Kisah Eks Komandan Yang Sempat Berdebat Dengan Benny Moerdani

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 10 September 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Mantan Komandan tim operasi pembebasan sandera pesawat Garuda Indonesia DC-9 atau Woyla Letkol (Purn) Untung Soeroso (83) mengisahkan perdebatan singkatnya dengan mantan Panglima ABRI sekaligus Pangkobkamtib Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani, atau Benny Moerdani sesaat sebelum ia dan timnya menyerang teroris dalam pesawat tersebut pada Maret 1981 lalu.

Ketika itu Soeoroso yang masih berpangkat Kapten dan timnya telah tiba di Bangkok Thailand pada malam hari.

Setelah makan, ia dan timnya sempat diberitahu oleh komandan operasi itu yakni Letjen TNI Sintong Panjaitan yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel bahwa operasi tersebut dibatalkan.

Soeroso dan timnya kemudian diperintahkan untuk tidur atau beristirahat saja.

Namun sekira satu jam setelah perintah tersebut yakni sekira pukul 01.00, Soeroso dibangunkan untuk melakukan persiapan.

Saat itu ia dan timnya menggunakan sejumlah perlengkapan selain senjata antara lain rompi antipeluru, alat komunikasi, serta kacamata night vision.

Sambil bersiap-siap, teman-temannya pun ketika itu sempat ngedumel.

“Lalu ketika persiapan prajurit ngomel, itu biasa. Lagi enak-enak katanya suruh tidur, dibangunin. Ini juga Pak Sintong bohongin kita tidak jadi serangan mungkin biar kita tidak ketakutan,” kata Soeroso dalam tayangan Podcast Puspen TNI Episode 9 yang diunggah lewat kanal Youtube resmi Puspen TNI, dilansir dari Tribunnews.com (08/09/2020).

Setelah melakukan persiapan, Soeroso yang saat itu memimpin enam orang anggota timnya kemudian menuju pesawat yang berada di Bandara Don Mueang Thailand dengan menggunakan mobil.

Setelah tiba di sebuah lokasi, kemudian Benny yang berdasarkan info yang dihimpun ketika itu menjabat sebagai Asisten Intelijen Pertahanan Keamanan, menemui mereka.

Ketika itu, kata Soeroso, Benny kemudian memberitahunya kalau tugas tersebut akan mempertaruhkan nyawanya.

“So (Soeroso), kamu ditugaskan kali ini, tidak ada kata-kata kembali kalau kamu tidak sukses. Jadi kamu ini untuk berangkat tugas untuk tidak kembali,” kata Soeroso mengulangi pesan Benny kepadanya waktu itu.

Benny lalu bertanya padanya jam berapa ia dan timnya akan memulai aksi tersebut.

Soeoroso pun menjawab jam 04.00.

“Apa? Serangannya mau jam berapa?” kata Soeroso mengulangi perkataan Benny.

“Ya tidak tahu. Serangannya mau jam berapa, terserah,” jawab Soeroso.

Setelah keduanya diam, Benny memberikannya petunjuk dalam melakukan operasi tersebut.

Namun ia tidak mau mengikuti kata Benny dan menyampaikan maunya.

“Ini perhitungan saya Pak. Ya saya mungkin bisa berhasil karena pakai hitungan ini. Saya ke Utara dulu baru ke Timur. Kayak Pak Benny tidak mengerti saja. Saya nggremeng begitu rupanya Pak Benny dengar. Kata Pak Benny, wah kamu ini, memangnya saya seperti kamu apa, ya sudah kamu berangkat,” ungkap Soeroso.

Setelah perdebatan singkat yang dimenangkannya itu, sebagai komandan tim, Soeroso diperintahkan berada paling depan dan membawa tangga untuk membuka pintu depan pesawat.

“Di belakang nanti ada cadangan untuk kamu, Pak Bagyo. Karena adatnya pembajak itu orang pertama yang ditrmbak itu orang yang paling depan. Karena dia tahu, orang paling depan ini komandannya. Makanya kamu akan ditembak lebih dulu. Dan terus terang kamu akan mati orang pertama,” kata Soeroso mengulangi perkataan Benny kepadanya saat itu.

Soeroso pun mengiyakannya.

“Terus ini cadangan Pak Bagyo, kalau nanti ada suara tembakan, nanti Pak Bagyo lari ke depan, menggantikan kamu. Serangan kemudian yang memimpin Pak Bagyo,” kata Soeroso melanjutkan perkataan Benny kepadanya.

Soeroso pun melanjutkan ceritanya ketika berhadapan dengan seorang teroris yang berbadan lebih besar dan kekar darinya.

“Saya popor bangun lagi. Orangnya tinggi besar badannya kekar. Dia lari ke depan, waduh, dalam hati, ini bagaimana? Saya tidak boleh begitu, saya tembak bangun lagi, saya tembak lagi baru (wafat),” kata Soeroso.

Setelah penyerbuan yang berlangsung dalam hitungan menit itu selesai dan situasi bisa dikendalikan, ia pun kembali melapor kepada Benny dan meminta perintah selanjutnya.

“Pak Benny langsung nyelip saya masuk pesawat. Pak Benny di dalam, saya tidak berani masuk. Saya selaku pengendali. Kalau ada apa-apa, saya tidak mengerti di dalam. Tahu-tahu pilotnya dipikul keluar sudah mati,” kata Soeroso.

Soeroso kemudian tidak pikir panjang.

Ia kemudian memeriksa pilot bernama Kapten Herman Rante tersebut.

Soeroso mengaku khawatir Herman tertembak oleh anak buahnya ketika melakukan penyerbuan.

“Jangan sampai ada dugaan itu. Maka saya membuktikan. Saya bertanggung jawab sebagai komandan, ini tembakan siapa. Ya itu, saya raba ketemu lubang, tangan saya berdarah, saya cari di belakang, ketemu juga. Kemudian dibawa menjauh dari pesawat,” kata Soeroso.

Setelahnya, Soeroso kemudian naik ke pesawat dan menerintahkan anggotanya untuk mengeluarkan para penumpang.

Ketika itu, kata Soeroso, para penumpang berebut keluar.

Mengikuti nalurinya ia pun mengikuti penumpang keluar pesawat untuk berjaga-jaga jika ada teroris yang menyamar sebagai penumpang.

“Saya susul penumpang, satu, dua, tiga, empat, lima. Penumpang dari Amerika bilang, Mister, this is terorist, this is terorist. Saya tembak kakinya maksud saya, tembakan kaki itu luka, cacat, besok hidup, untuk menjadi peringatan luka itu didapatkannya ketika ia menjadi pembajak pesawat. Tidak tahunya mati, kehabisan darah,” kata Soeroso.

Setelah semuanya dipastikan aman dan tidak ada teroris yang tersisa, Soeroso diperintahkan kembali ke pesawat untuk briefing dan segera kembali ke Indonesia. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: