Kisah Ayu, Perjuangan Berat WNI Menjadi Petani Di Australia

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Rabu, 7 Agustus 2019

Indolinear.com, Australia – Ini kisah seorang WNI bernama Ayu Nuraida, yang pergi ke Australia dan berkerja sebagai seorang petani.

Setiap pagi hari Ayu Nuraida harus bangun sekitar 04.30 pagi dan memulai harinya dengan membuat sarapan dan bekal makan siang.

Ayu adalah peserta program Work and Holiday visa di Australia asal Yogyakarta dan kini bekerja di sebuah perkebunan anggur di kawasan Swansea, Tasmania.

Di musim dingin seperti sekarang ini, dia kebagian tugas untuk melakukan ‘prunning’, atau pemangkasan.

Bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga 16.00 sore, Ayu harus menembus dinginnya suhu di bawah 10 derajat Celcius, bahkan di pagi hari bisa mencapai 2 derajat Celcius.

“Karena musim dingin, jika hujan turun tanahnya menjadi mengeras dan kaki pernah menyangkut di dalamnya,” kata Ayu, dilansir dari Merdeka.com (05/08/2019).

Belum lagi saat dedaunan dan batang membeku, Ayu mengaku sulit memotongnya karena lebih keras.

Tapi Ayu tetap bersyukur karena inilah jalan yang telah dipilihnya. Sebuah mimpi yang jadi kenyataan, untuk bisa merasakan hidup di luar negeri.

Demi Kumpulkan Uang

Sebelum datang ke Australia bulan Maret lalu, lulusan Institut Seni Indonesia ini memiliki bisnis menjual seragam tentara dan bekerja paruh waktu sebagai pelayan di Yogyakarta.

Namun usaha yang dirintisnya sejak tahun 2011 semakin tidak menentu karena meningkatnya inflasi dan keadaan ekonomi yang tak kunjung membaik.

“Pendapatan saya di Indonesia malah seringkali minus, jadi ke sini [Australia] untuk memperbaiki keadaan uang, selain cari pengalaman,” ujarnya.

Dengan pekerjaannya di perkebunan Swansea, Ayu mengaku bisa mendapat bayaran hingga $700, atau sekitar Rp6,7 juta per minggu dengan waktu bekerja 35 jam.

Biaya hidup pun dia tekan serendah mungkin dengan menyewa sebuah kamar seharga $150, atau kurang dari Rp 1,5 juta per minggu dan uang makan yang dibatasi hingga $15, atau Rp 144 untuk tiga hari.

Menurut pengakuannya kepada ABC, pendapatannya telah mencapai angka $10.000, atau lebih dari Rp 96 juta dalam waktu empat bulan. Sebuah jumlah yang cukup besar untuk ukuran Indonesia.

Pekerjaan Neraka

Jalan yang ditempuh perempuan berusia 26 tahun ini saat pertama kali tiba di kota Hobart tidaklah mudah. Apalagi tanpa memiliki kenalan, apalagi teman. Ayu hanya berbekal informasi jika musim panen buah apel di Tasmania sedang berlangsung.

Dia mendatangi sejumlah perkebunan apel untuk menanyakan lowongan pekerjaan, tapi jawabannya selalu sama “apakah punya pengalaman?” atau “nanti diberi tahu ya kalau ada lowongan”.

Belum lagi pernah ada seseorang yang mengatakan kepadanya jika mencari pekerjaan di Tasmania cukup susah dan seharusnya dia pergi ke negara bagian lain untuk mencari pengalaman terlebih dahulu.

Tak putus asa, Ayu memutuskan meninggalkan kota Hobart dan pergi ke kawasan pedalaman Lanceston.

Lewat sebuah agen penyalur tenaga kerja, dia mengetahui ada perkebunan brokoli yang selalu membutuhkan pekerja.

“Saya tahu mengapa saya diterima, karena banyak yang keluar, tidak betah, karena sangat melelahkan,” ujar Ayu kepada ABC Indonesia.

“Pekerjaan neraka … ini pekerjaan pertama saya di pertanian dan yang paling terberat.”

Ayu bekerja di musim panen, yang artinya memetik brokoli, kemudian harus memindahkannya ke sebuah kontainer besar dan butuh waktu 20-30 menit untuk memenuhi kontainer tersebut.

“Dalam sehari ada 24 kontainer yang harus dipenuhi, saat melakukannya harus cepat dan berakhir dengan banyak yang cedera,” kata Ayu, yang juga sempat mengalami cedera lutut.

Wanita Diperlakukan Sama Dengan Pria

Dari pengamatannya, seringkali peserta WHV hanya terfokus pada negara-negara bagian utama Australia, padahal menurutnya ada juga kesempatan yang sebenarnya ditawarkan di pertanian Tasmania.

“Tasmania masih sedikit diketahui oleh teman-teman WHV dari Indonesia, tapi tetap saja cukup ketat bersaing dengan backpaker dari negara lain, bahkan orang lokal.”

Tantangan lainnya adalah cuaca yang lebih ekstrim dibandingkan di kota-kota lainnya, serta kurangnya sarana kehidupan, terutama transportasi umum.

Untuk mereka yang ingin bekerja di sektor pertanian, Ayu mengatakan kuncinya adalah memiliki kekuatan mental, terutama bagi para perempuan.

“Di sini laki-laki dan perempuan diperlakukan sama, memotong yang sama banyaknya dan sama besarnya,” kata Ayu yang sekarang bekerja dengan empat perempuan lainnya dalam satu kelompoknya.

“Meski kita [perempuan] lebih lemah secara fisik, tapi mental kita harus tetap kuat.”Ia mencontohkan salah satu temannya selalu mengeluh dinginnya cuaca di perkebunan.

“Saya katakan semakin ia mengeluh malah akan semakin terasa dinginnya, karena semua itu adanya dalam pikiran dan mental kita,” nasihat Ayu. (Uli)