Kisah Mengenaskan Lima Napi Menjelang Hukuman Mati

liputan6com/indolinear.com
Jumat, 10 November 2017
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Tak sedikit orang menginginkan hukuman mati dihapus. Bagi mereka, hukuman itu dianggap tidak manusiawi meskipun kejahatan yang dilakukan oleh pesakitan juga tak kalah kejinya.

Dalam sebuah eksekusi mati, diperlukan jalan panjang untuk mempersiapkan narapidana hingga algojo di kursi mati atau di tiang gantung. Baik itu persiapan materi maupun mental.

Tak sedikit para narapidana itu yang lunglai ketika bersiap menghadapi maut. Meski ada pula yang tak gentar menanggung segala risikonya, termasuk dibayar setimpal dengan nyawa atas kejahatan yang mereka perbuat.

Dengan segala kengerian yang dihadirkan ke dalam dunia oleh para terpidana mati itu, ada sisi-sisi lain diri mereka sebagai manusia.

Dilansir dari Liputan6.com (08/11/2017), berikut ini adalah sejumlah sisi lain para terpidana mati di saat-saat terakhir mereka.

  1. Terpidana Mati Paling Bahagia

Joe Arridy disebut-sebut sebagai “terpidana mati paling bahagia”. Ia memiliki kemampuan mental setara seorang anak berusia 6 tahun. Ketika diberitahu bahwa ia akan mati karena mengaku telah membunuh seorang remaja putri berusia 15 tahun, ia sama sekali tidak mengerti.

Arridy menghabiskan waktu menunggu hukuman matinya dengan mainan anak-anak. Yang paling disukainya adalah mainan kereta yang diberikan oleh sipir penjara. Narapidana itu bahkan tidak mengerti bahwa ia tidak bisa membawa serta mainan itu ke alam maut.

Angelo Agnes, tahanan yang bersebelahan sel dengannya, bertanya, “Ketika kamu tiada, Joe, maukah memberi keretamu itu untuk saya, ya?” Joe Arridy menggeleng, katanya, “Tidak, saya membawa kereta ini beserta saya.”

Ia kemudian berubah pikiran setelah sipir membiarkannya ke sel Agnes dan bermain kereta bersama. Dengan pikiran kekanakan, ia tersentuh karena ada kesempatan bermain bersama. Katanya setelah bermain, “Jika saya pergi, ya saya berikan kereta saya kepada Agnes.”

Tapi ia tetap tidak mengerti apa yang sedang ia hadapi. Hingga saat terakhirnya, Joe bersikeras bahwa orang-orang di sekitarnya hanya sedang bingung.

Ketika ibunya memeluknya untuk terakhir kali, ia hanya menatap dengan kosong. Ia tidak mengerti mengapa ibunya bersedih. Bahkan ketika para penjaga membawanya ke ruang gas, Arridy masih tampak tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Remaja putri yang menjadi korban pembunuhan itu ternyata dibunuh oleh pria lain bernama Frank Aguilar.

  1. Remaja Termuda di Kursi Listrik

Polisi di Columbia, South Carolina, mendapat tantangan sulit di suatu hari pada 1944. Dua anak perempuan, usia 11 dan 8 tahun, ditemukan tak bernyawa dalam suatu parit karena dipukuli menggunakan pipa besi ketika mereka sedang memetik bunga-bunga liar.

Kemudian polisi mendapat telepon dari seorang wanita renta yang cucu remajanya mengaku telah melakukan pembunuhan itu. Ketika George Stinney Jr yang berusia 14 tahun itu datang kepada polisi, ia membawa mereka ke tempat senjata yang dipakai untuk membunuh.

Katanya, “Saya sangat menyesal. Saya tidak ingin membunuh dua anak perempuan itu.”

Pengadilan Stinney hanya berlangsung selama 2 jam. Karena masih berusia 14 tahun, ia menjadi orang termuda yang dihukum mati pada Abad ke-20 di Amerika Serikat.

Ia ditahan dalam penjara yang berjarak 80 kilometer dari kota karena ada kekhawatiran warga akan memancungnya jika mereka menemukannya. Setelah masa tahanan selama 81 hari, ia digelandang ke kursi listrik.

Remaja itu terlalu pendek sehingga harus didudukkan di atas Alkitab agar kepalanya mencapai bagian pemegang kepala. Ia terguncang-guncang sangat parah ketika arus listrik mengaliri tubuhnya.

Sesaat sebelum meninggal, masker penutup muka yang dipakainya terlepas sehingga menampilkan wajahnya yang ketakutan kepada para saksi penghukuman.

Di masa kini, ada beberapa orang yang berpendapat bahwa remaja pria itu telah dijebak. Stinney dipulihkan namanya pada 2014, setelah disimpulkan bahwa pengakuannya berdasarkan paksaan dan ia dijatuhi hukuman tanpa proses peradilan yang sewajarnya.

  1. Terpidana Mati Malah Berniat Mati

Christopher Newton bertubuh besar dengan berat 120 kilogram sehingga algojo tidak dapat menemukan nadi ketika si terpidana akan disuntik mati. Terjadi pergumulan selama 2 jam hanya untuk mencari nadi, bahkan sempat ada rehat ke kamar mandi.

Eksekusi itu menjadi suntikan mati terlama dalam sejarah dan terpidananya pun malah sangat ingin mati karena Newton menjalani hidup sukar dan tidak bahagia.

Dengan demikian, ia sengaja meninggalkan jejak kejahatan setelah menerobos masuk rumah orang. Setelah di dalam penjara, ia memastikan mendapatkan hukuman mati dengan membunuh rekan satu sel begitu saja, tanpa ada alasan apa pun.

Ia membenturkan kepala rekannya ke lantai, menginjak-injak tenggorokannya, mencekiknya, dan tertawa-tawa ketika pada petugas menariknya menjauh. Ketika ditanyai, ia menolak menjawab semua pertanyaan hingga petugas berjanji menjatuhkan hukuman mati.

Ketika saatnya tiba, Newton malah terlihat nyaris bahagia. Dalam pernyataan terakhirnya, ia berguyon bahwa ia ingin “menikmati semur sapi” dan tertawa-tawa melihat pelaksana hukuman mati kesulitan mencari nadinya.

Perlu 10 kali upaya untuk membunuh Chistopher Newton. Akhirnya, setelah 2 jam, pelaksana hukuman mati berhasil menusukkan jarum ke nadi terpidana dan menyuntikkan racun penghukuman.

  1. Korban Menawarkan Pengampunan

Menurut pengakuannya sendiri, Mark Stroman adalah seorang supremasi kulit putih. Setelah peristiwa 9/11, ia merasa mendapat panggilan patriotik untuk membasmi musuh.

Jadi, pria yang menyebut dirinya “Arab Slayer” – si “Pembantai Arab” – memulai pembunuhan pada 15 September 2001. Korbannya adalah seorang pria Pakistan di dalam toko kelontong.

Enam hari kemudian ia masuk ke toko lain dan menembak Rais Bhuiyan, seorang Muslim dari Bangladesh, dengan menggunakan shotgun. Bhuiyan tertolong dan polisi berhasil menangkap Stroman setelah membunuh satu orang lagi.

Ketika diringkus, pria itu tidak merasa menyesal. Ia menyebut dirinya seorang patriot dan menghadapi hukuman mati sambil merasa dirinya sebagai pahlawan.

Di lain pihak, Bhuiyan tidak ingin membiarkan tersangkanya dihukum mati. Ia merasa imannya mengajarkan untuk mengampuni Stroman sehingga ia melakukan semampunya untuk menyelamatkan tersangka. Bhuiyan memulai suatu petisi dan mengajukan gugatan hukum sebagai upaya menyelamatkan Stroman dari hukuman mati.

Stroman dan Bhuiyan pun melakukan surat-menyurat. Melihat korbannya malah berusaha menyelamatkan dirinya, Stroman mengaku bahwa Bhuiyan telah mengajarinya untuk tidak membenci sehingga ia menghadapi maut “lebih siap daripada sebelumnya.”

Setelah bersusah-payah, Bhuiyan tidak berhasil menyelamatkan nyawa Stroman. Tapi, kalimat terakhir Stroman kepada dunia adalah kalimat yang telah diajarkan oleh Bhuiyan, “Kebencian menyebabkan kepedihan seumur hidup.”

  1. Cinta Ibu Kepada Anaknya

Nama Ted Bundy sinonim dengan kejahatan. Ia membunuh puluhan wanita dan tertangkap setelah membunuh seorang anak berusia 12 tahun. Tidak ada yang menyesalinya ketika Bundy meninggal, kecuali ibunya.

Louise, nama sang ibu, adalah seorang wanita yang saleh. Seperti ibu lainnya, ia mencintai putranya. Ia menolak percaya bahwa putranya melakukan semua yang diomongkan orang. Katanya, “Ted Bundy tidak berkeliaran membunuhi wanita dan anak-anak kecil!”

Namun, setelah putranya mengaku dan bukti-bukti terungkap, semakin sulit baginya untuk teguh pada pandangannya. Walaupun begitu, ia tetap membelanya sampai hari-hari terakhir Ted Bundy.

Pada hari penghukuman mati putranya, ibu Ted Bundy menelepon dua kali. Pertama-tama, ia mendapatkan kesempatan menyampaikan kata-kata terakhir kepada putranya.

Ia kemudian menelepon lagi untuk mengucapkan satu kata terakhir, “Kamu akan selamanya menjadi putraku yang berharga.” (Uli)