Kisah Anak Sopir Taksi Yang Menjadi Raja Kasino Berharta Rp501 T

FOTO: detik.com/indolinear.com
Kamis, 30 September 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Sheldon Adelson adalah salah satu orang terkaya asal Amerika Serikat (AS) berkat jadi pebisnis judi besar. Lewat perusahaannya Las Vegas Sands, dia memiliki sejumlah kasino besar di Las Vegas, AS dan di Macau.

Pria yang lahir di Boston, pada 87 tahun yang lalu ini memiliki kekayaan bersih US$ 35,6 miliar atau setara Rp 501,96 triliun (kurs Rp 14.100/US$). Forbes mencatat dirinya berada di urutan 37 sebagai orang terkaya di dunia.

Meski kaya raya, kehidupan masa kecilnya tidak seenak yang dibayangkan. Dilansir dari Vyapaar Jagat, Jumat (18/12/2020), masa kecilnya serba pas-pasan karena lahir dari seorang ibu pengelola toko rajutan dan ayahnya seorang sopir taksi.

Pada usia 12 tahun dia memutuskan untuk memulai karir awal dengan meminjam uang dari pamannya US$ 200 untuk mendirikan kios koran kecil di Bostonattended City College of New York. Namun itu tidak berlangsung lama, dia sempat gonta-ganti bisnis lain seperti membuat mesin penjual permen, menjadi agen iklan koran, hingga menjual peralatan toilet.

Pada 1950, Adelson masuk ke perguruan tinggi di New York mengambil jurusan corporate finance. Namun studinya itu tak selesai dan lebih memilih bergabung dengan tentara AS, dilansir dari Detik.com (28/09/2021).

Tak lama setelah itu, Adelson mundur dari tentara dan mulai bekerja sebagai penasehat investasi dan broker. Di 1960, dia memutuskan kembali ke kampung halamannya di Boston.

Adelson kemudian investasi di perusahaan perjalanan. Sayangnya, di akhir 1960 pasar saham jatuh dan berimbas padanya. Namun dia tak gampang menyerah, justru berupaya agar bangkit dari keterpurukan.

Tahun 1979 bisa dibilang sebagai titik awal kesuksesan Adelson. Saat itu dia berhasil membangun bisnis dan mengembangkan perdagangan komputer COMDEX, yang merupakan karya wirausaha pertamanya. Karyanya yang luar biasa menjadikannya pameran dagang komputer teratas, hingga meluas ke kota-kota lain dan berlangsung selama bertahun-tahun.

Dari situ, kemudian Adelson mengembangkan bisnisnya dengan membeli hotel hingga kasino di Las Vegas. Seiring berjalannya waktu bisnis kasinonya terus berkembang hingga ke Singapura, Timur Tengah, dan Makau.

Pada 1988, Adelson membuka kasino pertamanya dengan membeli Casino Sands yang sudah tua dengan harga yang cukup murah. Kasino pertama ini sekarang merupakan salah satu dari banyak fasilitas yang merupakan bagian dari resor terpadu terbesar di dunia.

Pada 1991, Adelson bertemu istri keduanya, Miriam, yang merupakan dokter ahli dalam pengobatan penyalahgunaan narkoba. Empat tahun kemudian, Adelson menjadi salah satu dari dua orang Amerika yang menerima lisensi dari pemerintah China untuk memperluas kerajaan kasinonya ke Macau.

Pada 2010, Adelson membuka kompleks kasino senilai US$ 5,7 miliar di Singapura. Ini adalah kasino yang ada di Sky Park yang biasa dilihat dari Marina Bay Sands.

Lewat pundi-pundinya di Casino pulalah Adelson menjadi seorang filantropi dunia. Dia dan istrinya Miriam telah menyumbangkan puluhan juta dolar ke berbagai organisasi.

Pasangan itu mendirikan Adelson Foundation pada 2007. Mereka sangat bersemangat membantu Israel dan komunitas Yahudi, karena Miriam adalah keturunan Yahudi. Melalui yayasan ini, pasangan tersebut telah menyumbang setidaknya US$ 140 juta untuk Birthright Israel, sebuah organisasi nirlaba yang membayar orang Yahudi Amerika untuk melakukan perjalanan ke Israel dan belajar tentang warisan Yahudi.

Mereka juga sudah menyumbangkan US$ 3 juta kepada Hebrew SensiorLife, komunitas lansia yang tinggal di Massachusetts. Mereka juga telah memberikan jutaan dolar setiap tahunnya kepada Macabee Task Force, yang merupakan sekelompok orang dengan perjalanan ke berbagai perguruan tinggi di Israel dan di seluruh dunia untuk mendidik siswa tentang anti-Semitisme.

Adelson dan istrinya juga mendirikan sekolah swasta di Las Vegas, yang disebut Kampus Pendidikan Adelson. Meskipun tidak harus menjadi orang Yahudi untuk menjadi siswa di sana, mereka mengintegrasikan nilai-nilai Yahudi ke dalam kurikulum. (Uli)