Kisah Emen Punya Tinggi Badan 2 Meter Lebih

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Sabtu, 24 Agustus 2019
Unik | Uploader Yanti Romauli

Indolinear.com, Riau – Remaja bernama Armenda Jamel (15) memiliki tinggi badan yang berbeda dari teman-temannya. Siswa kelas 1 di SMAN 4 Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir, Riau itu memiliki tinggi badan 2 meter lebih 6 sentimeter (2,06 m).

Emen, sapaan akrabnya, putra sulung dari pasangan Joko Kuswoyo (43) dengan Miharni (43). Satu keluarga itu berdomisili di Desa Banjar 12, Kecamatan Tanah Putih.

“Semakin hari, saya semakin heran dengan perkembangan tinggi badan Emen. Karena di keluarga kami tidak ada yang sampai setinggi itu,” kata Joko Kuswoyo saat dihubungi, dilansir dari Merdeka.com (23/08/2019).

Menurut Joko, tinggi badan Emen mulai terlihat beda sejak usia 10 tahun. Joko kaget dengan tinggi badan anak sulungnya yang lahir pada 22 Oktober 2003 itu.

“Saat Emen kelas lima SD, tingginya sudah sama dengan saya. Dua bulan lagi usia Emen memasuki 16 tahun. Sekarang dia masih kelas 1 SMA,” sebut Joko.

Joko menyebutkan, awalnya Emen sempat merasa tidak percaya diri dengan tinggi badannya yang berbeda dengan teman sebaya. Emen juga lebih sering menghabiskan waktu di rumah.

“Mungkin karena badan besar dan tinggi jadi kadang dia merasa minder,” kata Joko.

Joko bersyukur kepada Tuhan atas anugerah anak yang memiliki kelebihan. Terlebih belakangan ini Emen sering dikunjungi banyak orang, karena kabar beredar soal tinggi badannya.

“Alhamdulillah, saya diberikan anak seperti Emen, saya selalu bersyukur kepada Allah SWT,” ujarnya.

Joko terpaksa membongkar kusen pintu kamar, karena Emen terpaksa menunduk jika masuk lantaran ukuran badan Emen semakin meninggi.

“Kepala Emen sering kena atas tiang kusen pintu kamar. Jadi terpaksalah saya bongkar dan ditinggikan lagi,” kata Joko.

Akhirnya kepala Emen aman dari benturan kusen, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Namun, Emen masih tetap harus menunduk jika masuk rumah, karena kusen pintu rumah bagian depan tidak dibongkar.

“Tidak saya bongkar kusen pintu depan, jadi Emen harus nunduk kalau masuk dan keluar rumah,” cerita Joko.

Selain masalah pintu, Emen juga dihadapi persoalan ukuran baju dan sepatu. Ayahnya kesulitan menemukan ukuran pakaian maupun sepatu untuk Emen. Sehingga pakaian dan sepatu harus dibuat atau ditempah terlebih dahulu.

“Tapak kakinya ukuran 50, sepatu dan sendal harus ditempah. Baju sekolah dan baju sehari-hari juga harus ditempah dulu,” tandasnya. (Uli)