Kisah Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan Merebut RRI Dari Tangan PKI

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 1 November 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Aksi PKI menculik dan membunuh para jenderal menjadi catatan kelam sejarah bangsa Indonesia. Bukan itu saja, pengaruh PKI juga sudah masuk ke tubuh ABRI (sekarang TNI).

Letnan Jenderal TNI (Purn) Sintong Panjaitan (80) adalah salah satu saksi hidup sekaligus pelaku sejarah saat peristiwa G30S/PKI terjadi. Dia masih ingat betul perjuangannya merebut berbagai wilayah kekuasaan PKI.

Jenazah para jenderal dan satu perwira ditemukan di Lubang Buaya. Kondisi sangat memprihatinkan. Sudah membengkak dan tak dikenali.

Ingin tahu sepak terjang Letnan Jenderal TNI (Purn) Sintong Panjaitan bergerilya melawan G30S/PKI? Dilansir dari Merdeka.com (30/10/2020), simak informasinya berikut ini.

Batal Berangkat Menyerang Serawak Akibat G30S/PKI

Kala itu, Sintong Panjaitan seharusnya melakukan operasi penyerbuan di wilayah Malaysia. Menjadi bagian dari Kompi Sukarelawan Pembebasan Kalimantan Utara dalam rangka Konfrontasi Malaysia. Namun operasi ini batal, karena PKI menyerang di beberapa titik dan mulai melakukan adu domba di dalam satuan TNI.

“Pada saat itulah pada tanggal 30 September terjadi G30S/PKI. Pagi-pagi kami diperintahkan supaya tidak bergerak kemana-mana, tunggu perintah baru,” kata Sintong dilansir dari channel YouTube Puspen TNI.

“Diperintahkan bahwa pasukan kami, pasukan yang siap operasi ke Serawak masuk satuan Kopassus. Karena waktu itu pakaian kami adalah pasukan sukarelawan, jadi yang diganti jaket loreng. Maka diperintahkan sewaktu-waktu untuk penempatan G30S/PKI,” imbuhnya.

Siap Menerima Perintah Menyerang PKI

Waktu itu, Sintong bersama timnya masih belum paham mengenai G30S/PKI. Masih sebatas mengetahui kabar, bahwa banyak jenderal TNI yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Meski begitu, diakui Sintong telah siap untuk ditempatkan di mana pun untuk menyerang kelompok pembantaian tersebut.

“Jadi yang kami lakukan pada saat itu adalah sesuai perintah, ada jenderal-jenderal yang diculik, tapi belum tahu di mana. Pada saat itu diperintahkan lagi, tim saya, pleton saya siap sewaktu-waktu digerakkan. Karena kita dulu tidak tahu kalau G30S/PKI, tapi pelaku pembunuhan pada para jenderal,” ucap Sintong.

PKI Berusaha Menyerang Melalui ‘Orang Dalam’ untuk Merebut Kekuasaan

Selain melalui media cetak, koran ‘Harian Rakyat’, PKI berusaha mencuci otak masyarakat melalui radio RRI. Anggota komunis sudah mulai menghasut Tjakrabirawa, pelindung presiden yang kini beralih nama menjadi Paspampres, demi memperoleh kekuasaan.

“Waktu itu sebetulnya kita sudah tahu dalam rapat itu juga, yang melakukan aksi pembunuhan dari Tjakrabirawa. Maka yang menjadi masalah utama adalah, kelihatannya ada perebutan kekuasaan. Dan ini ketahuan hanya melalui RRI, televisi pada waktu itu belum ada,” jelasnya.

Operasi Perebutan Kantor RRI

Aksi heroik Sintong semakin menuju puncak. Di bawah pimpinan Lettu Feisal Tanjung, kemudian berperan aktif dalam menggagalkan G30S. Bersama 1 Peleton, Sintong bertugas merebut kembali Radio Republik Indonesia (RRI).

Supaya siaran radio kembali ke tangan Indonesia, serta Kapuspen AD Brigjen TNI Ibnu Subroto dapat menyiarkan amanat dari Soeharto.

“Apa yang didengar RRI akan terpengaruh pada rakyat Indonesia. Akhirnya Kompi Tanjung siap merebut RRI,” ujar Sintong.

“Kami berangkat, setelah jam 6.30, kami memang melihat pasukan G30S/PKI berjaga. Kami dengan segera melakukan penembakan. Langsung mereka mengundurkan diri. Setelah itu kami masuk ke dalam dan menangkap semua orang yang ada di situ dan kru yang ada di dalam. Saya laporan ke komando, Pak Sarwo Edhie, bahwa RRI telah direbut,” jelasnya.

Diejek Anak Kampung Karena Letjen Sintong Bingung Mematikan Siaran

Sintong segera melapor pada atasan, bahwa pasukannya berhasil melakukan perebutan kembali RRI dari tangan PKI. Sayangnya, bukan pujian yang diperoleh, tapi perintah untuk lebih teliti lagi. Ternyata siaran PKI masih menggaung. Sintong yang kebingungan, sampai tersirat hendak meledakkan.

Tapi sontak diadang oleh salah seorang karyawan RRI. Sebab alat komunikasi tersebut sangatlah mahal. Sampai saat kembali ke markas, Sintong diejak anak kampung. Karena ternyata cukup dimatikan saluran utamanya oleh sang karyawan itu.

“Tapi yang anehnya waktu saya laporan, ‘Kau harus laporan yang benar’. Karena siaran PKI masih mutar terus’. Tapi saya cari sudah tidak ada orang lagi. Mau saya rusak itu RRI itu, tapi ada staf yang bilang ‘jangan pak’, langsung dia lepas kontaknya, biar siarannya berhenti,” imbuhnya.

“Iyalah yang benar, baru berhenti. Setelah berikutnya kita bicara gitu, sebetulnya pak, ‘Bapak memerintahkan saya menangkap orang yang ada di sana. Tahu-tahu bapak perintahkan hentikan siaran itu, hampir saya ledakan itu semua’. ‘Dasar orang kampung kau’, katanya,” jelas Sintong menceritakan.

Merebut Halim Perdanakusuma

Selain aksi heroik merebut kantor siaran RRI, ada pula perebutan kantor Telkom. Serta mengambil alih Halim Perdanakusuma. Sintong bersama beberapa Batalyon melakukan penyerangan, saling tembak dan menghadang pesawat untuk kabur dari bandara.

“Diperintahkan merebut Halim Perdanakusuma. Jadi waktu itu sudah jam sebelas malam saya rasa. Kami berangkat dari Kostrad menuju Halim Perdanakusuma. Setelah sampai, ternyata mereka dari Batalyon dari Jawa Timur yang pro komunis itu ada di sana. Jadi kami lama juga tembak menembak dengan mereka,” katanya.

“Setelah kita kuasai, maka pasukan Kopassus bisa paling depan. Jadi bukan hanya Batalyon dari pak Tanjung, pak Gentot, untuk melawan komunis yang ada di sana. Ada perintah, tidak boleh ada satu pesawat yang berangkat,” ungkap Sintong.

Jenazah Korban di Lubang Buaya Diangkat Usai Soeharto Datang

Sintong merasa curiga dengan salah satu lokasi yang diakui oleh para anggota komunis sebagai lubang tempat sampah. Setelah digali cukup dalam, akhirnya menemukan lokasi para jenazah. Pengangkatan jenazah baru dilaksanakan setelah  Soeharto datang ke lokasi.

Sayangnya, susah untuk mengenali para korban. Sebab kondisi sudah membengkak. Sehingga dibutuhkan otopsi untuk mengetahui satu per satu di RSPAD.

“Dari pertama penggalian sampai kita menemukan jenazah itu mulai dari jam 11 siang sampai jam 8 malam. Habis itu dihentikan karena Pak Harto ingin melihat pengangkatan jenazahnya. Setelah Pak Harto datang, diangkatlah jenazah. Angkatan Laut yang bergerak mengangkat, ada satu dari kita yang ikut,” jelas Sintong. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: