Kisah Gadis Di Boyolali Rawat Ayah-Kakak Lumpuh Usai Ibu Wafat

FOTO: detik.com/indolinear.com
Rabu, 1 Juni 2022

Indolinear.com, Boyolali – Seorang gadis di Boyolali, Heppy Anjarwati (16), kini harus menjadi tumpuan keluarga setelah ibunya meninggal dunia setelah terpapar virus Corona atau COVID-19. Sedangkan ayahnya sakit stroke dan dua kakaknya mengalami kelumpuhan.

Hal ini dialami keluarga Pamuji Slamet (54) warga Dukuh Karang Lor, Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Istri Pamuji yakni Mujiyani (52) meninggal dunia sekitar 40 hari lalu setelah kena Corona.

Anak pertama Pamuji, Satria Jatmiko, mengalami kelumpuhan sejak lahir. Anak nomor dua, Bayu Heri, juga mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan lalu lintas, sedangkan Pamuji sendiri separuh tubuhnya mengalami kelumpuhan akibat sakit stroke.

Sehingga, kini untuk urusan rumah tangga bergantung pada anak nomor tiga atau anak bungsunya, Heppy, yang kini masuk kelas X di SMA Negeri 1 Boyolali. Setiap hari, Heppy mengerjakan pekerjaan rumah seperti menanak nasi, merebus air dan membersihkan rumah. Sedangkan untuk lauk dan sayur dibantu keluarga yang tinggal sebelah rumah.

“Untuk memasak nasi dan masak air ya anak bungsu saya itu. Untuk sayur dan lauknya biasanya beli atau dibuatkan saudara saya,” jelas Pamuji di rumahnya, dilansir dari Detik.com (30/05/2022).

detikcom menyambangi rumah keluarga Pamuji Slamet di Dukuh Karang Lor. Keluarga ini sedang duduk di teras rumah permanen miliknya. Pamuji untuk berjalan harus dibantu menggunakan kruk, sedangkan dua anak laki-lakinya tampak duduk di kursi roda.

Pamuji mengatakan, dia dan anaknya yang nomor dua masih bisa mandiri untuk mengurus dirinya sendiri. Hanya anak pertamanya, Jatmiko, yang harus dibantu orang lain, dari mandi hingga makan.

“Untuk makannya Jatmiko, saya yang nyuapi,” kata Pamuji.

Pamuji masih bisa beraktivitas menggunakan tangan kirinya. Pasalnya tangan dan kaki kanan mengalami kelumpuhan akibat stroke.

Pamuji mengungkapkan dia memiliki usaha penggilingan padi di belakang rumah. Dulu sebelum sakit stroke, usaha penggilingan padi dia yang menjalankan dan istrinya yang menjual ke pasar dan pelanggan.

Setelah dia terkena stroke, usaha penggilingan padi dijalankan istrinya dan anak laki-lakinya yang nomor dua, Bayu. “Setelah Bayu kecelakaan, semua dijalankan istri saya,” imbuhnya.

Namun cobaan kembali datang. Istrinya, Mujiyani, meninggal dunia kena COVID-19. Tulang punggung keluarga pun tidak ada. Usaha penggilingan padi juga tak bisa dijalankan.

Sementara itu, Heppy menceritakan ibunya meninggal pada 4 Agustus lalu. Setelah itu dia membantu mengurus ayah dan dua kakaknya.

“Ya dilakukan dengan sabar, seperti saya yang memasak,” kata Heppy.

Sementara itu Kepala Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Edi Nugroho, mengaku prihatin dengan kondisi warganya tersebut. Dia pun berupaya meringankan beban keluarga Pamuji Slamet. Untuk kebutuhan sehari-hari sudah bisa dibantu lewat program Jogo Tonggo.

“Juga ada bantuan rutin dari pemerintah. Namun itu tentu tidak cukup,” kata Edi.

Pihaknya masih terus berupaya mencari jalan agar Pamuji Slamet dan keluarganya memiliki sumber penghasilan. Setidaknya, usaha penggilingan padi bisa berjalan lagi sehingga keluarga ini bisa memiliki penghasilan lagi.

Bayu yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan itu juga menyatakan siap untuk melanjutkan usaha penggilingan padi keluarganya. Namun masih membutuhkan modal.

Sementara Camat Mojosongo, Tusih Priyanta, mengatakan pihaknya melakukan pendampingan kepada keluarga Pamuji Slamet. Sejumlah bantuan sudah diserahkan kepada keluarga ini.

“Kami dari Pemerintah Kecamatan Mojosongo dan Desa Jurug sudah berupaya, berikhtiar, membantu untuk pendampingan pemberian Jadup (bantuan jaminan hidup) setiap hari melibatkan tim Jogo Tonggo di lingkungan sekitar. Juga keluarga ini kita masukkan di BST (bantuan sosial tunai) maupun di PKH (program keluarga harapan) yang setiap bulan mendapatkan bantuan sembako dan juga bantuan keuangan,” ujar Tusih.

Melalui stakeholder, pihaknya juga telah memberikan bantuan dua kursi roda untuk Jatmiko dan Bayu. Pihaknya kini masih berupaya mencarikan beasiswa agar Heppy tidak kesulitan keuangan dalam menempuh pendidikan di SMAN 1 Boyolali. (Uli)

loading...