Kisah Bos Sound System Banting Setir Jual Ubi Cilembu

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Senin, 23 November 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Jasa event organizer menjadi salah satu sektor yang paling terpukul sejak pandemi Covid-19. Maklum saja, pemerintah melarang semua orang menggelar acara yang menimbulkan kerumunan sehingga berpotensi menjadi klaster penyebaran virus corona.

Jadilah orang-orang yang bekerja pada penyedia jasa event organizer banyak yang nganggur, termasuk persewaan alat-alat sound system seperti yang dilakukan Atang Wijiyanto. Pria 37 tahun asal Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, itu merasakan tahun ini sangat berat karena agenda-agenda hiburan terpaksa dibatalkan.

Tapi, pria yang juga berprofesi sebagai MC kondang ini tak kering akal. Setelah satu bulan merenung, pria bernama panggung Tatang Delon ini mencoba peruntungan di bisnis ubi cilembu. Tak disangka, bisnis itu mampu membuat perekonomian Tatang membaik. Dia bahkan mampu menciptakan lapangan usaha bagi orang-orang di sekitarnya.

Penasaran bagaimana kisah Tatang selanjutnya? Simak ulasannya berikut ini! Dilansir dari Dream.co.id (21/11/2020).

Kehilangan Penghasilan Ratusan Juta

Pandemi Covid 19 yang masih melanda beberapa daerah di Indonesia termasuk Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta telah membuat industri kreatif jasa penyedia Event Organizer (EO) mati suri. Hal ini menyusul adanya larangan membuat keramaian dan membuat pesta pernikahan demi menekan penyebaran virus menular tersebut.

Adanya anjuran tersebut membuat Atang Wijiyanto sepi job sejak Maret silam. Pemilik usaha Event Organizer dan jasa sound system bernama Star Production di Kulonprogo tersebut mengaku banyak jadwal pemesanan yang ditunda bahkan dibatalkan.

Setidaknya 10 acara yang menyewa sound system miliknya dibatalkan. Padahal dari usahanya ini Tatang bisa meraup keuntungan hingga Rp100 juta per bulan.

“ Kan tidak boleh ada kerumunan, akhirnya banyak event dibatalkan. Hampir 10 job yang dibatalkan di saya sejak pertengahan Maret itu, baik pernikahan maupun juga event,” ujar Tatang saat ditemui di rumahnya.

Seorang Pekerja Seni

Tidak berlebihan jika mengatakan daerah Wates, Kulon Progo, adalah gudangnya pelaku seni. Selain memiliki usaha di bidang event organizer dan penyewaan sound system, rupanya Tatang merupakan seorang Master of Ceremony (MC) kondang.

Ia sering tampil di berbagai acara dengan gaya lawaknya yang membuat semua orang terhibur. Ia pun terbilang MC yang laris. Sayangnya, kesuksesan itu seketika berbalik saat pandemi merebak.

“ Saya seorang MC juga, MC di pernikahan, di berbagai acara. Tapi gara-gara corona ini semuanya harus berhenti sementara,” ujar Tatang menambahkan.

Nasib Pegawai Tatang

Rupanya sepinya orderan tersebut tak hanya berimbas pada Tatang, tetapi juga bagi pekerja. Beberapa pekerjanya pun terpaksa harus diistirahatkan. Pria kelahiran 22 Januari 1983 ini mengaku tidak bisa memastikan sampai kapan usaha miliknya akan berhenti operasi.

” Iya ada sekitar 6 orang karyawan yang saat ini masih harus dirumahkan karena memang tidak ada job sama sekali,” katanya.

Banting Stir Bisnis Ubi Cilembu

Pandemi yang tak tentu ini membuat Tatang hampir putus asa. Menurut pengakuan sang istri, Wasini, saat awal-awal Covid-19 menyerang kabupaten Kulon Progo, Tatang hanya menghabiskan waktunya dengan mancing ikan di sungai.

Seolah tak ingin larut dalam keterpurukan, pengusaha cerdik ini mencoba peruntungannya untuk berjualan ubi cilembu. Berbekal mobil pick up yang Tatang gunakan sehari-hari mengangkut sounds system, Ia keliling menjual ubi dari kampung ke kampung. Tidak ada rute pasti lintasan jualan Tatang, mangkalnya pun tak tentu.

“ Awalnya bingung mau ngapain. Bapak sebulan itu hanya mancing terus. Lalu dapatlah ide ini, (ubi cilembu),” ujar Wasini.

Penghasilan Puluhan Juta

Berjualan memang baru pertama Tatang lakukan. Tapi dia tak punya pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dalam perjuangannya meniti usaha, Tatang selalu memastikan barang dagangannya itu memiliki kualitas yang baik.

Dengan permintaan pasar yang terus meningkat, produk yang diberi nama unik ‘Ubi Cilembu Korban Corona’ itu mampu terjual sebanyak 50 kilogram perhari. Jika dihitung keuntungan Tatang dalam sebulan mencapai lebih dari Rp30 juta. Meski tidak sebesar penghasilannya di event organizer dan sound system, Tatang mengaku tetap bersyukur.

” Sehari habis sekitar 50 kilogram, ya lumayan meski keuntungannya jauh dibandingkan kalau sewa sound system,” ucapnya.

Membantu Orang-Orang Sekitar

Dari enam pegawai yang bekerja di tempatnya, beberapa ada yang ikut berjualan. Bahkan masyarakat sekitar tempat tinggalnya pun turut terbantu perekonomiannya setelah menjadi reseller ubi cilembu Tatang.

“ Alhamdulillah dari ubi cilembu oven ini bisa memberdayakan tetangga, jadi tetangga perekonomiannya ikut naik,” ujarnya.

” Gimana lagi, bagi pengusaha sound system ini seperti mati suri, dilakoni saja dulu yang penting bisa menyambung hidup sehari-hari dulu saja,” tambah dia.

Pesan Tatang

Tatang pun berpesan kepada seluruh pelaku usaha agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Menurutnya Covid-19 ini harus dihadapi dengan bijaksana. Terkait pandemic ini, menurut Tatang tak perlu ada pihak yang disalahkan. Asal punya tekad dan keinginan, semua akan mudah untuk dilalui.

“ Semoga ini bisa menjadi dorongan semangat dan motivasi bagi rekan rekan seprofesi, pengusaha sound, multimedia, panggung, tenda, Lighting, travel, pariwisata, para pekerja seni, para pekerja event dll.. Corona memang sudah menyerang secara akut terhadap emosi, batas kesabaran, akal sehat, dan kehidupan ekonomi kita,” ujar Tatang melalui pesan tertulis.

“ Tp kita jangan hanya diam, mari bergerak untuk bertahan dan menyambung hidup, lakukan apa yg bisa kita lakukan, jual bawang, jual semangka, jual tahu susu, jual kolang kaling, baik online atau offline, lakukan itu selama itu halal dan tdk kriminal..tdk perlu gengsi..kita pasti bs melakukan asal kita punya tekad dan kemauan untuk selalu bergerak,” lanjutnya kemudian.

“ Jangan bebankan pikiran kita yg sudah berat ini dlm menghadapi Covid 19, dengan menyalahkan berbagai pihak. Kita tidak bisa lari dalam keadaan ini, mari kita hadapi, kita harus selalu bergerak demi dapur kita,demi keluarga kita demi masa depan kita, tetapi jgn lupa kita jg harus mengikuti himbauan pemerintah,” tutup Tatang.

Namun seiring menurunnya angka penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kulon Progo, pemerintah kembali mengizinkan masyarakat untuk menggelar acara resepsi pernikahan. Meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, hal itu menjadi angin segar bagi Tatang. Kini usahanya mulai bangun dari mati surinya. Walau perlahan Tatang berharap Covid-19 akan segera berakhir dan masyarakat bisa menjalani kehidupan seperti sedia kala. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: