Kisah Mita Saputri Pelayan Toko Yang Kini Kuliah Pascasarjana

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Jumat, 24 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Mei 2021. Toko itu berdiri memanjang di pinggir kali. Terletak di Jalan Selokan Mataram, Kledokan, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di bagian atap toko itu tertulis “ Urban Perfurme Point”.

Toko itu memang khusus menyediakan parfum. Di bagian dinding belakangnya terlihat rak-rak kayu terbuka berukuran besar. Di dalamnya tersusun puluhan botol parfum dalam ukuran besar. Berdiri rapi samping menyamping sehingga memanjakan mata yang melihatnya.

Di depan rak, ada meja kaca setinggi pinggang memanjang. Di dalam meja kaca tersusun ratusan botol parfum dalam ukuran yang lebih kecil. Para pembeli yang datang, bisa langsung memarkirkan sepeda motornya di conblock di depan toko parfum itu.

Di antara pelayan toko, terselip seorang wanita berjilbab. Ia mengenakan masker saat bekerja sehingga wajahnya tak terlihat jelas. Dengan ramah dia meladeni satu per satu pertanyaan pembeli tentang parfum yang tersedia di meja kaca. Sesekali, dia mengeluarkan produk untuk memberi kesempatan pada konsumen mengetahui wangi dari produk parfum  itu.

Wanita berjilbab yang menjadi penjaga toko pada bulan Mei 2021 itu seorang mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta.

Ia bernama Mita Saputri. Saat itu, dia masih tercatat sebagai mahasiwi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ia juga penerima beasiswa Bidikmisi.

“ Saya bekerja untuk menambah uang saku,” ujarnya yang dilansir dari Dream.co.id (22/06/2022).

Kini, mahasiswi pelayan toko itu sudah lulus dari UNY dan menjadi salah satu lulusan terbaik.

Bahkan, dia kini tengah melanjutkan kuliah S2 di jurusan yang sama di Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Mita Saputri lahir di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Ia anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya laki-laki, dan sekarang sudah menikah.

Desa Jatijajar adalah desa yang terkenal dengan obyek wisatanya.  Jaraknya 1,5 jam berkendara motor dari kota Kebumen. Desa ini berada di ujung bagian Barat Kebumen dan berbatasan langsung dengan Cilacap.

Ayah Mita bernama Turmudi. Sedangkan ibunya bernama Siti Fatimah.

Sehari-hari, ibunya bekerja sebagai tukang jahit di rumah. Ia penjahit rumahan. Ibunya biasa menerima jahitan dari tetangga. Menjahit pakaian lebaran atau sekedar menambal pakaian yang robek. Terkadang pula membuat seragam sekolah siswa. Pernah ibunya mendapat pesanan membuat seragam untuk satu kelas. Ini pesanan terbesar yang pernah diterima.

Karena bekerja seorang diri, ibunya tak bisa menerima banyak pesanan. Untuk menyelesaikan pesanan cukup banyak, seperti pesanan seragam kelas,   dia perlu bantuan Mita dan ayahnya, misalnya untuk membuat lubang dan memasang kancing.

Sedangkan Turmudi sehari-hari bekerja sebagai buruh ketip. Buruh ketip adalah seorang buruh tani yang bertugas merontokkan batang-batang padi ke mesin padi agar menjadi beras.

Ayahnya hanya sibuk bekerja pada saat musim panen padi. Di luar musim itu tidak banyak pekerjaan dilakukan. Jadi, ketika istrinya dapat pesanan jahitan, Turmudi membantu untuk membelikan kancing atau keperluan jahit lain ke toko dengan menaiki sepeda atau sepeda motor tuanya.

Mita sekolah SD di Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada tahun 2005. Enam tahun kemudian dia melanjutkan sekolah di SMP 1 Ayah. Pada tahun 2014, setelah tamat SMP dia melanjutkan sekolah di SMA 1 Rowokele.

SMA 1 Rowokele berada di Kecamatan Rowokele. Jaraknya cukup jauh dari Kecamatan Ayah, tempat tinggal keluarga Mita. Saat duduk di kelas 10 dan 11, Mita biasa bersepeda saat menuju sekolah. “ Saya butuh waktu hingga 20 menit kalau naik sepeda,” kata Mita, mengenang.

Pada tahun 2017, barulah dia diperbolehkan naik sepeda motor tua ayahnya, yakni Honda Astrea Supra. Jadi ketika teman-temannya naik motor matic, dia masih menggunakan sepeda motor tua ayahnya.

Saat duduk di kelas III SMA atau kelas 12, ada yang berkesan pada Mita. Selama satu jam dalam seminggu, seorang guru Bimbingan dan Konseling atau guru BK selalu masuk ke dalam kelas Mita. Guru BK itu bernama Rumiyani.

Di kelas, Guru BK Rumiyani selalu mendorong semangat para siswa/i-nya untuk melanjutkan ke jenjang studi lebih tinggi atau melanjutkan kuliah. Dari Ibu Rumiyani itu juga Mita baru mengetahui bahwa pemerintah menyediakan beasiswa Bidikmisi untuk membantu siswa yang orangtuanya tidak mampu untuk membayar uang kuliah.

Mendengar itu, Mita pun bersemangat untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Namun saat dia menyampaikan kabar kuliah dengan Bidikmisi itu, ternyata orang tuanya tidak terlalu antusias.

“ Apa benar bisa membiayai kuliah? Lantas, bagaimana soal membayar indekos?” demikian orang tua Mita mempertanyakan.

Orangtuanya memang meragukan beasiswa Bidikmisi bisa mengatasi kendala itu. Mengingat orangtua Mita bukan berasal dari orang yang mampu secara ekonomi. Malah boleh dibilang pas-pasan.

Kesangsian orangtuanya tak membuat Mita patah semangat. Karena dari guru BK dia mengetahui penerima beasiswa Bidikmisi dapat digunakan untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) setiap semester, juga  mahasiswa akan menerima uang saku sebesar Rp 700 ribu per bulannya.

“ Jadi Bu Rumiyani bilang, lewat beasiswa Bidikmisi itu tidak perlu bayar uang kuliah. Malah diberi uang saku,” ujar Mita.

Mita lalu mencoba meyakinkan kedua orang tuanya untuk merelakannya  kuliah. Menurut perhitungan Mita, biaya yang akan dikeluarkan orangtuaya hanya Rp 4-7 juta per tahun untuk biaya kos. Menurutnya itu hampir sama dengan biaya sekolah waktu dia SMA. Selama di SMA, orang tuanya membayar Rp 250 ribu per bulan untuk biaya sekolah. Berarti untuk setahun itu orang tuanya selama ini setidaknya sudah mengeluarkan Rp 3 juta setahun.

Awalnya, orang tuanya tetap merasa ragu. Tapi, saat tetangga mereka, Enggista Hendriko Delano diterima di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY melalui bidikmisi, sikap ayah Mita pun berubah. Akhirnya Turmudi mengizinkan Mita menempuh pendidikan tinggi.

Mita pun mendapat lampu hijau atau restu dari ibu dan ayahnya untuk kuliah. Dengan syarat dia harus kuliah di perguruan tinggi negeri dan mendapat beasiswa Bidikmisi.

Maka, setelah lulus SMA pada tahun 2017,  dia pun ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Karena saat SMA dia ada di kelas IPA, dia pun menyasar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Ia juga melamar beasiswa Bidikmisi.

Ia mengikuti seleksi dari  jalur rapor, seleksi masuk bersama, dan seleksi mandiri. Sayangnya Mita gagal.  Akhirnya dia terpaksa menganggur selama setahun.

Saat Mita gagal masuk PTN, Mita sudah pasrah. Dia berniat merantau ke Jakarta untuk mencari kerja. Tapi ayahnya tak mengizinkan. Ayahnya hanya mengizinkan Mita pergi ke Jakarta bila tujuannya kuliah. “ Buat apa kerja, kamu masih muda,” kata ayahnya.

Ketika dia tengah menganggur, tiba-tiba tetangganya yang suaminya bekerja sebagai guru di SMP 1 Ayah, bekas sekolah Mita dulu, mengajaknya berbisnis.

Tetangganya itu ingin membuat kios jajanan di SMP 1 Ayah. Dan Mita diminta untuk membantu-bantunya di kios. Mita pun langsung mengiyakan, karena dia sendiri tak tahu harus ke mana setelah tamat SMA.

Akhirnya Mita bekerja sebagai pelayan kios jajanan di kantin. Ia membuka kios pada jam 6 pagi saat anak-anak mulai datang ke sekolah. Ia baru membereskan kios jajanan itu ketika anak-anak pulang sekolah jam 2 siang.

Meski waktu bekerjanya dari pagi hingga jelang sore, tapi di sela-sela waktu kerjanya itu dia memiliki waktu luang cukup berlimpah. Karena, anak-anak sendiri jajan di kios kantin sekolah biasanya jam pukul 6 sampai pukul 7 saat sebelum masuk kelas. Lalu, saat istirahat pada pukul 9  dan pukul 12. Itu pun paling hanya 15 menit. Di sinilah Mita menggunakan waktu luang itu untuk tetap belajar.

Untuk itu, Mita selalu membawa tas ransel besar yang berisi dua buku berjudul “ King SNMPTN.” Satu buku keluaran 2017 yang diberikan oleh seorang teman, sementara buku keluaran tahun 2018 dia beli sendiri. Isinya berisi ragam soal masuk perguruan tinggi negeri.

Jadi, selama setahun, Mita benar-benar mempersiapkan diri dengan belajar di sela kesibukannya menjadi penjaga kantin sekolah.

Oleh pemilik kantin, Mita mendapat gaji Rp 400 ribu sebulan. Oleh Mita, uang itu tidak digunakan. Melainkan ditabung.

Ia  lalu menuturkan rencana tabungannya pada ibunya. “ Rencananya tabungan itu untuk biaya kos setahun pertama,“ ujarnya. Hebatnya, selama setahun bekerja, Mita berhasil mengumpulkan uang sampai Rp 3 juta lebih.

Akhirnya pada tahun 2018, setelah setahun menganggur dan belajar mati-matian, Mita ikut lagi seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Dia memilih jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ia juga melamar untuk beasiswa Bidikmisi.

Alhamdulillah, kerja keras Mita untuk belajar selama setahun terbayar. Dia diterima di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY.  Itu terjadi bulan Juni 2018.

Ia mengikuti Ospek pada Agustus 2018. Tapi pada saat itu dia belum mendengar kabar soal pengajuan beasiswa Bidikmisi-nya. Oktober 2018 akhirnya baru pengumuman penerima Bidikmisi  keluar. Sayangnya, kabar pahit yang harus ia terima. Mita dinyatakan tidak  lolos sebagai penerima beasiswa bidikmisi.

Mita pun panik. Apalagi saat teringat pesan orang tuanya bahwa dia boleh kuliah asal dia mendapat beasiswa Bidikmisi. Mita lantas mencari kejelasan penyebab dari kampus mengapa dia tak bisa menerima beasiswa Bidikmisi.

Karena tengah kalut dan nyaris putus asa, dia pun memberanikan diri langsung menghubungi Wakil Rektor III bagian kemahasiswaan, Profesor Sumaryanto, yang sekarang menjabat Rektor UNY, melalui pesan Whatsapp. Tak disangka pesannya itu segera dibalas Profesor Sumaryanto. Menurutnya, pihak kampus akan mengumpulkan pelamar Bidikmisi untuk menjelaskan penyebabnya.

Pada saat pertemuan itu digelar, pihak kampus menjelaskan memang tengah terjadi pengurangan penerima beasiswa. Dari 1.500 pemohon, yang dikabulkan cuma 700. Sebab, saat itu terjadi Gempa Palu. Sehingga dana Bidikmisi dialokasikan ke Palu. Untuk 500 pemohon yang tertunda, pihak kampus berjanji akan segera mengajukan ke pusat agar bisa menerima beasiswa Bidikmisi.

Menanggapi kabar yang kurang menyenangkan itu orang tua Mita memakluminya. Mereka berpesan agar Mita tetap fokus kuliah.

Saat menjelang akhir semester I yang uang kuliahnya MIta belum bayar, kabar gembira datang. Mita mendapat kabar permohonan beasiswa Bidikmisinya dikabulkan.

Alhasil dia tak perlu membayar uang kuliah atau UKT sampai selesai kuliah. Selain itu, dia menerima uang Rp 4,2 juta per semester yang bisa digunakan sebagai uang saku. Artinya dia bisa mengantungi uang Rp 700 ribu sebulan dari uang itu.

