Kisah Suasana Di Bekasi Usai Bung Karno Membacakan Proklamasi Kemerdekaan RI

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Kamis, 19 Agustus 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Selesai upacara, berita proklamasi langsung disebar ke pelosok Jakarta, Jawa Barat dan kota-kota besar lainnya, termasuk Bekasi menggunakan berbagai sarana. Baik pemuda yang menyaksikan langsung hingga alat komunikasi seperti radio hingga telegram.

Dikutip dari Merdeka.com (17/08/2021), ‘Kemandirian Ulama Pejuang, KH Noer Alie’ karya Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, seorang pemuda dari Bekasi, Ya’kub Gani menyaksikan langsung pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno di Jakarta. Setelah selesai, ia bergegas pulang, mengabarkan berita gembira itu kepada gurunya, KH Noer Alie, Pahlawan Nasional asal Bekasi.

Noer Alie yang sudah merasakan gelagat kemerdekaan, menyambut kabar itu dengan suka cita. Hari itu juga, Jumat sore, Noer Alie mengumumkan berita proklamasi kepada para badal, santri dan masyarakat di masjid Kampung Ujungmalang, Bekasi.

“Noer Alie menerangkan makna kemerdekaan sebagai bentuk kebebasan bumiputera dari penjajahan bangsa lain, terutama Jepang, Belanda dan tuan tanah hina,” Ali Anwar.

Di beberapa tempat di Bekasi, semangat kemerdekaan dibarengi dengan rasa dendam terhadap penjajah, sehingga sempat menimbulkan kekerasan. Beberapa tentara Jepang dan tuan tanah China yang dijumpai massa Bekasi dilucuti senjatanya, bahkan ada yang dibunuh.

“Tindakan awal dari kemarahan massa di Bekasi dilakukan ketika pada 25 Agustus 1945 rakyat Bekasi melucuti senjata tuan tanah China di Teluk Pucung (Bekasi Utara) dan menahan 49 truk Jepang,” kata Ali Anwar.

Senjata dan dua unit truk diambil alih massa, sedangkan 47 lainnya beserta pasukannya diperintahkan pergi ke Jakarta. Tak hanya itu, kemarahan juga ditujukan kepada aparat pemerintah pada masa pendudukan seperti wedana, camat, lurah, dan polisi.

“Mereka melarikan diri dan mengosongkan kantornya,” kata Ali Anwar.

Ketika pemerintahan kosong, sebagai realisasi dari sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 19 Agustus 1945, tentang pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), pada 28 Agustus di Bekasi dibentuk KNID (daerah) Bekasi. Ketuanya M. Lubis, dan Ahmad Djaelani sebagai sekretarisnya.

Adapun Muhammad bin Haji Rijan diangkat sebagai Kepala Kepolisian Bekasi. Pembentukan KNID sampai tingkat kampung. Di Ujungmalang, Noer Alie terpilih sebagai Ketua KNID Kecamatan Babelan bersama kakaknya Thayeb sebagai Lurah. (Uli)