Kisah Florence Lawrence Dan Hoaks Yang Mengubah Dunia Hollywood

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Jumat, 30 Juli 2021
loading...

Indilinear.com, Jakarta – Hari itu, 19 February 1910, Florence Lawrence dalam perjalanan menuju tempat kerja. Iseng, ia membuka koran. Perempuan itu kaget bukan kepalang saat melihat foto dirinya disertai artikel obituari. Dia diberitakan telah meninggal dunia.

“Aku terkejut melihat kemiripan foto dengan diriku. Di atasnya ada judul flamboyan yang mengumumkan kematianku yang tragis, ditabrak trem yang melaju kencang,” kata Lawrence dalam sebuah artikel yang terbit pada 1914 di majalah Photoplay, dilansir dari Liputan6.com (28/07/2021).

Isi dalam artikel itu jelas dusta belaka. Namun, hoaks tersebut justru melambungkan nama Florence Lawrence. Pemain film itu bahkan kemudian dijuluki ‘first movie star’ alias bintang film pertama.

Jangan bayangkan pemain film kala itu hidup mewah seperti saat ini. Dulu, dunia layar lebar masih belia, dengan gambar hitam putih dan tanpa suara alias bisu. Para aktris dan aktor dibayar rendah. Keberadaan mereka juga tidak dihargai.

Nama-nama pemain bahkan sengaja dirahasiakan. Itu adalah trik para penguasa dunia perfilman. Alasannya, agar para artis tidak menggunakan ketenaran dan nama besar mereka untuk meminta upah lebih besar.

Kabar bohong itulah yang pertama menguak identitas Florence Lawrence. Ia bukan lagi wajah tanpa nama.

Penampilannya yang menarik, dengan rambut terang, bibir tipis, dan dagu belah sebenarnya sudah lama menarik perhatian publik. Apalagi, hingga 1909, perempuan asal Kanada itu sudah tampil di sekitar 50 film pendek, versi lain menyebut lebih dari 100.

Sebelum hoaks itu bikin heboh, penggemarnya mengenalnya sebagai “Biograph Girl”, julukan bagi para

Dalang Hoaks

Belakangan terkuak dalang hoaks itu adalah Carl Laemmle, produser yang kelak mendirikan Universal Pictures.

Sebagai upaya perlawanan atas dominasi Motion Picture Patents Company yang dimiliki Thomas Alva Edison, Laemmle mulai mengiklankan para pemain film yang baru direkrutnya, termasuk Florence Lawrence.

Dengan cara itu, pendapatan para pemain film akan meningkat, mereka pun diharapkan akan berpihak pada perusahaan Independent Motion Picture Co (IMP) miliknya.

Berita kematian Florence Lawrence adalah salah satunya.

Setelah artikel tersebut terbit di koran, Laemmle cepat-cepat membantah kabar bohong yang ia ciptakan sendiri. Ia memasang iklan berjudul ‘We Nail a Lie’.

“Nona Lawrence masih hidup, ia yang kini menjadi ‘IMP Girl’ sedang membintangi film barunya,” demikian cuplikan iklan itu. Lawrence disebut membintangi film baru The Broken Oath.  “Narasi kematian yang melibatkan trem adalah kebohongan paling konyol yang disebarkan musuh-musuh IMP.”

Strategi lain disiapkan Laemmle. Pada 25 Maret 1910, kereta yang membawa Florence Lawrence berhenti di Union Station, St. Louis.

Kerumunan orang menyambut sang artis, mendekat dan mengerubunginya. Situasi menggila saat para penggemar berupaya menyentuh sang idola.

“Para penggemar meluapkan kekaguman mereka dengan merobek kancing dari mantelnya, hiasan dari topinya, dan menarik topi dari kepalanya” kata penulis biografi Florence Lawrence, John Drinkwater.

Itu jelas peristiwa tak biasa. Bintang muda itu ketakutan, ia heran bukan kepalang. Kok bisa kerumunan orang menyambut seseorang yang hanya mereka lihat di layar?

Yang tak ia sadari, sanjungan dan semua hiruk pikuk yang menyambutnya melahirkan seorang bintang Hollywood, dirinya sendiri.

Sementara, sang produser, Laemmle mengawali apa yang kemudian menjadi sistem dalam dunia perfilman: kultus atau pemujaan untuk para selebritas.

Meninggal dalam Kondisi Tak Bahagia

Florence Lawrence makin terkenal, wajahnya tampil di sampul majalah film. Dia juga makin kaya, upahnya sekitar US$ 500 hingga US$ 1.000 per minggu. Sebagai perbandingan, sebelumnya ia mendapatkan US$ 25 per pekan.

Surat-surat penggemar mengalir ke alamatnya, sampai-sampai bikin petugas pos kewalahan.

Ketika para pengusaha film menyadari bahwa ketenaran artis, yang dulu dikhawatirkan ternyata menguntungkan, ramai-ramai mereka mempromosikan para pemain filmnya.

Di sisi lain, Lawrence sendiri adalah sosok cerdas. Ia menjadi perempuan pertama yang punya perusahaan film sendiri, Victor Film Company. Selain itu, perempuan kelahiran Ontario tersebut punya toko kosmetik, Hollywood Cosmetics, yang menjual produk rias untuk film.

Dia juga penemu ‘auto signaling arm’ yang jadi cikal bakal lampu sein kendaraan serta lampu rem.

Namun, kejayaan itu tak abadi. Insiden kebakaran di lokasi syuting pada 1915 membuatnya mengalami retak tulang punggung dan luka bakar. Selama berbulan-bulan kemudian, Lawrence syok parah. Dia kembali ke dunia film, namun kelelahan yang dialaminya membuatnya lumpuh selama 4 bulan.

Pada 1924, setelah menjalani operasi plastik, Florence Lawrence mencoba kembali peruntungannya di Hollywood. Dia hanya dapat peran di drama kelas-B dan pemeran pembantu.

Kehidupan pribadinya pun tak mulus. Lawrence menikah tiga kali. Semua berakhir dengan perceraian, yang salah satunya bahkan membuatnya jadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Toko kosmetiknya terpaksa tutup pada 1931. Dan karena ia tak mendaftarkan paten atas temuannya, namanya tak diakui. Lawrence sama sekali tak mendapatkan keuntungan. Kekayaannya lambat laun menyusut.

Pada tahun 1927, ketika bioskop tak lagi bisu, wajah-wajah tanpa suara seperti Florence Lawrence akhirnya memudar. Ia terlupakan.

Hidup Lawrence berakhir pada Desember 1938, di usia 52 tahun.

Ia ditemukan tewas di apartemennya, dengan catatan yang ditujukan pada Bob Brinlow, teman serumahnya. “Aku lelah, semoga ini berhasil. Selamat tinggal, sayangku. Mereka tidak bisa menyembuhkanku, jadi biarlah…,” demikian isi pesan itu.

Florence Lawrence dimakamkan di Hollywood Forever Cemetery. Di nisannya tertulis, “The Biograph Girl, The First Movie Star”. (Uli)