Kisah Gigih Nenek Penambal Ban Di Kudus Yang Menyentuh Hati

FOTO: detik.com/indolinear.com
Kamis, 2 Desember 2021
loading...

Indolinear.com, Kudus – Usia yang tak lagi muda lantas tak membuat Mbah Kasminah (70) di Kudus, Jawa Tengah untuk berpangku tangan. Nenek penambal ban yang mempunyai 10 cucu dan 2 cicit ini membagi kisah semangatnya.

Lokasi bengkel tambal bannya berada di jalan alternatif Kudus-Pati turut Desa Mejobo Kecamatan Mejobo. Lokasinya cukup strategis karena tepat berada di pinggir jalan.

Bengkel Mbah Kasminah cukup sederhana. Bangunan berdiri dari batu bata dan pintunya berupa seng. Di bengkelnya terdapat peralatan lengkap untuk menambal ban sepeda motor dan sepeda kayuh.

Tak hanya menambal ban, bengkel milik Mbah Kasminah juga menyediakan ganti ban baru dan oli baru. Di depan bangunan bengkel terdapat tulisan ‘bengkel tubles Mejobo, setel ruji, servis pit, dan ganti oli’.

“Saya Mbah Hj Kasminah warga Desa Mejobo Kecamatan Mejobo, usianya saja sudah 70 tahun,” kata Kasminah memperkenalkan diri yang dilansir dari Detik.com (30/11/2021).

Kasminah mengatakan meski usianya tidak muda lagi, dia masih bersemangat untuk tetap bekerja. Menurutnya bengkel miliknya merupakan bengkel untuk motor dan sepeda. Keluarganya sudah memiliki bengkel sejak tahun 1980an, tapi dulunya dikelola oleh sang suami.

“Ini bengkel ya sepeda, ya sepeda motor. Pokoknya motor ya motor, kadang ada sepeda ya sepeda. Dulunya yang kerja suami saya di sini,” jelas ibu enam anak ini.

Kasminah mengatakan dia bekerja menjadi tukang tambal ban sejak suaminya meninggal dunia pada tahun 2015 lalu.

“Suami saya sakit awalnya, sampai dua tahun, jadi tidak ada yang bekerja. Terus langsung saya nekat, ada orang tambal ban ke sini, saya belajar. Kalau rusak tidak saya minta ganti rugi. Terus ada orang lagi yang mau tambal, saya bilang orangnya (suami) saya sakit, belajarlah,” cerita Kasminah.

“Paginya terus, mulanya dapat satu, terus dapat tiga. Terus ada yang tambal ban sepeda di sini. Lambat laun kok terus bisa (menambal ban),” sambungnya.

Dia mengatakan awalnya bengkelnya terletak di depan rumahnya. Namun kemudian pindah di sebelah jembatan persis pinggir jalan alternatif Kudus-Pati turut Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo pada 2018 silam.

Kasminah mengatakan dia bekerja menambal ban mulai pagi sampai sore. Terkadang dia dibantu anak bungsunya bekerja di bengkel.

Mbah Kasminah bercerita dia masih senang bekerja. Apalagi ada banyak warga yang sudah mencarinya jika Kasminah tak tampak ada di bengkel.

“Karena yang bengkel ke sini masih senang. (Orang pada tanya) ‘Mana Mbah e, dari Golantepus, Mbah e mana, dari Temulus Mbah e mana’. Begitu,” ucap Kasminah.

“Kalau badannya sehat, Alhamdulillah, tetap kerja. Kalau sehari-hari tidak pasti ya. Tadi pagi sampai siang ini tadi ada 10 sepeda motor yang ngisi angin. Itu dapat uang Rp 20 ribu,” jelasnya.

Saat bekerja dia mengaku tidak malu ketika harus meminta bantuan pemilik motor pelanggan karena tenaganya yang renta, misalnya untuk membuka ban.

“Kalau tenaga saya tua, kadang minta bantuan sama pemilik sepeda. Seperti kalau membuka ban atau kalau perlu bantuan saya minta bantuan pemilik motor,” ungkapnya.

“Lalu untuk tambal ban itu Rp 10 ribu. Ban biasa dan ban tubles juga bisa,” sambung Kasminah.

Anak-anak Mbah Kasminah ternyata sempat melarangnya bekerja. Namun dia memaksa untuk tetap bekerja, meski pernah dia sampai pura-pura menutup bengkelnya agar tak diketahui anak-anaknya.

“Kalau anak saya datang, saya pura-pura tutup, cuma kalau (anak) sudah pergi ke Jepara, ke Jakarta, saya buka lagi. Masih senang kerja,” cerita Mbah Kasminah. (Uli)