Kisah Jenderal AH Nasution Jadi Target Utama G30S PKI

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 3 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution merupakan salah satu perwira tinggi AD yang lolos dari peristiwa maut G30SPKI. Padahal, Nasution merupakan target utama dalam operasi tersebut.

Hal itu diketahui berkaitan dengan sikap dan pandangannya terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI). Terlebih, Nasution merupakan Menteri Pertahanan dan Keamanan yang merangkap sebagai Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi saat itu. Pengaruhnya dalam tubuh TNI dianggap masih sangat besar.

Saat disergap pasukan Cakrabirawa di kediamannya, Nasution berhasil meloloskan diri. Simak ulasannya yang dilansir dari Merdeka.com (01/10/2021):

Jenderal AH Nasution Target Utama G30SPKI

Dalam peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 atau G30SPKI, Jenderal AH Nasution disebut sebagai target utama dalam operasi tersebut. Pasukan Cakrabirawa diminta membawa Nasution dan enam Jenderal lainnya ke kawasan Lubang Buaya dalam keadaan hidup atau mati.

Menurut Agus Salim dalam bukunya berjudul Tragedi Fajar: Perseteruan Tentara-PKI dan Peristiwa G 30S, hampir dua pleton sendiri yang dikerahkan untuk menyeret Nasution ke Lubang Buaya. Itu merupakan jumlah pasukan lebih banyak daripada penjemput enam jenderal lainnya.

Agus Salim menyebut, Nasution sebenarnya merupakan target utama. Hal itu berkaitan dengan posisinya di TNI yang disinyalir cukup berpengaruh sebagai seorang jenderal senior.

Lolos Karena Tidak Bisa Tidur

Malam hari pada 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, diceritakan bahwa udara malam pada saat itu sangat panas. Hal itulah yang membuat Jenderal Nasution tak dapat memejamkan matanya untuk tertidur lelap karena terlalu banyak nyamuk.

Namun, hal tersebut justru menjadi salah satu alasan dirinya berhasil lolos.  Disebutkan bahwa dini hari, Nasution dan istrinya, Yohana Sunarti serta putri bungsu mereka Ade Irma Suryani mendadak dikejutkan oleh suara desingan senjata.

Pasukan Cakrabirawa dengan beringas memberondong siapa pun yang ditemuinya di rumah Nasution yang terletak di Jalan Teuku Umar, Gondangdia, Menteng, Kota Jakarta Pusat. Mereka datang dan ditugaskan untuk menyeret Nasution ke kawasan Lubang Buaya dalam kondisi hidup atau mati.

Nasution Berhasil Lolos

Karena belum tertidur dan menyadari kedatangan pasukan itu, sang istri yakni Yohana Sunarti dengan sigap langsung menggendong Ade Irma yang masih berusia 5 tahun dan meminta Pak Nas sapaan akrab Nasution untuk melarikan diri.

Nasution pun akhirnya berhasil kabur dengan melompat tembok rumahnya dari belakang. Sementara pasukan Cakrabirawa terus mencari keberadaan Nas di setiap sudut rumahnya. Mereka  memberondong rumah Nasution dengan tembakan. Saat inilah, anak bungsu Nasution tertembak di dekapan sang ibu.

Pasukan penjemput Nasution yang diketahui dipimpin Djahurup akhirnya hanya mendapati orang yang posturnya mirip dengan Nasution. Ia adalah ajudan Nasution, Pierre Andreas Tendean yang berpangkat Letnan Satu Zeni.

Pierre kemudian dibawa oleh para penyerang yang berpacu dengan waktu menuju ke Lubang Buaya. Ia dibunuh dan jasadnya dimasukan ke dalam sumur tua.

Nasution Keluar dari Persembunyian

Disebutkan jika saat melarikan diri Nasution pergi ke rumah Duta Besar Irak. Victor M Fic dalam bukunya, Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi menyebut, Nasution kembali ke rumah setelah 2 jam bersembunyi.

Ia kemudian bersembunyi di rumah tetangga hingga pukul 06.00 WIB pada 1 Oktober 1965. Sembari tertatih-tatih, dia kembali ke rumahnya melompat melalui pagar. Dia kemudian meminta ajudan dan iparnya untuk membawanya ke Departemen Pertahanan dan Keamanan.

Komandan Staf Markas Besar AD (Kostrad), Letkol Hidajat Wirasondjaja, Mayor Sumargono, dan iparnya, Bob Sunarjo Gondokusumo kemudian mengantarnya menggunakan mobil.

Pada hari yang sama, Nasution, mengirimkan kabar kepada Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto mengenai keadaannya. Nasution kemudian dibawa ke Makostrad untuk mengatur siasat penumpasan pemberontak G30S.

Kemudian, pada 4 Oktober 1965, ajudannya yakni Lettu Pierre Tendean dan enam jenderal TNI AD ditemukan di sebuah sumur berdiameter 75 sentimeter dan kedalaman 12 meter dalam keadaan tidak bernyawa di Lubang Buaya, Jakarta Timur. (Uli)