Kisah Pasangan Buruh Gendong Di Banjarnegara Akhirnya Naik Haji

FOTO: detik.com/indolinear.com
Sabtu, 27 Juni 2020
loading...

Indolinear.com, Banjarnegara – Mimpi Suparmo (51) dan istrinya, Ginah (48) berangkat ke tanah suci sudah di depan mata. Pasangan suami istri yang setiap harinya bekerja sebagai buruh panggul dan gendong ini seakan tidak percaya jika tahun ini akan menjalankan ibadah haji.

Rumahnya berada di tengah kebun salak, tepatnya di Dusun Sela, Desa Pakelen, Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara. Hanya ada satu jalan sempit dengan lebar sekitar 1 meter yang menjadi akses satu-satunya menuju rumah Suparmo.

Suparmo beserta istri tergabung dalam kelompok terbang 74 dan akan berangkat ke asrama haji di Donohudan Solo 27 Juli 2019 nanti. Namun, sampai saat ini mereka masih melakukan aktivitas seperti biasa yakni sebagai buruh panggul dan gendong.

Suparmo setiap harinya bekerja sebagai buruh panggul kayu albasia. Kayu yang sudah dipotong-potong dibawanya dari kebun hingga diangkut ke truk. Sesekali ia juga memikul salak saat musim panen.

“Untuk ongkos ‘manggul’ kayu Rp 30 ribu tapi masih kotor. Kalau jaraknya dekat bisa berkali-kali. Sedangkan untuk mikul salak ongkosnya Rp 6 ribu untuk dua keranjang,” ujar kakek dua cucu ini saat ditemui di rumahnya, dilansir dari Detik.com (25/06/2020).

Sedangkan istrinya juga melakukan hal serupa. Ia bekerja menggendong salak dari kebun hingga ke pengepul. Upahnya lebih sedikit, sebab ia hanya kuat membawa satu keranjang.

“Satu kali gendong Rp 3 ribu, karena memang kuatnya satu keranjang digendong,” kata Ginah.

Pekerjaan ini sudah digelutinya sejak kecil. Bahkan, Ginah mengaku keinginan untuk pergi ibadah ke tanah suci pertama kalinya dilontarkan di sela-sela ia menggendong salak pada awal tahun 2000 silam.

“Dulu saya pernah ditanya, rajin ‘nggendong’ salak mau buat apa?. Kemudian tanpa banyak pikir saya jawab untuk pergi haji. Alhamdulillah pada tahun 2011 saya bisa daftar haji,” tuturnya.

Uang tabungannya saat itu berjumlah Rp 10 juta dibayarkan untuk mendaftar haji. Untuk melunasi sisanya, keduanya menyisihkan upah buruhnya. Upah yang tak tentu, tak menyurutkan niat mereka untuk terus menabung. Bila musim panen tiba, mereka mengaku bisa menabung Rp 50 ribu-Rp 100 ribu tiap harinya.

Usaha menyisihkan uang sedikit-demi sedikit akhirnya terbayar. Meski saat ini ia mengaku masih tidak percaya jika mimpinya untuk menjalankan ibadah rukun Islam kelima ini akan segera terwujud.

“Rasanya masih tidak percaya, karena kami bekerja sebagai buruh gendong dan panggul, tapi Alhamdulliah tahun ini bisa berangkat. Semoga semuanya lancar,” kata dia. (Uli)

Pernah mendengar kisah seorang dermawan yang kaya raya membawa 72 ribu orang untuk melaksanakan ibadah haji bersama? Kisah itu benar adanya. Hasil penelitian menyebut terjadi ditahun 1300-an. Berikut kisahnya inspiratifnya.

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: