Kisah Shahid Khan, jadi tukang cuci piring hingga beli stadion

FOTO: merdeka.com/idolinear.com
Sabtu, 14 September 2019

Indolinear.com, AS – Seorang miliarder bernama Shahid Khan mendadak menjadi sorotan dunia karena membeli stadion Wembley. Stadion terbesar di Inggris tersebut dibanderol seharga 600 juta pound sterling atau setara Rp 8,9 triliun (1 pound sterling = Rp 19.602).

Shahid Khan adalah keturunan Pakistan, namun ia bukan keturunan bandar minyak atau saudagar makmur. Keluarganya adalah imigran yang pindah ke Amerika Serikat (AS) saat dirinya masih berusia 16 tahun, demikian Dilansir dari Merdeka.com (12/09/2019),

Shad Khan, panggilan akrabnya, bekerja sebagai tukang cuci piring ketika remaja. Lingkungan AS yang berbeda dengan Pakistan pun tidak membuat dirinya patah semangat. Ia malah membaurkan dirinya.

Menurut Jacksonville, saat kuliah, ia masuk ke kelompok Beta Theta Phi di Universitas Illinois, padahal kelompok mahasiswa tersebut secara tradisional selalu diisi mahasiswa kulit putih. Ternyata, Khan menjadi anggota yang populer, dan di sana ia belajar mengenai pasar saham.

Dalam dunia karier, ia memulai dari bisnis bumper truk, Flex-N-Gate. Yang membangun perusahaan tersebut bukan dia, tetapi dibeli oleh Shad pada 1980. Sekarang, perusahaan bumper truk itu memiliki 62 pabrik dan 24 ribu pegawai di seluruh dunia.

Kekayaan Shad? Menurut Forbes, kekayaan Shad Khan mencapai USD 7,5 miliar (Rp 111 triliun, USD 1 = Rp 14.895). Dia juga pemilik dari klub sepak bola Fulham dan NFL Jacksonville Jaguar.

Shad Khan, sudah mencapai kesepakatan dengan Football Association (FA). Pembelian ini sudah dinegosiasikan semenjak April lalu. Pembelian pun sudah tinggal satu langkah lagi. Dewan FA akan melakukan pertemuan pada Kamis besok untuk memutuskan persetujuan mereka.

Terdapat beberapa persyaratan yang tertuang dalam pembelian ini. Salah satunya adalah klausa pembelian kembali stadion Wembley apabila Khan didakwa kasus kejahatan atau ditahan pihak berwajib.

Tidak semua pihak senang atas langkah ini. Yang paling vokal menolak adalah Gary Neville, mantan pemain Manchester United. Neville kecewa atas keputusan penjualan aset nasional oleh FA, meskipun alasannya adalah untuk mendanai program akar rumput, bahkan menyebut penjualan ini sebagai omong kosong. (Uli)

INDOLINEAR.TV