Kisah Lisa, Pasien Face Off Pertama yang Kini Jadi Pengusaha

FOTO: detik.com/indolinear.com
Minggu, 27 Juni 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Nama Siti Nur Jazilah atau yang dikenal sebagai Lisa kembali diperbincangkan. Wanita pertama yang menjalani operasi face off atau transplantasi wajah di Indonesia itu belakangan disorot karena kini berbisnis perhiasan. Sebelum jadi pengusaha aksesori, Lisa sempat menderita karena penyiraman air keras yang dilakukan oleh suaminya. Simak kisah hidup Lisa yang dilansir dari Detik.com (25/06/2021).

Penyiraman Air Keras

Siti Nur Jazilah atau Lisa mengalami peristiwa naas yang merusak wajahnya 16 tahun lalu. Pada 2004, Lisa disiram air keras oleh suaminya sendiri. Saat itu, dilaporkan bahwa Lisa tidak langsung menemui dokter untuk menyembuhkan wajahnya yang rusak hampir 90%. Sempat ditutupi selama beberapa tahun, suami akhirnya membawa Lisa ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya karena ia kesulitan bernapas akibat lubang hidup tertutup. Saat itu, ia mengaku disiram cairan pembersih lantai oleh temannya.

Operasi Face Off Pertama

Ketika melihat rusaknya wajah Lisa, dokter menawarkannya untuk dioperasi transplantasi wajah dengan teknik free flap. Kebetulan para dokter saat itu sedang mengembangkan metode tersebut dan semua biaya akan ditanggung oleh rumah sakit. Operasi ‘face off’ yang pertama kali dilakukan di Indonesia itu pun setidaknya dibantu oleh 42 dokter dari berbagai bidang.

17 Kali Operasi Wajah

Tentu operasi perombakan wajah tersebut tidak dapat selesai hanya dengan satu kali perawatan. Lisa butuh total 17 kali operasi untuk mendapatkan tampilan seperti sekarang. Ia pun dirawat selama tujuh tahun sebelum akhirnya dipulangkan pada 2014.

Belajar Selama Perawatan

Kepada Wolipop, Lisa mengaku mempelajari berbagai kemampuan selama dirawat di rumah sakit. Dibantu oleh para dokter, Lisa diberi bahan untuk belajar keterampilan seperti menjahit hingga menyulam yang bisa jadi sumber mata pencaharian setelah dipulangkan nanti. Dari sekian banyak keterampilan, ternyata membuat perhiasan adalah sesuatu yang jadi minatnya.

“Beberapa kali belajar macam-macam merasa memang sukanya yang ini, jadi dikembangin. Dulu pernah belajar jahit, masak, sulam, cuma nggak seberapa suka. Dulu belajarnya sendiri kan dikasih bahan sama dokter terus baca-baca dari buku. Kalau belajarnya sih caranya saja kalau desainnya kan sesuai bahan dan tren,” kata Lisa saat diwawancara Wolipop.

Merintis Bisnis Perhiasan

Selama di rumah sakit, wanita 36 tahun tersebut sudah mulai rajin membuat aksesori tapi tidak terlalu fokus karena masih ada operasi. Dua tahun setelah dipulangkan dari rumah sakit, ia pun akhirnya memulai keterampilan itu sebagai bisnis.

Lisa Jewelry Handmade yang dirintisnya sejak 2016 pun kebanyakan menawarkan kalung dan bros dari bebatuan. Untuk desainnya, wanita yang kini tinggal di Surabaya tersebut mengaku menyesuaikan dengan material dan tren. Sebelum pandemi Corona, Lisa sering memasarkan produknya di berbagai acara kedokteran hingga jadi langganan ibu-ibu pejabat.

Kondisinya Saat Ini

Lisa kembali jadi perbincangan karena dianggap sukses bangkit dari pengalaman buruknya. Ia pun mengaku kini kondisinya sudah jauh lebih baik. “Keadaannya sudah jauh lebih baik. Secara sosialisasi juga sudah membaik karena aku sudah tinggal di luar (rumah sakit) lumayan jadi sudah terbiasa. Sekarang sih nggak begitu ada kesulitan,” kata Lisa ketika dihubungi Selasa, (16/6/2020).

Ingin Jadi Motivasi       

Ketika diwawancarai Wolipop, Lisa mengaku ingin jadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain. Ia pun ingin membuktikan bahwa jika kita bisa menggali potensi pasti akan menemukan kesuksesan.

“Kalau aku kan secara akademi kurang. Aku cuma lulusan SMP jadi kalau bekerja di perusahaan itu nggak mungkin. Jadi aku ingin menunjukkan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang sesuai dengan talenta. Pokoknya kamu sukanya apa ya kamu jalani,” kata Lisa.

Ingin Dikenang Sebagai Pasien Face Off

Banyak media memberitakan Lisa sebagai korban kekerasan rumah tangga. Namun ia sendiri lebih ingin dilihat sebagai pasien ‘face off’. Lisa mengaku jika pengalaman tersebut merupakan sebuah trauma yang ingin dilupakan. Karena itu, wanita asal Malang itu tidak suka membaca atau menonton berita mengenai dirinya.

“Menurut saya itu membawa kenangan atau trauma itu kembali. Ya, paling nggak itu mengingatkan akan hal-hal yang ingin saya benar-benar lupakan. Sedangkan untuk memulihkan rasa trauma itu juga bukan hal yang mudah dan sepele, butuh waktu dan terapi yang lama. Itu menurut pribadi saya sebagai seorang yang real mengalaminya,” ungkap Lisa. (Uli)