Kisah Tragis Brigjen Katamso, Korban Peristiwa G30S PKI Di Yogyakarta

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 28 Oktober 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Pada 1 Oktober 1965 pagi dini hari, enam perwira tertinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan beberapa orang lainnya, dibunuh oleh sekelompok orang yang diduga anggota Cakrabirawa. Mereka mengaku sebagai pasukan pengawal istana yang dianggap loyal kepada PKI.

Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta, yang kini dikenal dengan nama Lubang Buaya. Peristiwa itu hingga kini dikenal dengan nama G30S PKI.

Peristiwa itu ternyata tidak hanya terjadi di Jakarta. Namun juga menyebar ke Yogyakarta.

Pada sore harinya, masih tanggal 1 Oktober, PKI menculik Kolonel Katamso (Komandan Korem 072/Yogyakarta) dan Letnan Kolonel Sugiyono (Kepala Staf Korem 072/Yogyakarta). Mereka membawa kedua panglima TNI itu ke daerah Kentungan dan menahannya di sana.

Dilansir dari Merdeka.com (26/10/2020), lalu siapa sebenarnya Kolonel Katamso dan mengapa ia menjadi salah satu sasaran PKI?

Tentang Brigjen Katamso

Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo lahir di Sragen pada tanggal 5 Februari 1923. Dia adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang terbunuh dalam peristiwa G30S/PKI. Semasa mudanya, ia menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan tentara PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor.

Pada masa revolusi kemerdekaan, Katamso bergabung dengan TKR yang kemudian berubah menjadi TNI. Pada masa itu, ia memimpin pasukan untuk bertempur mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Setelah pengakuan kedaulatan, dia diserahi tugas untuk menumpas pemberontakan 426 di Jawa Tengah.

Tak hanya itu, dia juga menjabat sebagai Komandan Batalyon “A” saat menumpas pemberontakan PRRI/Permesta pada tahun 1958. Mulai tahun 1963, dia menjabat sebagai Komandan Korem 072 Kodam VII/Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta.

Dieksekusi Mati

Pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965, Brigjen Katamso yang saat itu masih berpangkat kolonel diculik oleh beberapa tentara yang merupakan anggota PKI, ke daerah Kentungan bersama bawahannya, Letkol Sugiyono. Setelah sempat diamankan, pada malam harinya mereka berdua dieksekusi mati.

Jasadnya kemudian dimasukkan ke dalam sebuah lubang yang ada di kompleks tersebut dan baru ditemukan pada tanggal 21 Oktober 1965 setelah pencarian besar-besaran. Jenazah keduanya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta.

Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Tak lama setelah peristiwa itu, Katamso ditetapkan sebagai pahlawan revolusi. Selain itu, dia juga memperoleh kenaikan pangkat anumerta, Brigadir Jenderal (Brigjen). Sementara itu Sugiyono juga memperoleh kenaikan pangkat menjadi Kolonel.

Kini tempat pembuangan kedua anggota TNI itu dikenal dengan nama “Lubang Buaya Yogyakarta”. Lubang itu berada di sebuah bangunan berarsitektur Jawa di kompleks Museum Monumen Pahlawan Pancasila di Kentungan, Sleman. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: