Kisah Dewi Nur Aisyah S3 Di Inggris, Bawa Anak Tanpa Pengasuh

FOTO: haibunda.com/indolinear.com
Selasa, 19 Juli 2022

Indolinear.com, Jakarta – Peran seorang ibu rumah tangga (IRT) tentu enggak mudah ya, Bunda. Tapi bagi Dewi Nur Aisyah, S.KM, M.Sc, PhD, DIC, seorang perempuan yang kemudian jadi IRT tetap bisa kok berdaya dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kini, Dewi sudah memiliki tiga anak, Bunda. Saat menjabat sebagai Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan COVID-19, lulusan S3 di Inggris ini hamil anak ketiga dan tetap bekerja hingga melahirkan.

Dewi masuk gugus tugas sejak awal Satgas terbentuk, tepatnya 25 Maret 2020. Saat tiga bulan pertama, anak keduanya baru berusia 1,5 tahun. Karena panggilan negara yang menyangkut nyawa banyak orang, ia minta izin dulu ke orang tua, suami, dan anak-anak.

“Izinkan Bunda untuk mengabdi untuk negara. Karena konsekuensinya pada saat itu, datang pagi dan pulang bisa jam 12 malam, atau jam 1 malam,” kenang Dewi Nur Aisyah, dalam seminar online Awesome Mom: Bertumbuh, Berkarya, dan Bermakna, dilansir dari Haibunda.com(17/07/2022).

Banner Ricky Soebagdja dan istri

Dalam acara yang digelar oleh Komunitas Bunda 1011 itu, Dewi juga bercerita bahwa kondisi Satgas saat itu hectic banget, Bunda. Pekerjaan yang biasanya diselesaikan dalam tempo sebulan, mereka harus selesaikan dalam sehari.

Tugas Dewi dan tim antara lain membuat Instruksi Menteri hingga Surat Edaran Ketua Satgas. Di tengah bertugas, ternyata Dewi hamil anak ketiga dan tetap bekerja. Bahkan, lima hari setelah melahirkan, ia sudah presentasi di rapat koordinasi nasional.

“Saya paham pasti lelah. Tahu lah rasanya bagaimana habis melahirkan, stres, capek banget, bayinya masih nangis, malam tidurnya sedikit. Tapi, itu adalah bagian dari komitmen saya,” tuturnya.

Ya, Dewi menganggap bahwa itu adalah bagian dari semangat dan dedikasi terhadap tugas negara. Saat berkomitmen memberikan yang terbaik untuk bangsa, dalam kondisi apapun pasti ia lakukan, Bunda.

“Ketua Satgas pasti meminta saya paparan di depan semua gubernur. Bisa tiba-tiba, Presiden meminta data dadakan dan dua jam harus selesai. Mau tidak mau, tetap kita kerjakan,” ucapnya.

Wah, ternyata sesibuk itu ya tugasnya. Selain pengalaman bertugas di Satgas, Dewi juga menceritakan perjuangan menyelesaikan studi S3 di Inggris. Ia ditemani sang suami dan membawa anak pertama mereka. Tanpa pengasuh lho, Bunda.

Kok bisa ya? Baca kisah Dewi di halaman berikutnya yuk

Dewi Nur Aisyah memang sudah berkomitmen akan menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Terbukti, ia mampu menyelesaikan S2 dan S3 di luar negeri, Bunda. Bahkan saat S3 di Inggris, ia membawa anak tanpa dibantu pengasuh.

Ketika itu, suami Dewi juga melanjutkan studi S3. Menurut pengalamannya, kuliah S3 jauh lebih fleksibel dibanding kuliah S2. Ia tidak harus kuliah setiap hari, tapi benar-benar dituntut jadi seorang peneliti yang independen.

“Saya S3 di Inggris bersama suami, kami sama-sama S3. Kami nggak pakai pembantu, nggak menitipkan anak di daycare,” ucap Dewi.

Bukan tanpa alasan, Dewi menganggap biaya menitipkan anak di daycare sangat mahal. Bisa mencapai 20 hingga 30 juta rupiah, Bunda. Sementara jika pakai jasa baby sitter juga mahal biayanya, malah hitungan gajinya per jam.

Dewi dan suami pun memutuskan mengerjakan semua berdua. Mereka membuat sub kalender jadwal ke kampus, jadi enggak mungkin bertabrakan jadwalnya. Sementara, anak mereka sekolah setiap hari harus diantar dan dijemput.

“Di Inggris, anak ke sekolah nggak boleh sendirian, harus ada pengantar dan dijemput. Jadi, kami harus ada yang stand by di rumah dan gantian,” ujarnya.

Jadi dalam seminggu, Dewi ke kampus hanya tiga hari, dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Ia menyelesaikan semua tugas di kampus karena prinsipnya, tak mau membawa pekerjaan ke rumah.

“Ketika di rumah, saya akan full sebagai seorang ibu. Kecuali kondisi sekarang saat pandemi, bertugas di Satgas memang beda dan banyak WFH (working from home),” katanya.

Dewi menyarankan, seorang ibu yang memutuskan kuliah lagi memang harus pandai-pandai mengatur waktu. Lalu yang tak kalah penting adalah dukungan suami, Bunda. Suami siap atau tidak jika Bunda lanjut kuliah dan butuh bantuan dia.

Terbukti dengan dukungan suami, Dewi bisa menyelesaikan kuliahnya. “Saat sidang S2, saya lagi hamil 5 bulan. Sedangkan saat sidang S3, saya juga lagi hamil 6 bulan. Jadi, sudah merasakan gimana hamil dalam kondisi pressure cukup tinggi untuk menyelesaikan amanah akademisi,” kenang wanita 31 tahun ini. (Uli)