Kisah Rosid Pelukis Ternama Jabar Yang Lahir Dari Keluarga Petani

FOTO: detik.com/indolinear.com
Senin, 26 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Bandung – Saat ini tak banyak yang mempertahankan seni lukis sebagai guratan jalan hidupnya. Tapi untuk Rosid pria kelahiran Parigi, Pangandaran menekuni seni lukis menjadi bakat alam yang dianugrahi Tuhan hingga mengantarkannya sebagai seniman lukis yang karyanya sampai internasional.

Rosid menekuni seni rupa dan lukis sejak tahun 1989. Saat itu, dia bertekad berangkat dari Pangandaran ke Bandung untuk fokus pada bakat lukisnya.

“Bakat seni saya bukan turunan dari orang tua saya. Ini bakat alam, bakat yang Tuhan percayakan ke saya bahwa saya bisa meniti karir lewat seni lukis. Orang tua saat itu mendo’akan saya,” kata Rosid, dilansir dari Detik.com (24/07/2021).

Selama meniti karir sebagai pelukis, Rosid sempat beberapa kali mengikuti pameran dan bergabung dalam sanggar lukis pada 1989. Kemudian 1997 mengikuti pameran bersama, 2007 pameran di Gallery Sumardja, 2008 di Semarang, 2010 di Gallery Kana di Jakarta, hingga akhirnya pada 2015 membuat pameran tunggal dalam menyambut Konferensi Asia Afrika.

Semangatnya untuk terus menggapai tujuannya patut diacungi jempol. Berawal dari pameran bersama dan anggapan masyarakat tentang seniman yang saat itu belum mendapat apresiasi, akhirnya berbuah manis.

Pada 2006 ia membeli lahan kosong yang menjadi cikal bakal Rumah Budaya Rosid. Dulunya, lahan tersebut menjadi tempat pembuangan sampah, kontur tanahnya miring dan ditumbuhi belukar.

Di situ ia mendirikan saung dari bekas lumbung padi dari Jawa Timur. Kemudian, dia mengumpulkan peralatan pertanian dan rumah tangga tradisional seperti alat bajak yang biasa ditarik kerbau, garu, lesung-lesung dari kayu gelondongan, cobek, cangkul dan peralatan dapur tradisional yang kini tak lagi dipakai oleh masyarakat modern.

Bukan tanpa sebab, Rosid membuat rumah budaya dengan nuansa alat tradisional tani karena dulu ayahnya seorang Petani. Dia tak ingin melupakan masa-masa dan perjuangan ayahnya dan para petani lain.

“Awalnya Rumah Budaya ini dibuat untuk pribadi, karena tujuan saya fokus ke seni lukis. Lama kelamaan kok banyak yang pengen kesini, akhirnya bikin gallery dan pernah dipakai untuk pameran,” kata Rosid.

Rumah Budaya Rosid ini berada di Jalan Cigadung Raya Tengah No. 40 Cigadung Kecamatan Cibeunying Kaler Kota Bandung. Selain pajangan hasil karyanya, di sana juga terdapat cafe yang dapat dinikmati pengunjung studio.

Hasil lukisan Rosid sempat diterbangkan ke luar negeri seperti Singapura hingga Pilipina. Kebanyakan dari hasil karya lukisnya bertema sosok dan tokoh sejarawan dan public figur.

“Mungkin ada ratusan lukisan saya yang tersebar ke beberapa tempat di Indonesia dan luar negeri, yang pada akhirnya karya seni saya di apresiasi sama orang lain sampai dengan kisaran Rp 45 juta per lukisan,” ujarnya.

“Mudah-mudahan apa yang saya lukis apa yang saya kumpulkan, apa yang saya tata bisa menjadi bahan perenungan dan pembelajaran untuk generasi berikutnya,” ujar Rosid. (Uli)