Kisah Inspiratif Guru Menggunakan Kaki Palsu Di Kudus

FOTO: detik.com/indolinear.com
Selasa, 14 September 2021
loading...

Indolinear.com, Kudus – Dengan kaki palsunya, seorang guru SMP di Kudus bernama Erikta Arysona (35) tak kehilangan semangat mengajar. Pria yang akrab disapa Erik ini mengaku memang tak selincah dulu sebelum kakinya harus diamputasi karena sakit Osteomielitis.

Kini pria yang merupakan warga Desa Burikan Kecamatan Kota, Kudus berjalan menggunakan kaki palsu dan membawa kruk. Di tengah kesibukannya Erik tetap semangat mengajar di SMP Keluarga Jl Yos Sudarso nomor 234 Desa Kaliputu Kecamatan Kota. Dia mengajar di SMP tersebut sudah sejak tahun 2016 lalu.

Erik mengatakan, pertama kali mengajar sejak tahun 2013. Sarjana pendidikan bahasa Indonesia ini pertama kali mengajar di SDN 3 Demaan. Namun pada saat itu Erik bukan menjadi guru bahasa Indonesia. Erik menjadi guru TIK dan pegawai TU.

“Saya bermula diawal tahun 2013, saya bermula SD 3 Demaan, saya mengajar bukan keahlian saya. Saya mengajar itu keahlian Bahasa Indonesia. Jadi di SD itu saya diberikan kelas mengajar, mengajar TIK di samping itu menjadi TU-nya,” jelas Erik saat ditemui detikcom di SMP Keluarga, Kudus, dilansir dari Detik.com (12/09/2021).

“Di situ pindah di SMP Taman Dewasa, di situ baru benar-benar sesuai ijazah saya. Di situ tidak lama, di tahun 2015 Yanbu’ul Quran Menawan. Di sana mengajar jam sangat panjang malam juga mengajar. Mengingat keterbatasan saya tidak berlama-lama dan juga jaraknya jauh, saya memutuskan sekolah lagi yang paling dekat,” sambungnya.

Pada tahun 2016, dia mengaku mulai mengajar di SMP Keluarga. Waktu itu kakinya belum diamputasi. Namun dia mengaku sudah sering sakit dan kaki kirinya mengalami kesakitan. Pernah suatu ketika kata dia, sempat sakit, tubuhnya panas. Meskipun demikian dia tetap mengajar.

“Tahun 2016 masuk ke sini itu pun sudah dalam keadaan sakit. Kalau sakit tidak bisa berdiri tubuh saya panas, tapi itu tidak membebani, saya tetap semangat saya untuk mengajar, karena memang hati saya untuk mengajar menjadi pendidik mengajar sangat senang,” kata Erik yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Hingga kata Erik tahun 2017 lalu, kakinya harus diamputasi. Pada saat itu juga dia mengaku sudah mengajar di SMP Keluarga. Setelah diamputasi saat mengajar memakai kruk dan menggunakan kaki palsu. Dengan kondisi tersebut malahan kata dia sebagai edukasi para siswa karena semua orang ada yang tidak sempurna.

“Saya pakai tongkat ya berdiri. Pertama mentalnya bagaimana? Anak-anak ngeri, gurunya tidak punya kaki. Namun ini malahan menjadi pengalaman saya untuk mengedukasi tidak semua orang itu sempurna tetapi bisa orang-orang lainnya,” ujar Erik.

Karena kondisinya tersebut, dia mengaku saat mengajar tidak segesit seperti guru pada umumnya. Saat mengajar pun dia harus menempatkan meja berada di tengah-tengah kelas. Tidak jarang dia juga mengaku berjalan mengelilingi muridnya di kelas.

Di tengah pandemi saat ini, kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Namun, kata Erik, ada beberapa siswa yang datang ke sekolah untuk mengambil tugas hingga karena di rumah tidak ada jaringan internet.

“Penyampaikan, untuk KBM tentunya tidak segesit bisa ke sana, ke sini, saya menempatkan meja di tengah. Kadang saya berjalan ke sana. Ini saya pakai kruk. Saya juga menulis pakai kruk saya tinggal satu, saya pegang, saya nulis, rasanya berat tapi itu saya hilangkan,” ujar dia.

Kini di usianya yang 35 tahun, Erik mengaku bersyukur. Karena tahun ini dia mengaku diterima sebagai seorang PNS. Rencananya dia akan pindah mengajar di Blitar, Jawa Timur. Erik pun mengajak teman-teman sesama difabel untuk semangat dan tidak mudah putus asa.

“Itu PNS saya umur saya di 35 tahun, dan selanjutnya tidak boleh lagi. Saya di sana tidak (di Blitar) tahu, inilah jalan hidup inilah mengajar anak-anak. Berdiri tidak pakai kaki sudah saya jalani,” ujar dia.

“Untuk teman saya difabel, itu jangan kendor, jangan patah semangat. Saya kok hidupnya gini. Apa yang kamu buat baik, balasannya baik. Saya mengajar tidak mikir bayaran berapa kesejahteraan berapa. Saya ikhlas saya masih bisa berdiri, bekerja, dan berkarya,” tandas Erik.

Terpisah, Wakil Kepala SMP Keluarga Kudus Heri Christanto mengatakan Erikta Arysona merupakan guru difabel satu-satunya di SMP Keluarga Kudus. Sosoknya begitu disukai siswa-siswinya.

“Pak Erik satu-satunya guru difabel yang ada di sini. Kita ada fasilitas penunjang bagi guru difabel,” tambah Heri kepada detikcom di kantornya. (Uli)