Kisah Srikandi Papua Dari Karyawan Toko Berjuang Menjadi Prajurit TNI

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 20 Februari 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – 40 Srikandi asal Papua direkrut menjadi anggota TNI AD lewat program 1.000 prajurit otonomi khusus 2020.

Setelah menjalani seleksi hingga dinyatakan lolos, 40 prajurit wanita tersebut akan bergabung dengan Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad).

Dalam rangka menjadi seorang anggota Kowad, mereka pun harus menempuh pendidikan pertama bintara (Dikmaba) di Pusdik Kowad yang berada di Bandung, Jawa Barat yang dimulai pada September 2020.

40 srikandi Papua tersebut mengikuti pendidikan bersama prajurit siswa reguler sebanyak 181 orang.

Dalam tayangan Chanel Youtube TNI AD, terungkap perjuangan para Srikandi asal Papua tersebut hingga bisa begabung dengan TNI AD.

Sarce Namora seorang prajurit siswa Dikmaba Otsus Papua mengungkap sebelum memilih bergabung dengan TNI AD, dirinya bekerja sebagai karyawan toko untuk biaya dirinya kuliah.

“Bapak saya bekerja sebagai nelayan dan ibu saya sebagai pedagang kaki lima. Keseharian saya adalah sebagai seorang karyawan di toko dan saya bekerja untuk membiayai saya kuliah,” ujarnya dilansir dari Chanel Youtube TNI AD yang diunggah pada 3 Februari 2021, dilansir dari Tribunnews.com (18/02/2021)

Ia ingin membuktikan kepada tetangga-tetangganya bila dirinya bisa bergabung dengan Kowad tidak mengeluarkan biaya.

“Sampai akan membuktikan pada tetangga-tetangga saya yang sering bilang kalau memasuk Kowad itu harus mengeluarkan uang. Jadi saya bilang kepada mereka kalau untuk jadi Kowad itu tidak membutuhkan biaya saya akan buktikan pada mereka kalau apa yang mereka bilang itu salah,” katanya.

Lain halnya dengan Lisabet Duwith, prajurit siswa asal Papua lainnya.

Ia mengaku dirinya sudah percaya diri bisa begabung dengan Kowad saat mendengar ada program otonomi khusus.

Alasannya, dirinya merupakan orang asli Papua.

“Dari situ saya dengar Otsus diterima dan sampai akhirnya mengikuti pendidikan di sini. Saya sangat bersyukur,” ujarnya.

Ia pun bercerita bila dirinya untuk mengikuti seleksi anggota TNI AD dirinya terpaksa menggunakan gaji terakhir orang tuanya.

Sebetulnya, gaji terakhir ayahnya tersebut sebelumnya akan digunakan kakaknya untuk membayar biaya semester kuliah.

“Saya enam bersaudara. Saya anak keempat yang nomor tiga kuliah, tapi karena saya masuk anggota, dia tidak jadi kuliah karena hari itu gaji terakhir bapak saya yang pakai,” katanya.

Namun, karena tekad dan keyakinannya akhirnya ia lolos hingga akhirnya bisa mengikuti pendidikan menjadi seorang prajurit TNI AD.

“Puji tuhan saya lolos, nanti saya yang membiayai kakak sama adik-adik. Tunggu saya pulang bawa hasil yang baik membahagiakan keluarga dan saya akan buktikan pada keluarga kalau saya bisa,” ujarnya.

Kemudian Monggalina Bahamba, srikandi Papua lainnya mengaku dirinya termotivasi bergabung dengan TNI AD karena kakaknya.

Ia bercerita bila dirinya terdiri dari 10 bersaudara.

“Pertama kakak saya itu laki-laki, kami 10 bersaudara. Laki-lakinya cuma dua, yang satunya tentara tetapi sudah meninggal. Dia meninggal pada saat saya masih SD kelas enam,” katanya.

Dari situ dirinya termotivasi untuk menjadi seorang prajurit TNI menggantikan kakaknya yang sudah meninggal dunia.

“Di situ saya termotivasi bahwa kakak saya sudah pergi saya juga harus berjuang untuk saya menjadi seorang tentara. Saya harus berjuang menggantikan kakak saya,” katanya.

Sementara itu, Kolonel Caj (K) Maria I Suparni selaku Komandan Pusdik Kowad mengunkapkan harapannya kepada para srikandi Papua tersebut.

“Saya berharap sama mereka dan itu yang selalu saya sampaikan jadilah kebanggan keluarga, kebanggan dirimu sendiri, kebanggan untuk negara mu, dan jadilah prajurit itu yang bertakwa, berintegritas, dan yang profesional,” ujarnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: