Kisah Korban Bom JW Marriot yang Sempat Ingin Bunuh Diri

liputan6com/indolinear.com
Kamis, 4 Februari 2016
loading...

Indolinear.com – Tony Soemarno, salah satu korban teror dan ledakan bom di JW Marriot, Kuningan, Jakarta Selatan, mengungkapkan bom yang terjadi di kawasan Thamrin mengingatkannya pada tragedi tahun 2003 silam itu. Tony berharap agar tak ada lagi korban teror di Indonesia.

“Sungguh menyakitkan saya di Rumah Sakit Pertamina selama 9 bulan,” kata Tony dalam acara masyarakat mendukung pemerintah menumpas terorisme yang digelar Hendropriyono Strategi Consulting (HSC) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat

Tepat di awal bulan ke-5 ketika dia dirawat di rumah sakit itu, Tony mengaku putus asa. Dia sempat ingin menghabisi nyawanya sendiri.

“Di toilet ada alat pembersih WC yang bisa saya minum. Selama 5 bulan di tempat isolasi tak bisa dijenguk siapapun,” kisahnya.

Namun keesokan harinya Tony mulai sadar. Meskipun tubuhnya tak lagi sempurna, dia yakin bahwa masih bisa berbagi bantuan dengan orang lain.

“Membasmi terorisme tidak bisa sepotong-potong, kita harus laksanakan dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Selang 6 tahun kemudian korban bertumbangan lagi di JW Marriot. Salah satu korbannya warga Belanda bernama Max Boon. Kejadian nahas itu menimpanya setelah sekitar 5 tahun dia mengabdikan diri membantu masyarakat Indonesia.

Max menceritakan saat itu Jalanan Kuningan, Jakarta Selatan, lancar tanpa hambatan. Max Boon dan sejumlah rekannya berjanji bertemu di Hotel Marriott untuk membicarakan sebuah bisnis. Pukul 07.00 WIB Max sudah sampai di lobi hotel. Namun tiba-tiba terjadi ledakan di dekatnya.

“Saya masih ingat pas kejadian. Saya tidak bisa bernapas kehilangan kesadaran. Setelah 2 menit saya sadar. Tapi tidak bisa berdiri karena kaki kiri saya sudah terpotong sampai lepas,” ujarnya.

Setelah sekitar 30 menit Max berupaya bertahan, akhirnya beberapa aparat keamanan membawanya ke rumah sakit. Saat itu Max sempat berteriak, “Saya cinta Indonesia!”

“Di rumah sakit kaki sebelah kiri saya dipotong, saya diantar ke Singapura, di sana kaki kanan saya dipotong, kaki kiri dipotong lebih tinggi lagi. Saat ini saya memakai kaki palsu,” imbuhnya.

Max sempat trauma dan frustasi. Hingga dia menanyakan kepada diri sendiri, mengapa masih mau hidup tanpa mempunyai kedua kaki.

“Ibu saya mengingatkan, walaupun nggak punya kaki, masih banyak yang bisa dinikmati di dalam kehidupan. Bukan korban pertama dan terakhir. Saya dikasih semangat untuk berjuang. Selama 3 tahun baru bisa berjalan tanpa tongkat tanpa apapun,” tuturnya, dilansir dari merdeka.com.

Max kini tetap beraktivitas seperti biasa persis sebelum dia menjadi korban ledakan. Max terlihat lincah meskipun tubuhnya ditopang dua kaki palsu. Rupanya kejadian yang merenggut kedua kakinya tersebut tidak membuat Max kapok tinggal di Indonesia.

Bersama dengan para korban lainnya, Max mendirikan Aliansi Indonesia Damai (AID). Dengan AID ini Max mencoba berbagi kisah, mengadakan sosialisasi dan pelatihan lewat diskusi, penyampaian pesan positif dan toleransi. (uli)