Kisah Mustofa, Penyandang Difabel Peracik Miniatur Kapal Pinisi

FOTO: detik.com/indolinear.com
Minggu, 16 Februari 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT KECANTIKAN. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Cirebon -Mustofa  sibuk memotong bambu. Kendati memiliki keterbatasan fisik, dia cekatan memotong bambu. Difabel asal Cirebon ini mencoba peruntungan menjadi seorang perajin miniatur perahu pinisi berbahan bambu.

Lelaki berusia 26 tahun ini mengenal bambu sejak 2006. Bambu menuntun kreativitasnya untuk terus berjuang. Mustofa terserang polio sejak masih balita. Dia mengaku kerap mengalami patah tulang. Pertumbuhan tubuhnya pun tak sempurna.

“Katanya terkena rapuh tulang, karena polio,” kata Mustofa saat berbincang dengan detikcom di kediamannya, Desa Guwa Lor, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dilansir dari Detik.com (14/02/2020).

Tinggi badan Mustofa sekitar satu meter. Kaki kanannya lebih panjang dibandingkan bagian kiri. Mustofa menggunakan bagian lututnya untuk berjalan. Polio menggerogoti tubuhnya, tapi tidak dengan semangat hidupnya.

 

Sebelum memilih menjadi peracik perahu pinisi, Mustofa sempat berbisnis kandang dan pakan unggas. Namun, ia terpaksa menutup bisnis itu pada 2014.

“Bosan, terus saya bergelut lagi dengan bambu. Kemudian jadi seperti ini (perajin miniatur pinisi),” katanya.

Dia mengaku tak kesulitan menyulap bambu menjadi miniatur perahu pinisi. Namun, Mustofa tak menampik, sebagai difabel perlu dukungan secara moral agar terus memperjuangkan hidupnya.

“Keterbatasan tidak membuat saya sulit. Butuhnya dukungan secara moralis, ya dukungan dari lingkungan,” kata pria berbaju hitam ini.

April menjadi bulan kelima Mustofa memproduksi miniatur perahu pinisi. Sahabatnya membantu memasarkan miniatur pinisi melalui media sosial (medsos). Mustofa belum bisa memasarkan sendiri lantaran tak punya ponsel pintar.

Ia kaget saat sahabatnya, Ubaidilah (33), berkunjung ke rumahnya dan memesan sejumlah miniatur pinisi. Ya, Ubaidilah merupakan tangan kedua yang membantu pemasaran miniatur pinisi.

“Alhamdulillah, teman-teman ada yang support. Selain perahu, ada juga rumah gadang. Harganya tergantung tingkat kesulitannya, dari Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu,” ucap Mustofa.

Mustofa mulai kebanjiran order saat Ubaidilah mengunggah beberapa hasil kerajinan miniatur pinisi di akun Facebook Ocol Sang Petualang. Bahkan, menurut dia, sejumlah TKI yang berada di luar negeri memesan hasil kerajinannya.

“Ya masih wilayah Jabar, ada juga (pesanan) dari Taiwan, Hongkong, dan Australia,” ucapnya.

Mustofa Melawan Stigma

Stigma miring terhadap difabel kerap dirasakan Mustofa. Direndahkan, dianggap sebagai pengemis, dan lainnya. Stigma masyarakat itu membuat Mustofa mengelus dada. Kejadian tak mengenakan itu kerap dialami dia.

“Saya pernah jenguk teman ke rumah sakit, tapi mampir dulu ke minimarket buat beli minum. Padahal saya mau beli minum, saya malah dikasih receh dianggap karena dianggap pengemis. Sering mendapat perlakuan seperti itu,” katanya.

Kejadian yang sama juga ia alami saat menaiki angkutan umum. Mustofa selalu menolak saat diberi uang receh. Baginya stigma tersebut harus dilawan.

“Ya menolak secara ramah, maaf saya bukan orang seperti itu (pengemis). Mungkin maksudnya baik, tapi tempatnya salah,” ucapnya.

Mustofa memegang prinsip memberi lebih baik daripada menerima. Baginya, salah satu jalan menuju surga yaitu berbuat baik atau membantu orang lain. “Menjadi pengemis itu tak akan mencium bau surga. Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang pengemis,” tuturnya.

Menurut Mustofa, penyandang difabel hanya perlu dukungan secara moral. Masyarakat seharusnya tak hanya memandang keterbatasannya. “Harapannya ya mendapat dukungan. Dukungan agar tidak memandang kami seperti ini (keterbatasan fisik),” kata Mustofa sambil menunjukkan keterbatasan fisiknya.

Belasan Tahun Ditinggal Orang Tuanya

Mustofa merupakan anak dari suami-istri yang sudah bercerai, Sukemi (52) dan Ocah (49). Ocah, ibu kandung Mustofa menceritakan pahitnya kehidupan yang dirasakan Mustofa sejak balita. Ocah resmi bercerai dengan suaminya, Sukemi saat usia Mustofa masih 25 hari.

Mustofa lahir prematur di Banten. Ocah melahirkan Mustofa saat usia kandungannya sekitar 7 bulanan.

“Saat usianya masih 25 hari, saya cerai dengan suami. Saya bawa ke sini (Cirebon). Kemudian diasuh sama ibu saya,” kata Ocah.

Beberapa tahun setelah bercerai dengan Sukemi, Ocah menikah lagi untuk kedua kalinya. Kemudian, Ocah bertolak ke Arab Saudi untuk mencari nafkah. Ocah kerap bergonta-ganti majikan.

“Saya 18 tahun di Saudi. Anak saya sekarang tumbuh dewasa, memang kasih sayang tidak bisa saya berikan. Saya hanya bisa kasih uang. Karena saya pengen Mustofa jadi orang,” katanya.

Alhamdulillah anak saya ada kemajuan. Semoga bisa bermanfaat, bisa menolong orang.

Ocah, ibu kandung Mustofa

Air mata Ocah menetes. Ocah mengingat kenangan pahit memperjuangkan Mustofa di negeri orang. Selama 18 tahun menjadi TKI, Ocah mengaku sempat pulang ke Cirebon. Terakhir ia pulang pada 2018.

“Ya dua sampai empat tahun terus balik. Ini sudah satu tahun di sini,” ucapnya.

“Alhamdulillah anak saya ada kemajuan. Semoga bisa bermanfaat, bisa menolong orang. Walau kondisinya tidak sama dengan orang lain,” tutur Ocah. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: