Yunani baru berusia 27 tahun saat meninggal dunia pada 1920.

Sang raja sedang berjalan-jalan di istana musim panasnya di dekat Athena ketika seekor monyet menyerang anjingnya, Fritz.

Monyet, yang dilaporkan berjenis Barbary macaque, adalah milik salah satu staf istana.

Sang raja kala itu berniat memisahkan dua hewan yang sedang bertarung hebat. Alih-alih berhasil, monyet tersebut justru menyerangnya, menggigit kaki dan bagian tubuh yang lain.

Luka yang dialami sang raja terinfeksi dan kurang dari sebulan kemudian ia dinyatakan meninggal dunia.

Kematian aneh juga terjadi pada Raja Swedia, Adolph Frederick. Pada 12 Februari 1771, ia makan besar.

Sang raja menyantap hidangan yang terdiri atas lobster, kaviar, sauerkraut alias kol asam — irisan kubis yang difermentasi, dan ikan haring (herring) asap.

Sang raja makan dengan lahap sambil menenggak sampanye dari gelas.

Tak sampai di situ. Hidangan penutup lantas disajikan, berupa semla, roti beraroma kapulaga yang diisi dengan pasta almond dan disajikan dalam semangkuk krim panas.

Adolf Frederick tak hanya makan satu atau dua mangkuk, ia melahap 14 porsi!

Akibatnya sungguh fatal. Sang raja tewas tak lama kemudian akibat masalah pencernaan — versi lain menyebut ia terkena stroke. Adolf Frederick mangkat pada usia 60 tahun.

Adolph Frederick kemudian mendapat julukan the king who ate himself to death atau berarti raja yang ‘mati kekenyangan’. (Uli)