Kisah Sukses Herudin, Membawa Kerajinan Ukir Batu Di Gunungkidul Mendunia

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Kamis, 19 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Lahir dan tumbuh di salah satu pelosok desa di Kabupaten Gunungkidul, membuat Herudin (30), kerap digadang-gadang oleh keluarganya agar nantinya mau bekerja di luar daerah. Tentu hal ini bukan tanpa alasan, menurutnya, Gunungkidul yang sejak zaman dahulu dikenal gersang, jauh dari pusat keramaian, dan sering terjadi kekeringan, membuat sebagian orang tua seolah pesimis dengan putra-putrinya akan mampu meraih sukses jika memutuskan tetap tinggal di tanah kelahiran.

Selain itu, harapan orang tua tersebut juga muncul karena sering melihat sebagian perantau yang dianggap sukses di luar daerah. Banyaknya perantau yang membawa mobil ke kampung halaman saat Lebaran, ditengarai semakin membuat para orang tua pengin melihat anaknya tumbuh sukses seperti mereka.

Seiring berjalannya waktu, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Pesatnya arus perkembangan media sosial, ternyata mampu dimanfaatkan Herudin untuk membuka usaha kerajinan batu ukir. Pada tahun 2016 silam, warga Dusun Keblak, Desa Ngeposari, Kecamatan, Semanu, Gunungkidul itu memberanikan diri untuk membuka bisnis kerajinan batu ukir bernama Azzahra Stone di rumahnya.

Modal Rp1 Juta

Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, sejak dahulu memang sudah dikenal sebagai sentra ukir batu alam. Di wilayah ini, tidak sulit untuk menemukan warga yang membuka pangkalan usaha ukir batu. Selain sebagai petani dan buruh, rata-rata warga Desa Ngeposari, mulai dari anak muda hingga dewasa, berprofesi sebagai pengrajin ukir batu.

“Awalnya, saya bekerja ikut tetangga yang lebih dulu membuka usaha ukir batu. Dari sana, saya belajar mengukir ukiran batu jenis roster, terus lama-lama bisa bikin relief ornamen. Abis itu, saya memutuskan untuk beli bahan batu sendiri kemudian saya promosikan lewat Facebook,” tutur Herudin mengawali perbincangan, dilansir dari Merdeka.com (17/05/2022).

Sementara itu, pria yang akrab disapa Udin itu mengaku awalnya hanya iseng-iseng memposting hasil kerajinan ukir batu berupa ornamen di laman Facebook miliknya. Tak disangka, saat itu ternyata peminatnya cukup banyak. Hal ini yang kemudian membuat ia semakin rajin membuat kerajinan ukir batu dengan beragam motif, lalu ia unggah di laman media sosial.

“Saya membuka usaha ini cuma modal Rp1 juta. Beli bahan sendiri, terus saya kerjakan sendiri. Nggak nyangka aja ternyata yang suka kerajinan saya cukup banyak,” terang pria yang sudah dikaruniai satu orang anak tersebut.

Merasa kewalahan memenuhi permintaan, akhirnya pada awal tahun 2017, Udin mulai mencari tenaga kerja atau perajin ukir batu yang rata-rata masih berusia muda. “Ya, alhamduliah cuma butuh waktu satu tahun akhirnya saya bisa punya karyawan, awalnya cuma punya satu tenaga kerja, terus makin hari makin bertambah,” tutur Udin.

Saat ini Udin telah memiliki 8 orang karyawan. Biasanya, para tenaga kerja akan mengerjakan ukiran batu sesuai permintaan konsumen. Adapun beberapa produk atau motif ukir batu yang ia tawarkan antara lain ornamen, patung, lampion, dan batu tempel berbagai bentuk.

Motif Ukiran Batu

Dari sekian banyak jenis ukiran batu yang ditawarkan, Udin mengatakan bahwa relief ornamen lah yang paling banyak diminati konsumen. Relief ornamen sendiri merupakan jenis ukiran batu tidak berlubang yang berfungsi untuk menghias interior maupun eksterior rumah. Jenis ukiran batu ini memiliki beragam motif, mulai dari motif manusia, tumbuhan, binatang, hingga motif khayalan atau berdasarkan imajinasi.