Mita hidup berhemat dengan uang saku Bidikmisi-nya. Ia makan dengan lauk sederhana. Untunglah di dekat tempat kosnya ada warung yang menjual makanan murah. Harga nasi, sayur dan tempe cuma Rp 4 ribu. Kalau pakai ayam cuma Rp 7 ribu.

“ Tapi warung itu laris. Jam 2 siang sudah habis. Jadi, saya menyiasati dengan makan di tempat untuk siang hari, dan minta dibungkus satu untuk makan malam,” ujarnya tentang cara dia berhemat.

Selama kuliah, Mita aktif mengikuti berbagai event mahasiswa, seperti Panitia Bulan Bahasa, hingga menjadi top 5 Duta Kampus UNY 2019.

Mita juga aktif sebagai tentor privat untuk pembelajaran baca, tulis hitung atau calistung TK, dan mata pelajaran Bahasa Indonesia bagi SMP dan SMA. “ Hal itu saya lakukan setelah selesai kuliah dan pada hari libur untuk menambah uang saku, sekaligus meningkatkan keterampilan mengajar saya,” paparnya.

Tak hanya itu, Mita bahkan sempat bekerja di salah satu toko parfum untuk menambah uang sakunya. Ia bekerja pada bulan Mei 2021 sebagai pelayan toko Urban Perfume di Yogyakarta.

“ Saya ambil partime lima jam kerja dengan gaji Rp 700 ribu. Tetapi saya hanya bekerja di sana selama satu bulan. Karena saya harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata,” katanya.

Akhirnya Mita lulus dari UNY dengan predikat Cumlaude ber-IPK 3,68 dengan masa studi hanya 3 tahun 4 bulan. Ia diwisuda pada bulan Februari 2022.

Kini, Mita kemudian melanjutkan pendidikan magister atau S2 di UNY pada program Intake yang memulai kuliah pada Februari 2022. Jurusan yang diambilnya pun linear dengan S1-nya, yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Untuk membiayai uang kuliah S2-nya, Mita memilih untuk menjadi Student Employee, yaitu mahasiswa yang bekerja di kampus untuk membantu membiayai kuliahnya. Mita sekarang bekerja  sebagai Staf Tata Usaha Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNY.

Sebagai student employee, Mita mengaku bekerja selama 8 jam sehari, kecuali hari libur. Upahnya dibayar per jam. Dalam sebulan dia bisa menerima Rp 1,5 juta. “ Bisa ditabung untuk membayar uang kuliah S2 sebesar Rp 7,5 juta per semester,” katanya.

Untuk menambah pemasukan, Mita masih menjadi tentor calistung alias membaca, menulis dan berhitung. Ia juga guru les mata pelajaran Bahasa Indonesia yang digelutinya sejak kuliah S1. Semua itu biasanya dikerjakan setelah selesai bekerja dan kuliah. Biasanya ia lakukan pada malam hari.

Mita sendiri mengaku memang bercita-cita ingin menjadi guru atau dosen. “ Yang jelas saya ingin menjadi guru. Entah guru siswa atau guru mahasiswa,” katanya tentang cita-citanya.

Saat ditanya pesannya bagi calon mahasiswa yang tidak mampu, Mita lugas menjawab: ”Saya percaya dalam hal ini: ‘Apa yang kita rasa tidak bisa, apa yang kita rasa tidak mungkin, ternyata itu bisa dan mungkin’.”

Karena itu dia meminta pada siapa pun untuk tidak berhenti berusaha. Karena tidak ada yang tidak mungkin selama seseorang berusaha. “ Karena itu jangan takut bermimpi,” tegasnya.

Walau tidak mudah, Mita Saputri telah membuktikan dia bisa merobohkan mitos bahwa bangku kuliah hanya tersedia bagi siswa yang ekonomi orangtuanya mampu. Mita sudah membuktikan sebagai anak buruh tani dan penjahit rumahan, dia bisa menyelesaikan pendikan sarjana melalui program Bidikmisi. Bahkan, kini dia tengah menempuh pendidikan Pascasarjana. Kalau bukan karena mimpi dan beasiswa Bidikmisi, apa lagi yang membuat Mita berhasil? (Uli)