Biasanya, kerajinan ukir batu putih milik Udin banyak dipesan untuk keperluan properti sebuah proyek perumahan. Namun, tidak menutup kemungkinan kerajinan ini digunakan untuk menghias pagar, taman kota, maupun gapura. Adapun permintaan ini dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa, pengusaha, hingga para pebisnis properti dan bangunan.

“Biasanya, para konsumen lihat postingan saya di Facebook. Terus, kalau benar-benar mau niat order, mereka langsung japri saya lewat WhatsApp,” tutur Udin.

Udin menambahkan, saat ini banyak permintaan ornamen dengan motif klasik berupa pemandangan yang di dalamnya terdapat gambar seekor burung atau binatang lainnya. Selain memiliki sifat estetis, banyak konsumen yang lebih memilih kerajinan tangan dari batu ini karena dianggap lebih awet dan harganya lebih terjangkau.

Untuk masalah harga ukir batu relief ornamen, biasanya tergantung ukuran, motif, serta tingkat kesulitan saat proses produksi. Namun, rata-rata untuk ukiran relief ornamen dipatok dengan harga Rp1 juta hingga Rp3 juta per meter persegi.

Selain menerima pesanan motif ukiran batu alam via online, usaha ukir batu Azzahra Stone milik Udin juga siap mengirimkan hasil pesanan hingga proses pemasangan. Sejak berdiri pada 2016 lalu, setidaknya Udin telah mengirim hasil produksinya ke berbagai daerah di Indonesia.

“Beberapa daerah di Indonesia pernah order produk saya, ya paling banyak di Bali, Jakarta, Aceh, Kupang, pernah juga ngirim ke luar negeri, sampai Taiwan,” terang Udin.

Sementara itu, tidak bisa dimungkiri bahwa pandemi covid juga cukup berdampak bagi bisnis ukir batu yang dilakoninya. Awal pandemi Udin mengaku sempat sepi orderan. Namun, hal ini tidak membuatnya untuk berhenti produksi. Meski sepi pesanan, ia tetap berproduksi dan terus melakukan promosi lewat media sosial andalannya, yakni Facebook.

Media sosial berupa Facebook dipilih Udin untuk menawarkan produknya karena cenderung lebih mudah dan tidak ribet. Selain itu, banyaknya grup Facebook yang khusus membahas mengenai properti bangunan maupun desain rumah, semakin memudahkannya untuk menyasar para konsumen.

“Sampai saat ini, saya masih menggunakan Facebook untuk menawarkan produk saya. Kan banyak itu grup-grup hiasan rumah, terus aku posting di sana,” jelas Udin.

Terlepas dari itu semua, kini pemuda yang tinggal di pelosok desa itu bisa meraup omzet hingga puluhan juta per bulan. Tentu hal ini tidak lepas dari kegigihan serta kerja kerasnya dalam membangun sebuah usaha rumahan. Baginya, yang paling penting menjalani bisnis usaha rumahan bukan perkara mencari keuntungan saja, tetapi bagaimana caranya agar beliau terus bisa memberdayakan masyarakat di kampung halamannya.

Tidak bisa dimungkiri bahwa tingkat urbanisasi di Gunungkidul cukup tinggi. Untuk itu, besar harapan dengan adanya usaha batu ukir rumahan ini akan terus mampu menyerap para pemuda di kampungnya sehingga bisa menekan angka urbanisasi. Dengan begitu, para pemuda di desanya mampu mandiri dan berkarya di tanah kelahirannya.

“Ya, masalah hasil sebenarnya piker keri(pikir belakangan), yang penting bisa memberdayakan anak-anak muda di kampung halaman, saya sudah sangat bersyukur,” pungkas Udin mengakhiri perbincangan.  (Uli)

loading...